Tanjung Tembikar dan Jejak Jalur Rempah Nusantara

548

Optimalisasi Komoditi Rempah

Laporan WartaBromo tahun 2020, menunjukkan bahwa Kabupaten Pasuruan, tetangga Kota Pasuruan menghasilkan 372,73 ton cengkih tiap tahun. Ratusan ton cengkeh ini dihasilkan dari 10 kecamatan dengan luas lahan sekitar 1.300 hektar.

Kesepuluh kecamatan itu adalah Tutur, Purwodadi, Purwosari. Kemudian, Kecamatan Sukorejo, Puspo, Pandaan, Lumbang, Pasrepan, Kejayan, dan Prigen. Bahkan, produksi tahun 2020 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang sebesar 367,65 ton.

Sayangnya, harga cengkih di tataran petani acapkali tak pasti. Hal ini yang membuat para petani gamang. Wahyudiono dan Rusmini, pasangan petani cengkih asal Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan aalah satunya.

“Ya bagaimana sekarang cuma Rp 50 ribu per kilo, dulu bisa Rp 90 ribu, tidak tahu kenapa,” ungkapnya.

Di kawasan Ledug sendiri, dijelaskan Wahyudi, cengkih pertama kali diperkenalkan tahun 1982 silam. “Dulu itu pak Diran, beliau mantan tentara. Karena lihat di daerah lain berhasil, ia mengajarkan keahlian berkebun cengkih ke warga, dari menanam sampai panennya,” terangnya. Hingga kini, ada 125 warga Ledug yang mengandalkan pendapatannya dari berkebun cengkih.

Wahyudi mengungkapkan, pada masanya, komoditas satu ini pernah mengalami masa emasnya. Yaitu sekitar 4-5 tahun lalu, harga cengkih tembus hingga Rp 90-100 ribu per kilogramnya. Kini, harga turun separuhnya. Cuma Rp 50 ribu setiap kilogramnya.

Dalam beberapa tahun terakhir harga cengkih tak pernah stabil. Paling banter di kisaran Rp 70-80 ribu rupiah. Menurut Wahyudi, ketatnya kebijakan pemerintah perihal rokok menjadi penyebabnya. Akibatnya, banyak perusahaan rokok kecil yang guling tikar. Dalam situasi seperti itu, harga cengkih lebih banyak dikendalikan pabrikan rokok besar.

Sebab lainnya, karena mekanisme pasar sebagai akibat menurunnya permintaan pasar lantaran banyak pabrik rokok kecil tutup tadi. Sementara persediaan melimpah.

“Pabrik yang menentukan harga, dulu pabrik kecil ada, harga cengkeh bisa bersaing, sekarang tinggal yang besar, ya sudah memonopoli harga. Mau bagaimana lagi,” terangnya.

Pemerintah sendiri dinilai Wahyudi kurang berperan dalam upaya perlindungan terhadap petani cengkih. Kegiatan-kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan kapasitas petani terkait hama dan penyakit cengkih jarang dilakukan.

Praktis, tak banyak yang dilakukan petani ketika terjadi serangan hama atau penyakit. Padahal, jika dibiarkan, lama-lama pohon akan mati.

“Kalau hama ada, lah ini contohnya, batangnya berlubang-lubang, ya karena tidak tahu cara mengatasinya, pokoknya petani menutup lubang saja, tidak menyelesaikan juga sebenarnya,” jelasnya sembari menunjukkan batang pohon cengkeh yang berlubang dan meneteskan air bening.

Dalam publikasi Kementerian Pertanian tentang Pengendalian Terpadu Hama Penggerek Batang Cengkeh, disebutkan bahwa Penggerek Batang Cengkih (PBC) seperti yang dikeluhan Wahyudi, masuk ke dalam batang sampai ranting dan berubah bentuk menjadi larva. Jika dibiarkan, larva tersebut bisa merusak dan mematikan pohon.

“Kerusakan tersebut mengakibatkan mahkota daun cengkeh berubah dari hijau ke kuning, daun meranggas, dan jika serangan berat maka tanaman bisa mati,” tulisnya dalam Majalah Sirkuler tahun 2017.

Terakhir, di luar soal penyakit cengkeh, Wahyudi berharap pemerintah bisa mengambil peran dalam penentuan harga. “Masalahnya cuma itu, kalau harga bagus, petani sedikit bisa merasakan kesejahteraan,” tegasnya. (asd)