Tanjung Tembikar dan Jejak Jalur Rempah Nusantara

548
P3GI di Jalan Pahlawan, Kota Pasuruan. Gedung peninggalan Belanda itu masih berdiri kokoh hingga kini. Foto: Arsip WartaBromo.

Handinoto dalam Pasuruan dan Arsitektur Etnis China Akhir Abad 19 dan Awal Abad ke 20 menyatakan, sejak tahun 1867, sudah dibangun jalan kereta api Surabaya – Pasuruan.

Ditambah dengan pelabuhan lautnya, maka infra struktur yang baik sebagai salah satu syarat bagi sebuah kota sudah bukan masalah bagi Pasuruan. Tidak heran kemudian daerah itu dulunya bernama ‘passer oeang’ yang kemudian berubah menjadi Pasuruan, karena memang menjadi tujuan perdagangan bagi daerah sekitarnya.

Namun demikian, dengan beroperasinya tram dan kereta api di Pasuruan yang menghubungkan Pasuruan dengan Surabaya, kapal-kapal dagang sudah semakin jarang  singgah di Pelabuhan Tanjung Tembikar. Surabaya telah mengambil alih sebagian besar jalur perdagangan di Nusantara bagian timur. Sehingga, Pasuruan semakin terpental dari jalur rempah Nusantara.

Lakukan Revitalisasi

Pelabuhan Tanjung Tembikar yang pernah jaya pada masa lalu, coba dikembalikan oleh pemerintah setempat. Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf melalui program Pasuruan Kota Madinah memiliki visi untuk merevitalisasi pelabuhan Kota Pasuruan.

Untuk itu, Gus Ipul, sapaannya membahas rencana ini dengan PT Pelindo III. Pertemuannya dengan Pelindo bermaksud untuk menjalin kerjasama penataan Pelabuhan Tanjung Tembikar.

Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur tersebut memaparkan, Pelabuhan Tanjung Tembikar akan disulap menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Pasuruan. Dengan memperbaiki dan memperindah trotoar di jalur menuju pelabuhan. Selain itu, di pelabuhan akan dibangun kawasan kuliner, dan kawasan wisata bahari dengan wisata mangrove.

“Perentangan sungai juga akan dipasang lampu hias aneka warna dan bentuk. Perahu nelayan tradisional di Pelabuhan Tanjung Tembikar juga akan dicat indah warna-warni,” jelas Gus Ipul dalam keterangan pers yang diterima WartaBromo, Selasa (27/04/2021).

Tak hanya menjadikan pelabuhan menjadi destinasi wisata. Wali kota juga memiliki rencana, bahwa Pelabuhan Tanjung Tembikar segera berubah status dari pelabuhan pengumpan menjadi pelabuhan pengumpul. Dengan harapan, pelabuhan tersebut bisa melayani angkutan lebih luas lagi, seperti di masa lalu.

Sementara itu, pihak Pelindo mengapresiasi rencana dari Pemkot setempat untuk merevitalisai Pelabuhan Tanjung Tembikar. “Akan kita matangkan dan kita gali potensi di Tanjung Tembikar seperti apa. Nanti kita ketemu lagi,” kata Direktur Operasi dan Komersial PT Pelindo III Putut Sri Muljanto.

Mengembalikan Kejayaan

Kejayaan masa lalu tidak hanya untuk dikenang saja, melainkan sebagai spirit untuk menatap masa depan. Termasuk Jalur Rempah di Pasuruan.

Ahmad Ryan Pratama, Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Jember memaparkan, revitalisasi jalur rempah bisa ditempuh dengan sekian cara. Salah satunya dengan menata ruang-ruang publik yang diisi dengan komoditi rempah.

“Seperti cengkih, lada bisa dikulturkan di ruang-ruang publik atau diberikan space di taman Pasuruan, yang nantinya bisa diobservasi oleh siswa,” kata Ryan kepada WartaBromo, Jumat (10/9).

Tak hanya pembangunan infrastruktur, Ryan menjelaskan, pemerintah setempat harus menggalakkan penelitian dan seminar sejarah Jalur Rempah Pasuruan. Sebagai landasan bagi pemerintah untuk mengembalikan kejayaan tersebut.

“Jalur rempah ini harus dikaji secara historis, nah nantinya disisipkan sebagai pelajaran suplemen kurikulum sejarah lokal di Pasuruan,” imbuhnya.

Hal ini, juga harus ditopang oleh kesadaran masyarakat yang peduli terhadap sejarah Pasuruan. Menurut dosen alumnus Universitas Airlangga ini, komunitas sejarah di Pasuruan harus berperan dalam menelusuri jejak peninggalan perdagangan di masa lalu dalam kaitannya dengan jalur perdagangan rempah.

Sehingga memperkaya khazanah literatur sejarah lokal Pasuruan, sekaligus mendukung pemerintah pusat untuk menjadikan jalur rempah sebagai warisan dunia.

Menurut Ryan, dalam upayanya mengkampanyekan revitalisasi Jalur Rempah, pemerintah setempat bisa menyelenggarakan pameran Jalur Rempah di Pasuruan. Termasuk di dalamnya koleksi-koleksi terkait Jalur Rempah di Pasuruan kaitannya dengan titik-titik lain di Nusantara sebagai jalinan Jalur Rempah Nusantara.

Selain itu, jika ingin serius merevitalisasi Jalur Rempah, pemerintah setempat bisa menganggarkan dana dari APBD untuk penelitian jalur rempah. Sehingga menjadi basis dalam pengambilan kebijakan untuk merevitalisasi Jalur Rempah dan memanfaatkan kejayaan masa lalu sebagai pedoman pembangunan di masa depan.