Bumbu Dapur Ini Bisa Atasi Anosmia Covid-19

767

Probolinggo (WartaBromo) – Anosmia (hilang penciuman) adalah gejala khas pada Covid-19.an ini ternyata cukup mudah untuk sembuh, hanya dengan menggunakan bumbu dapur.

Juru Bicara Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica menyebut anosmia ditemukan pada lebih dari 77% penderita Covid-19. Gejala anosmia lebih banyak ditemukan pada penderita yang swab PCR-nya positif. Terkadang juga disertai gejala tidak bisa merasakan rasa makanan (Ageusia).

Anosmia juga sering terjadi pada saat flu, adanya sinusitis, adanya tumor di saluran pernapasan, dan lain-lain. Sebagian besar kasus membaik dalam beberapa minggu. Tetapi ada sekitar 15% kasus yang berlanjut hingga berbulan-bulan.

“Saat ini untuk mempercepat proses penyembuhan anosmia disarankan untuk melakukan latihan penciuman (smell training) menggunakan wewangian,” sebut dr. Dewi Vironica.

Latihan penciuman itu, kata Dewi, tidak ribet. Bahkan cukup memanfaatkan bumbu-bumbu dapur sebagai bahan pewangi. Seperti cengkeh, jahe, bawang putih, dan daun mint. Juga mawar, kayu putuh dan minyak jarak. “Dapat bumbu dapur lainnya, Dilakukan beberapa menit sehari, minimal 2 kali sehari,” tuturnya.

Dapat dipraktikkan dengan mudah di rumah. Caranya yakni duduk dengan rileks dalam ruangan yang tenang. Kemudian dekatkan bumbu yang digunakan ke hidung, lalu hirup perlahan sekitar 20 detik. Lakukan secara berulang-ulang dengan konsentrasi penuh.

“Konsentrasi pada apa yang dihirup. Dapat juga memilih sumber bau lain yang sudah dikenal sebelumnya seperti parfum. Bila yang dihirup adalah parfum, fokuskan pikiran pada ingatan seperti apa wangi parfum tersebut seharusnya,” terang ia.

Metode, latihan penciuman semacam itu, terbukti efektif untuk penyembuhan anosmia. Latihan ini akan memberi peluang saraf penghirup (indera penciuman) memperbaiki diri lebih cepat. Merangsang Saraf Olfaktori atau saraf kranial I yang merupakan sel reseptor utama untuk indra penciuman.

Penderita Covid-19 dengan gejala anosmia, dianjurkan melakukan smell training rutin 2 kali sehari. Maka dalam waktu kurang dari 5 hari, sudah dapat membau dengan sempurna. Latihan dapat dilakukan selama 3 bulan, tergantung lamanya gejala anosmia yang dirasakan.

“Tetapi harus dipahami bahwa agar fungsi saraf penciuman dapat kembali normal memang dibutuhkan waktu. Beberapa orang memang memperoleh hasil lebih lama untuk memperoleh hasil terbaik, sehingga jangan putus asa,” saran dokter berkacamata itu.

Dalam penanganan Covid-19, pihaknya saat melakukan pemeriksaan rapid tes di lapangan selalu menanyakan apakah ada gejala dalam 3 minggu terakhir. Meski sebagian besar semua menjawab tidak.

“Tapi saat saya tanya apakah pernah merasakan tidak bisa membau/merasa makanan? Sebagian besar menjawab iya pernah, tapi sudah sembuh beberapa minggu lalu,” ujarnya.

Dewi menerangkan bisa dibayangkan saat seseorang anosmia dan tanpa gejala, orang tersebut merasa dirinya masih kuat dan tidak sakit. Sehingga sering abai dan tidak melakukan protokol kesehatan 5M.

“Orang dengan anosmia tidak menyadari bahwa dirinya merupakan spreader (orang yang menyebarkan/menularkan virus),” tegasnya.

Ia meminta agar setiap orang anosmia, baik gejala maupun tanpa gejala, harus segera memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) terdekat. Agar dapat secepatnya dilakukan tindakan pencegahan dan pengobatan pada diri maupun keluarga. Karena setiap tindakan akan turut menentukan kapan pandemi ini berakhir.

“Jaga diri dan keluarga dengan waspadai gejala khas Covid-19, jangan kendor terapkan 5M-nya. Lebih baik jangan sampai terinfeksi, karena kita tidak tahu sampai kapan gejala tersebut bertahan di tubuh jika kita terinfeksi. Oleh karena itu, disiplin protokol kesehatan tetap vaksin terbaik saat ini,” pungkas dokter kelahiran Balikpapan Kalimantan itu. (saw/may)