Kejayan (WartaBromo.com) – Para peternak ayam petelur di Kabupaten Pasuruan tengah menghadapi masa sulit. Di saat harga telur terus merosot dalam beberapa pekan terakhir, mereka juga harus menanggung beban kenaikan harga pakan yang semakin tinggi.
Kondisi ini membuat banyak peternak berada di ambang kerugian dan terancam gulung tikar. Kegelisahan itu dirasakan langsung oleh Suradi (45), seorang peternak ayam petelur asal Desa Tanggulangin, Kecamatan Kejayan.
Di tengah rutinitasnya mengurus ribuan ayam di kandang, Kamis (4/6/2026), ia mengaku semakin khawatir dengan kondisi usaha yang dijalankannya.
Menurut Suradi, harga telur di tingkat peternak saat ini hanya berkisar antara Rp21 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sebelum Hari Raya Iduladha, ketika harga telur masih mampu bertahan di atas Rp25 ribu per kilogram.
Tak hanya harga jual yang menurun, biaya produksi justru mengalami kenaikan. Harga pakan ayam yang menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan kini mencapai Rp415 ribu per sak atau sekitar Rp8 ribu hingga Rp8.500 per kilogram. Padahal sebelumnya harga pakan masih berada di kisaran Rp7 ribu hingga Rp7.500 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat margin keuntungan peternak semakin tergerus. Bahkan, Suradi menyebut tidak sedikit peternak yang akhirnya memilih berhenti berusaha karena sudah tidak mampu menutup biaya operasional kandang.
“Sekarang harga telur turun terus, sementara pakan naik. Banyak peternak yang sudah tidak kuat dan akhirnya menutup usahanya. Ayamnya di jual,” ungkapnya.
Para peternak berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk membantu sektor peternakan ayam petelur. Salah satu yang paling diharapkan adalah upaya menekan dan menstabilkan harga pakan agar biaya produksi tidak terus membengkak. (don)





















