Mengenal RAA. Soejono, Bupati Pasuruan, Satu-satunya Pribumi yang Jadi Menteri Belanda (1)

2864
Soejono bersama Presiden Filipina, Sam Ratu Langie, Bupati Bandung dan MH. Thamrin.

Tokoh yang satu ini jarang sekali, atau bahkan tak pernah terdengar sekalipun punya peran penting dalam perjalanan bangsa ini. Dia adalah Raden Adipati Ario Soejono, bupati Pasuruan sekaligus satu-satunya orang pribumi yang pernah menjadi menteri Belanda.

Laporan : Miftahul Ulum

DALAM sejarah, pahlawan dan pengecut kerapkali kabur. Baik oleh tafsir sejarawan, kubu, maupun terkaburkan oleh semangat zaman.

Sebut saja Untung Suropati, tokoh kebanggan Pasuruan yang paling terkenal. Dicap sebagai pengkhianat dan pemberontak oleh Belanda, namun harum di mata Bangsa Indonesia.

Ada juga Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), turunan Belanda-Jawa yang menjadi pahlawan nasional karena peran besarnya menggerakan nasionalisme sebelum kemerdekaan. Melalui Indische Partij, pahlawan kelahiran Pasuruan yang tersohor itu dikenang.

Baca: Douwes Dekker-Irawan Soejono, Kisah Dua Pahlawan yang ‘Tertukar’ (1)

Dari luar kedua namanitu, ada satu tokoh besar yang jarang sekali terdengar. Bahkan oleh masyarakat Pasuruan sendiri. Padahal, langsung atau tidak, ia punya peran penting dalam perjalanan bangsa ini. Tokoh dimaksud adalah Raden Adipati Ario Soejono.

Ia merupakan Bupati Pasuruan (1915-1927) yang diangkat menjadi Menteri Kerajaan Belanda Tahun 1942. Soejono bahkan tercatat sebagai satu-satunya orang jajahan (Hindia Belanda) yang pernah menjadi menteri di Kerajaan Belanda.

Nah, sebelum terburu-buru melabeli Soejono sebagai pahlawan atau pengkhianat, ada baiknya mengenali lebih jauh sosok fenomenal ini. Dalam buku Di Negeri Penjajah : Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, sejarawan Harry A. Poeze memberi ruang khusus untuk membahas tokoh satu ini.

“Tibalah saatnya untuk menunjukkan perhatian kepada satu-satunya menteri Indonesia yang pernah duduk dalam kabinet Belanda, yaitu Raden Adipati Ario Soejono,” tulis Sejarawan Herry. A. Poeze, dkk., membuka paragraf dalam narasinya tentang Soejono.

Baca juga: Douwes Dekker-Irawan Soejono, Kisah Dua Pahlawan yang ‘Tertukar’ (2)

Dijelaskan Poeze, jelang pendudukan Jepang, Soejono diperintahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk berangkat ke Australia membersamai Van Mook, sang Menteri Jajahan. Soejono diberi amanah sebagai penasehat tertinggi.

“Untuk menekankan adanya ikatan nasib antara Negeri Belanda dan Indonesia, tanggal 6 Juni 1942 Soejono diangkat menjadi Menteri Tanpa Portofolio,” ungkap Poeze.

Pengangkatan Soejono menjadi menteri, bukanlah keinginan tulus Belanda untuk menjalin hubungan baik dengan Indonesia. Menurut Poeze, pengangkatan Soejono dilandasi alasan untuk menunjukkan bahwa Belanda bukan negara kolonial yang reaksioner.

Meskipun demikian, sejumlah petinggi negara juga menaruh hormat pada Soejono. Dalam sidang kabinet pertama di mana Soejono hadir, Perdana Menteri Gerbrandy menyatakan bahwa duduknya Soejono dalam kabinet Belanda merupakan sesuatu yang bersejarah.

“Saat bersejarah, karena sekarang untuk pertama kalinya seorang putra Bangsa Indonesia menjadi anggota Pemerintah Belanda,” sebut Sejarawan asal Belanda ini menyitir kalimat Gerbrandy.

Meski terkesan sebagai ketidakmurnian, Soejono memanfaatkan betul jabatannya guna menjembatani hubungan kedua negara. Ia yang dikenal sebagai birokrat kolonial, seakan berbalik sikap. Sebagai menteri tanpa portofolio, Soejono mengajukan 2 nota tentang Indonesia pada Oktober 1942.

Dinyatakan Soejono, bahwa rakyat Indonesia sebagian besar memilili keinginan yang kuat untuk memutus hubungannya dengan Belanda. Oleh karena itu, pernyataan Belanda haruslah lebih jauh daripada sekedar menghargai persamaan posisi anyara Indonesia dan Belanda.

“Bagi Soejono, ini berarti pengakuan secara prinsip terhadap hak Indonesia untuk menentukan nasib sendiri,” urai Poeze.

R.A.A. Soejono.

Sementara itu, dikutip dari Historia.id, Joss Wibisono menyatakan bahwa motif Belanda menunjuk satu-satunya pribumi dalam jajaran kabinet Belanda adalah tidak murni. Maksud terselubungnya, menurut Wibisono karena pemerintah Belanda di pengasingan khawatir Amerika akan segan membebaskan Indonesia dari pendudukan Jepang.

“Dengan begitu Belanda tidaklah benar-benar berniat mengakhiri kolonialisme atau meningkatkan martabat rakyat Indonesia,” tulis Wibisono.

Kehidupan Pribadi, Birokrat Berdedikasi Nan Berprestasi

Joss Wibisono menyebutkan, Raden Adipati Ario Soejono diangkat menjadi Bupati Pasuruan tahun 1915, di tahun itu juga ia menikah dengan putri Bupati Purwodadi, Jawa Tengah. Selama menjadi Bupati Pasuruan, ia dikaruniai 4 anak. Yakni, Loes Soepianti (1916) dan Mimi Soetiasmi (1918); lahir pula dua anak laki-laki, masing-masing Irawan (1920) serta Idajat (1921).