Tanjung Tembikar dan Jejak Jalur Rempah Nusantara

941
Pelabuhan Pasuruan tahun 1898. Source: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Sebagai kota bandar, Tanjung Tembikar berperan penting dalam perdagangan rempah internasional. Tapi itu dulu. Kini, pelabuhan di Kota Pasuruan itu nyaris tanpa cerita. 

Laporan: Miftahul Ulum

NUSANTARA dikenal sebagai negara yang kaya. Limpahan sumber daya alamnya telah menjadikan negara kepulauan ini tercatat sebagai jalur niaga internasional yang popular dengan sebutan Jalur Rempah hingga menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa.

Meminjam istilah Anthony Reid, Indonesia atau Nusantara adalah bagian dari “Tanah di Bawah Angin.” Sebuah kawasan yang kini disebut Asia Tenggara. Jalinan niaga yang tinggi yang pada akhirnya menyatukan negara-negara di sekitaran kawasan tersebut, seperti ditulis Reid dalam bukunya, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680.

Jalinan niaga itu pula yang pada akhirnya membuat perekonomian berkembang pesat. Inilah yang kemudian menjadikan kota-kota di wilayah pesisir begitu hidup. Pelabuhan-pelabuhan yang tersebar di pesisir kepulauan nusantara, ramai oleh aktivitas perdagangan. Terutama pesisir pantai utara (Pantura) Jawa.

Sejarawan Universitas Diponegoro, Profesor Singgih Tri Sulistyo memberikan penggambaran betapa pentingnya peran pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantura Jawa. Bukan hanya dalam konteks perdagangan lokal antar pulau, tapi juga internasional. Salah satu di antaranya adalah pelabuhan Tanjung Tembikar, Kota Pasuruan.

Singgih menyebut, sebelum Kota Pasuruan resmi menjadi pemerintahan 1918, pelabuhan ini sangat ramai oleh aktivitas perdagangan. Itu karena pelabuhan ini tidak hanya melayani aktivitas perdagangan setempat. Tetapi, juga daerah di selatan Pasuruan. Seperti Malang dan sekitarnya.

‘Saat itu, Tanjung Tembikar lebih ramai daripada Pelabuhan Surabaya yang saat ini lebih besar. Pelabuhan Pasuruan termasuk dalam jaringan pelabuhan perdagangan internasional,” kata Singgih dalam tulisannya berjudul Peran Pantai Utara Jawa Dalam Jaringan Perdagangan Rempah itu.

Selain selatan timur Jawa, keberadaan pelabuhan ini juga berperan besar terhadap alur distribusi barang daerah Probolinggo dan Besuki (Situbondo), dua daerah yang memang berada di sisi timur Pasuruan.

Berkat pelabuhan ini, Pasuruan menjadi kota yang berkembang. Tidak hanya menjadi pusati jalur perdagangan, tetapi sekaligus titik temu manusia dan kebudayaannya. Denys Lombard, dalam bukunya Nusa Jawa Silang Budaya Jilid II menyebut, pada abad XVII Pelabuhan Pasuruan termasuk pelabuhan besar di Jawa Timur. Bersanding dengan pelabuhan Surabaya dan Giri (Gresik).

Hal ini diperkuat oleh Anthony Reid, dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 jilid 2 menyebut bahwa kota-kota pesisir di Jawa yang mengandalkan perdagangan harus takluk oleh Kerajaan Mataram Islam yang kala itu dipimpin Sultan Agung. Salah satu kota pesisir yang maju perdagangannya pada waktu itu adalah Pasuruan.

Sayangnya, kebijakan politik dari Sultan Agung yang mengingkan Jawa di bawah konsentris keratonnya membuatnya runtuh. Lasem dihancurkannya pada tahun 1616, menyusul kemudian Pasuruan di tahun 1616-1617. Praktis, di tahun-tahun berikutnya, hampir seluruh kota pesisir, seperti Surabaya, Tuban, hingga Madura di kuasai Sultan Agung.

“Untuk pertama kali dalam dua abad, pusat-pusat perdagangan di pesisir dikuasasi oleh sebuah dinasti pedalaman yang tidak mementingkan perdagangan,” ungkap Anthony Reid, seperpti dikutip dari Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 jilid 2, halaman 328.

Kenyataan itu menunjukkan bahwa Pasuruan sudah menjadi kota yang ramai bahkan sebelum pemerintah kolonial Belanda menekuk satu per satu kekuasaan di Nusantara. Sekalipun, Pasuruan pada akhirnya mampu kembali berkembang tatkala Untung Suropati menjadi Bupati Pasuruan atas titah dari Raja Mataram, Amangkurat II.

Nah, salah satu tujuan Untung Suropati ditempatkan Amangkurat II di Pasuruan adalah untuk mengamankan jalur perdagangan di wilayah Pasuruan yang kala itu banyak diganggu para bandit. Di tangan Untung Suropati pula, Pasuruan benar-benar menjadi wilayah strategis yang banyak diperhitungkan. Baik oleh Mataram maupun oleh VOC (Belanda).

Mengubah Wajah Kota

Pasuruan menjadi semakin ramai pada Abad XIX, terutama setelah kebijakan Belanda menerapkan Cultuur Steelsel atau Tanam Paksa. Lahan-lahan di Pasuruan diubah menjadi ladang tebu dan kopi. Sejumlah pabrik gula juga dibangun oleh pemerintah Belanda kala itu.

Bahkan, untuk menjamin keberlangsungan produksi gula itu, Belanda juga membangun POJ (Proefstation of Java), sebuah pusat penelitian gula di Pasuruan. Sampai saat ini, fasilitas yang kini telah berganti nama menjadi Pusat Penelitian Gula Indonesia (P3GI) itu masih berdiri kokoh.