Sepurane, cak. Saya sudah kapok ikut demo-demoan. Saat mahasiswa dulu, saya berkali-kali ikut demo. Tapi sekarang baru tahu kalau kami dimanfaatkan. Lagi pula, seperti demo pada bulan Agustus tahun lalu, saya takut ada provokator yang membakar gedung, menjarah rumah pejabat. Iya kalau yang dijarah tepat sasaran. Saya takut demo berubah menjadi kerusuhan, penjarahan
Oleh : AbdurRozaq
Cak Anwar ojol, membeli beberapa pak rokok murah, beberapa botol air mineral, dan sebungkus pasta gigi di warung Cak Sueb. Karena barang belanjaannya ganjil, Cak Paijo LSM iseng bertanya.
“Mau kemana kok beli air mineral dan rokok banyak, cak? Lha itu pasta gigi segala, stok mingguan, ya?”
“Buat bekal demo, cak. Solidaritas sama kawan-kawan mahasiswa,” jawab Cak Anwar enteng, tapi hampir seisi warung terperanjat.
“Waduh, jadi aktivis sekarang,” kelakar Cak Paijo LSM.
“Harusnya yang demo itu Cak Paijo,” kelakar Cak Manap menimpali. Karena merasa ditanggap, Cak Anwar akhirnya ikut memesan kopi, jandoman sebentar sebelum berangkat demo.
“Karena penguasa sudah tidak mendengar suara rakyat, ya terpaksa kami demo. Jadi penguasa kok arogan, memaksakan program mubadzir demi memenuhi janji kampanye. Itu MBG dan Koperasi Merah Putih, menghambur-hamburkan APBN demi janji kampanye,” ujar Cak Anwar Ojol lantang.
“Rupiah makin anjlok, BBM ganti harga, katanya swasembada pangan, tapi beras malah tambah mahal. Pokoknya kalau tuntutan kami tidak didengar, penguasa harus lengser. Kalau tidak mau dilengserkan dengan cara terhormat, terpaksa Reformasi Jilid 2,” ujar Cak Anwar Ojol. Seciprat ludahnya sampai masuk ke gelas kopi Mahmud Wicaksono yang kebetulan tidak ditutup. Mahmud Wicaksono yang baru saja melihat berita rupiah menguat di beranda Youtube, hanya bisa tolah-toleh seraya menggaruk-garuk kepala.
“Sampeyan semua kan pasti tahu, kalau kepala MBG ditangkap? Apa hubungannya MBG dengan pengadaan kaos kaki, motor listrik, ini itu lah. Pemilik dapur MBG juga kebanyakan para pejabat atau wakil rakyat. Belum lagi yang keracunan MBG. Ini kan sembrono. Dan yang paling berat bagi kami para driver ojol, pemerintah yang beberapa minggu lalu koar-koar menjamin harga BBM takkan naik hingga akhir tahun, eh tiba-tiba ganti harga.”
“Tapi kan, BBM yang naik kan bukan pertalite, cak?” sanggah Cak Paijo LSM.
“Pertalite memang tidak naik, tapi langka. Itu kan sama saja memaksa kita membeli pertamaks yang ganti harga?” sanggah Cak Anwar Ojol. Cak Paijo LSM hanya bisa garuk-garuk kepala.
“Pokoknya, kalau harga BBM tidak kembali diturunkan, MBG tidak dibubarkan, harga sembako tetap melambung, akan kami Nepalkan!” Tak terasa Cak Anwar menggebrak meja warung. Nahas, gelas kopi Mahmud Wicaksono yang baru disruput sekali, dan belum dicatat di buku bon-bonan, tumpah. Dalam hati Mahmud Wicaksono misuh-misuh, sementara Cak Anwar Ojol merasa tak berdosa.
“Sangat banyak dosa penguasa kepada kita! Pajak terus naik, potongan prosentase aplikasi ojol makin naik. Katanya sudah menyita trilyunan uang dari koruptor, tapi mana? Mana efeknya buat perekonomian rakyat?”
“Itu lagi, Koperasi Merah Putih. Saya yakin pasti mangkrak itu. Lha masa, di setiap desa ada koperasi, yang mengelola siapa? Apa perangkat desa yang tak semuanya paham koperasi?” Mahmud Wicaksono yang duduk tepat di depan Cak Anwar Ojol, nampak memijit-mijit kepalanya. Tadi pagi ia pening karena memikirkan biaya wisuda dan kenaikan jenjang sekolah anaknya. Sekarang ia tambah pening memikirkan omongan Cak Anwar Ojol yang ada benarnya, tapi lebih banyak ngawurnya itu.
“Penguasa kok otoriter! Tiap minggu jalan-jalan ke luar negeri, kalau dikritik ngamuk-ngamuk di podium. Sindir sana lah, sindir sini, lah. Kalau tak mau dikritik ya jangan jadi penguasa.”
“Sampeyan semua kan tahu, kalau rakyat sudah muak di Facebook dan Tiktok? Hampir sembilan puluh persen masyarakat di Facebook dan Tiktok sudah muak dengan penguasa sekarang. Bahkan, sebagian besar orang sudah ingin Reformasi Jilid 2.” Mahmud Wicaksono menepuk jidatnya seraya geleng-geleng. Pantas saja Cak Anwar Ojol ngamuk-ngamuk, penguasa tak benarnya, lha wong dia salah pergaulan. Sumber informasinya Facebook dan Tiktok, ya pantas saja.
“Seharusnya sampeyan ikut demo, Mas Mahmud. Sampeyan ini sarjana, penulis, youtuber, tukang cukur, tukang terapi refleksi, dukun, makelar, seharusnya sampeyan ikut demo ada di depan. Kalau bisa sampeyan yang orasi pegang hallo-hallo.”
“Moh, cak,” jawab Mahmud Wicaksono seraya tersenyum penuh arti.
“Lho, kenapa? Apa menunggu negara hancur? Mau membiarkan koruptor?”
“Lha saya belum yakin, ini murni menyampaikan usulan kepada penguasa, apa bagaimana? Zaman sekarang kan serba abu-abu? Rancu antara belum ikhlas kalah pilpres, atau benar-benar memberikan masukan? Lagi pula, kalau laep kan bukan hanya di negara Cak Manap ini? BBM naik kan di seluruh dunia? Bahkan barusan saya baca berita, rupiah sedikit naik, kita malah mau demo. Apa tidak akan ambruk lagi rupiah kita?”
“Wah, jangan-jangan sampeyan ini buzzer….”
“Wkkkk, kalau saya buzzer, buat apa buka lapak cukur rambut segala.”
“Angel angel!”
“Sepurane, cak. Saya sudah kapok ikut demo-demoan. Saat mahasiswa dulu, saya berkali-kali ikut demo. Tapi sekarang baru tahu kalau kami dimanfaatkan. Lagi pula, seperti demo pada bulan Agustus tahun lalu, saya takut ada provokator yang membakar gedung, menjarah rumah pejabat. Iya kalau yang dijarah tepat sasaran. Saya takut demo berubah menjadi kerusuhan, penjarahan, lalu negara ini bubar seperti Nepal saat itu. Kalau negara Cak Manap ini sampai bubar, jangan-jangan pulau-pulau dibagi-bagi untuk negara yang mendanai demo. Saya akan demo kepada Gusti Allah saja. Siapa yang maling, menipu rakyat, adu domba, menjadi antek asing, saya doakan kena stroke, kena kencing manis basah, kena sifilis dan pasangannya dibawa lari orang,” ujar Mahmud Wicaksono.
Hanya Fiksi semata. Kesamaat keadaan dan isu hanya ilustrasi.





















