Harga Sayuran di Pasar Tradisional di Pasuruan Kian Mahal

9

Pasuruan (WartaBromo.com) – Harga berbagai komoditas sayur mayur di Pasar Tradisional Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, melonjak tajam dalam sepekan terakhir. Kenaikan mulai dirasakan para pedagang sejak anak-anak kembali masuk sekolah atau sejak awal pekan ini. Sebelumnya, saat masa libur sekolah, harga sayuran justru sempat turun.

Pantauan di Pasar Kebonagung pada Sabtu (18/7/2026) pagi menunjukkan hampir seluruh komoditas mengalami kenaikan. Timun menjadi salah satu yang mengalami lonjakan paling tinggi. Sebelum libur sekolah, harganya sekitar Rp12 ribu per kilogram, turun menjadi Rp10 ribu saat liburan, dan kini melonjak hingga Rp20 ribu per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada komoditas lain. Harga terong naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu per kilogram. Labusiem meningkat dari Rp5 ribu menjadi Rp7 ribu per kilogram. Sawi bahkan melonjak dua kali lipat, dari Rp20 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Harga kacang panjang naik dari Rp3 ribu menjadi Rp5 ribu per kilogram, wortel dari Rp12 ribu menjadi Rp16 ribu per kilogram, sedangkan buncis naik dari Rp8 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram.

Tidak hanya sayuran, harga daging ayam juga masih bertahan tinggi di angka Rp35 ribu per kilogram dalam dua pekan terakhir, setelah sebelumnya berada di kisaran Rp31 ribu per kilogram. Sementara itu, harga kubis dan kentang masih relatif stabil, masing-masing Rp8 ribu dan Rp14 ribu per kilogram.

Yukhanida, salah seorang pedagang sayur di Pasar Kebonagung, mengatakan lonjakan harga mulai terasa sejak awal pekan atau bertepatan dengan dimulainya aktivitas sekolah. Menurutnya, sebelum libur sekolah harga cenderung normal, bahkan sempat turun saat masa liburan karena permintaan berkurang. Kini, hampir semua jenis sayuran kembali naik akibat pasokan dari petani yang menipis.

“Sayur mayur yang naik. Pas kulak itu katanya stoknua dikit,” katanya.

Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Aminah. Ia mengaku kenaikan harga membuat sebagian pembeli mengurangi jumlah belanja. Jika biasanya membeli satu kilogram, kini banyak pelanggan memilih membeli setengah kilogram agar pengeluaran tetap sesuai anggaran.

Menurut para pedagang, terbatasnya stok dari daerah pemasok menjadi penyebab utama kenaikan harga. Namun, ada pula yang menduga meningkatnya kebutuhan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memengaruhi permintaan sehingga pasokan di pasar tradisional menjadi lebih terbatas.

“Lah baiknya pas masuk sekolah. Nggak tahunya juga, katanya gara-gara MBG.

Meski demikian, para pedagang berharap harga segera kembali normal agar daya beli masyarakat tidak terus menurun. (don)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.