Hal-Hal yang Dipercaya Orang Jawa, Supaya Bisa Cegah Hujan

506

Pasuruan (wartabromo.com) – Suku Jawa tak cuma dikenal dengan budaya khasnya, tetapi juga sebagai suku dengan mitos paling beragam. Salah satu mitos yang lekat dipercaya adalah beberapa hal bisa dilakukan untuk cegah hujan.

Entah fakta atau mitos, nyatanya tak sedikit orang yang percaya dengan beberapa hal tersebut. Bahkan, banyak juga yang melakukannya untuk kepentingan tertentu, seperti yang hendak punya hajatan dengan melibatkan orang banyak.

Dinukil dari beberapa sumber, ini hal-hal yang dipercaya bisa cegah hujan:

1. Lempar Nasi Bego ke Atas Genteng

Melempar nasi Bego ke atas genteng dipercaya oleh masyarakat di Jawa Tengah. Bahkan, salah seorang pawang hujan asal Sleman, Yogyakarta, Mbah Slamet Subarno memberikan tips cegah hujan dengan nasi Bego.

Baca Juga :   Ini Hewan yang Dipercaya Sebagai Mitos Jelmaan Manusia

“Lebih bagus lagi, kalau yang punya hajat sebelum melempar nasinya berpuasa selama tiga hari tiga malam. Insya Allah hujan akan pindah. Tapi yang sering terjadi begitu acara selesai dan tuntas, hujan turun deras,” ujar Mbah Slamet dilansir dari merdeka.com.

2. Lempar Underwear Bekas ke Genteng

Sama seperti melempar Nasi Bego, melempar celana dalam bekas ke genteng juga dipercaya masyarakat Jawa bisa cegah hujan. Hal ini kebanyakan dipercaya oleh orang-orang di Jawa Timur.

Biasanya, upaya melempar celana dalam bekas ke genteng ini dilakukan oleh pengantin wanita ketika akan melangsungkan pesta pernikahan. Tapi, berdasarkan kepercayaan celana dalam yang dilempar harus yang bekas dipakai. Hmm, Bolo percaya?

Baca Juga :   Dianggap Seram, Sebaiknya Jangan Simpan Benda Ini di Rumah

3. Menancapkan Lidi ke Tanah

Cara satu ini juga tak asing di dengar dan didapati di kalangan orang Indonesia. Cara mempraktikkannya juga cukup unik, yakni menusukkan bawang merah, cabai, dan bawang putih pada ujung lidi.

Setelah itu, lidi dengan tusukan bumbu dapur tadi ditancapkan di tanah dengan posisi vertikal. Biasanya, cara ini dilakukan oleh para petani ketika langit sedang mendung untuk melindungi lahan mereka dari hujan. (trj/may)