Tanjung Tembikar dan Jejak Jalur Rempah Nusantara

548
Pelabuhan Pasuruan tahun 1911. Foto: Koleksi Universitas Leiden.

Keberadaan fasilitas itu pun kian mempertegas posisi Pasuruan dalam perdagangan gula dunia saat itu. Singgih, dalam makalahnya berjudul Peran Pantai Utara Jawa Dalam Jaringan Perdagangan Rempah, menyebut pelabuhan di Pasuruan menjadi pelabuhan pengumpan (feeder) dari pelabuhan Tanjung Perak yang merupakan pintu utama dalam jaringan ekspor gula pada masa itu.

Handinoto dalam Pasuruan dan Arsitektur Etnis China Akhir Abad 19 dan Awal Abad ke 20, menyebutkan bahwa Pelabuhan Pasuruan makin ramai di Abad XIX.  Pasuruan sempat dipakai sebagai kota pelabuhan untuk membawa hasil perkebunan tersebut langsung ke pelabuhan–pelabuhan di Eropa.

Kala itu, Pasuruan juga disebut sebagai kota ‘collecting center’, yang berfungsi sebagai wilayah distribusi dan perdagangan bagi hasil bumi dari daerah disekitarnya sepanjang abad ke 19.

Jauh sebelum itu, Pasuruan juga banyak disinggahi bangsa-bangsa asing. Misalnya, ditemukannya catatan etnis China yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 17 di Pasuruan.

“Bahkan menurut pengamatan Tombe, pelancong dari Perancis yang pernah mengunjungi komunitas China di Pasuruan pada tahun 1803 memperkirakan, penduduk China yang hidup berkelompok waktu itu, merupakan sepertiga dari penduduk Pasuruan,” tulis Handinoto dalam Pasuruan dan Arsitektur Etnis China Akhir Abad 19 dan Awal Abad ke 20.

Gambaran bahwa Pasuruan termasuk dalam jalinan Jalur Rempah nusantara semakin menguat. Terbukti dari catatan H.J. Domis, Regent Belanda yang ditugaskan di Karesidenan Pasuruan tahun 1830.

Catatan Domis menunjukkan, bahwa pada tahun 1829, penduduk Karesidenan Pasuruan mencapai 234.769 jiwa. Dengan populasi masyarakat yang heterogen, di mana tercatat ada 322 orang Eropa, 65 orang Arab, dan 930 orang Tionghoa.

Dapat disimpulkan bahwa Pasuruan pada masa itu telah berkembang menjadi sebuah kawasan yang maju secara perekonomian. Terbukti, dengan heterogenitas masyarakatnya, Pasuruan menjadi kota yang mampu menarik orang-orang untuk tinggal.

Domis sendiri menyebutkan, bahwa saat Untung Suropati berkuasa atas Pasuruan, menjadikan Pasuruan sebagai pusat perekonomian. Dan Bangil, wilayah sebelah barat Pasuruan semakin ramai di bawah kepemimpinan Adipati Wiranegara.

Keluar Jalur

Kota Pasuruan yang sempat menjadi kota bandar berbeda jauh dengan kondisi Kota Pasuruan hari ini. Pelabuhan sebagai pusat perdagangan mengalami kemunduran jauh. Pelabuhan Kota Pasuruan saat ini hanya menjadi pelabuhan lokal yang menjadi tempat bongkar muat ikan nelayan lokal.

Tak ada lagi kapal-kapal besar pengangkut komoditas ekspor-impor yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Tembikar. Dengan begitu, Pasuruan semakin terpental dari jalur rempah Nusantara pada penghujung abad XIX.

Di masa jayanya, sejumlah komoditas ekspor pernah dipertukarkan di Pelabuhan Pasuruan. Catatan Domis menunjukkan, Pasuruan tahun 1829, telah melakukan perdagangan komoditi rempah Lada sebanyak 2211 pikul.

Catatan Domis semasa awal menjabat sebagai Regent Karesidenan Pasuruan sangat penting guna menyingkap Pasuruan di masa lalu pernah menjadi salah satu kota yang termasuk dalam Jalur Rempah Internasional.

Domis merinci, pada tahun 1829, Karesidenan Pasuruan telah mengekspor sejumlah komoditas rempah, meliputi, kayu manis 141 pikul, lada 2,5 pikul. Selain komoditas rempah, yang menjadi penyumbang ekspor terbesar dari Pasuruan adalah kopi dan gula.

Kopi yang sebagian besar berasal dari Malang, dilaporkan mengekspor 80 ribu pikul dan gula 17 ribu pikul yang sebagian besar berasal dari Gempol, Rejoso dan wilayah timur Pasuruan. Itu pun belum termasuk komoditas yang masih tersimpan dalam gudang-gudang, yang mencapai nilai 916.369 gulden (kopi tidak termasuk hitungan).

Semakin kompleksnya peradaban, tentu menuntut kebutuhan akan barang yang lebih kompleks. Domis mencatat, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sejumlah barang impor masuk ke Pasuruan. Di antaranya, pakaian-pakaian Belanda Chitzen ribuan potong, sarung ratusan potong, kain ribuan lusin, dan sejumlah kebutuhan lain. di tahun itu, nilai impor di Pasuruan mencapai 1.986.605 gulden.

Paparan dari Domis menunjukan bahwa Pasuruan telah berkembang menjadi sebuah kota ramai. Baik dalam perdagangan di Nusantara maupun Internasional, maupun dalam hal kebudayaan.

Dalam perkembangannya, Pasuruan semakin ramai, terutama pasca tanam paksa tahun 1830. Tebu menjadi salah satu komoditas utama yang harus ditanam di Hindia Belanda, terutama di Pasuruan. Berkat perkebunan tebu dan industry gula, Pasuruan menjadi semakin ramai.