Nasi Goreng Asam Sunti di Tepi Pantura Probolinggo, Pedasnya Menghangatkan Malam dan Mengundang Rindu

5

Probolinggo (Warta Bromo.com) — Lampu-lampu kendaraan berkelebat di Jalur Pantura saat malam mulai turun. Di antara hiruk-pikuk lalu lintas yang menghubungkan Surabaya dan Banyuwangi itu, sebuah warung sederhana di Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, tak pernah sepi pengunjung.

Bukan karena bangunannya yang mencolok, melainkan aroma rempah yang menyeruak dari wajan panas. Aroma itu berasal dari nasi goreng asam sunti, menu khas yang perlahan menjadi buruan para pencinta kuliner pedas.

Sekilas tampilannya tak jauh berbeda dari nasi goreng pada umumnya. Namun begitu suapan pertama masuk ke mulut, sensasi yang muncul langsung berbeda. Rasa pedas cabai menyambar lidah lebih dulu, disusul sentuhan asam segar dari asam sunti dan aroma harum daun kari yang tertinggal di setiap kunyahan.

Asam sunti sendiri merupakan olahan belimbing wuluh yang difermentasi dan dikeringkan. Bumbu tradisional ini lazim ditemukan dalam masakan pesisir, namun jarang digunakan sebagai racikan utama nasi goreng.

Di tangan Sugianto, pemilik warung, bahan sederhana itu justru menjadi identitas yang membedakan menu buatannya dari ratusan nasi goreng lain di sepanjang Pantura.

“Kalau pakai kecap, rasa asam suntinya tertutup. Karena itu saya sengaja mempertahankan rasa aslinya supaya lebih terasa,” ujar Sugianto, yang juga anggota TNI AD itu.

Saat proses memasak berlangsung, cabai segar ditumis bersama bumbu pilihan dan daun kari hingga mengeluarkan aroma khas.

Setelah itu nasi dimasukkan dan diaduk cepat di atas api besar. Tidak ada warna cokelat pekat seperti nasi goreng pada umumnya. Yang muncul justru warna kemerahan dari cabai yang menggoda selera.

Setiap porsi kemudian disajikan dengan pelengkap sederhana berupa telur dadar, bawang goreng, acar timun, dan ikan teri asin. Perpaduan itu menciptakan kombinasi rasa gurih, pedas, asam, dan segar dalam satu hidangan.

Bagi Faiz Musleh, salah satu pelanggan, keunikan itulah yang membuatnya kembali datang.

“Pedasnya bukan sekadar pedas biasa. Ada rasa asam dan aroma rempah yang bikin nagih. Kalau malam dan cuaca dingin, rasanya pas sekali,” katanya.

Keberadaan warung di tepi jalur nasional membuat pelanggannya datang dari berbagai daerah. Tidak sedikit pengendara jarak jauh yang sengaja berhenti setelah mendengar rekomendasi dari sesama pelancong.

Menariknya, di tengah tren kuliner modern yang terus bermunculan, nasi goreng asam sunti tetap bertahan dengan kesederhanaannya. Tidak ada kemasan mewah atau konsep kekinian.

Yang dijual hanya cita rasa yang konsisten dan pengalaman kuliner yang sulit ditemukan di tempat lain.

Dengan harga Rp12.000 per porsi, menu ini menjadi bukti bahwa kuliner khas daerah tidak selalu harus tampil rumit untuk memikat lidah.

Kadang, cukup dengan racikan tradisional yang jujur dan keberanian mempertahankan rasa asli, sebuah hidangan mampu meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang mencobanya. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.