Mengapa? Apakah Mahmud Wicaksono sudah edan oleh tekanan hidup? Tidak! Bahkan sebaliknya, Mahmud Wicaksono ingin menyelamatkan kedua anaknya dari kutukan nasib yang dialaminya. Menurut pengamatan dan perenungan panjang Mahmud Wicaksono, justru teman-temannya yang nakal di masa sekolah, kini sudah jadi orang. Teman sekelasnya yang dulu mabuk kecubung di sekolah, kini malah menjadi anggota DPR, pilot, aparat bahkan dokter. Teman sekelasnya yang dulu suka mencontek padanya saat ujian, kini malah menjadi juragan gabah dan wayuh di mana-mana.
Oleh : Abdur Rozaq
Seminggu terakhir, Mahmud Wicaksono tak bisa lagi tidur setelah subuh. Bukan menghentikan kebiasaan buruk agar rejekinya lancar, tapi memang terpaksa. Jam enam ia harus mengantar istrinya kerja paruh waktu, setengah tujuh mengantar anaknya yang SD. Jam tujuh lima belas, mengantar anaknya yang baru masuk PAUD. Tukang cukur itu memang hanya memiliki satu-satunya sepeda motor yang plat nomornya sudah almarhum sejak lama. Bahkan, sudah haul berkali-kali. Dan alhamdulillah, di aplikasi bansos, ia desil 5. Jadi, ia takkan merepotkan negara dengan bansos macam apapun.
Namun meski terpaksa bangun pagi, Mahmud Wicaksono lumayan bersemangat. Bukan karena akan pergi ke kantor sebagaimana seorang sarjana lainnya, tapi demi melihat anak ragilnya yang begitu semangat berangkat ke PAUD. Beberapa kali Mahmud Wicaksono teringat kenangan masa kecil. Saat ia pertama kali diantar ibunya ke madrasah ibtidaiyah dulu. Di mata anaknya, Mahmud Wicaksono melihat semangatnya saat itu. Sekitar tiga puluh lima tahun lalu, Mahmud Wicaksono juga ditipu oleh semangat semu seperti anaknya. Berangkat ke sekolah, menyemai cita-cita, agar kelak bisa merubah nasib. Seperti semangat di mata anaknya, saat itu Mahmud Wicaksono menghayalkan masa depan yang cerah. Tukang cukur itu sudah bercita-cita menjadi wartawan, atau apapun yang berhubungan dengan tulis- menulis. Entah mengapa, dalam pikiran Mahmud Wicaksono kecil, menjadi wartawan itu keren. Itu mungkin karena bapaknya suka memungut koran-koran bekas sebagai bahan bacaan. Andai saat itu Mahmud Wicaksono tahu, pasti ia akan memilih cita-cita lain. Pokoknya cita-cita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecerdasan, kutu buku dan rajin belajar. Sebab kini, ia diajari fakta bahwa di negara Cak Manap, kecerdasan akademik kurang berguna di alam nyata.
Rencananya, jika kedua anaknya kelak sudah bisa diajak diskusi, ia akan mendoktrin mereka agar tak rajin belajar. Tak usah merebut juara kelas, tak usah banyak membaca, tak usah memaksa sok keren belajar bahasa Inggris atau mahir matematika. Pokoknya segala hal yang berbau kutu buku, akan ia larang demi masa depan kedua anaknya itu. Sebaliknya, Mahmud Wicaksono akan mendoktrin kedua anaknya menjadi nakal dan pembikin perkara.
Mengapa? Apakah Mahmud Wicaksono sudah edan oleh tekanan hidup? Tidak! Bahkan sebaliknya, Mahmud Wicaksono ingin menyelamatkan kedua anaknya dari kutukan nasib yang dialaminya. Menurut pengamatan dan perenungan panjang Mahmud Wicaksono, justru teman-temannya yang nakal di masa sekolah, kini sudah jadi orang. Teman sekelasnya yang dulu mabuk kecubung di sekolah, kini malah menjadi anggota DPR, pilot, aparat bahkan dokter. Teman sekelasnya yang dulu suka mencontek padanya saat ujian, kini malah menjadi juragan gabah dan wayuh di mana-mana. Sebaliknya, Mahmud Wicaksono yang dulu selalu juara kelas, mahir berbahasa Inggris, pandai menulis puisi, karangannya selalu dimuat di majalah sekolah, selalu menjadi pengurus OSIS, malah jadi guru. Meski kini sudah mengundurkan diri.
Andai imannya tidak kuat, hampir saja Mahmud Wicaksono menyesal pernah sekolah, apalagi hingga sarjana segala. Tapi segera ia tepis penyesalan itu, karena seorang tukang yang sarjana, setidaknya menegaskan jika negara Cak Manap ini lumayan maju. Lha wong tukang cukurnya saja sarjana.
Menurut Mahmud Wicaksono, sepertinya ada yang salah dengan kurikulum, orientasi dan metode pendidikan di negara Cak Manap. Puluhan tahun, belasan menteri pendidikan dan kurikulum, belum bisa melahirkan murid yang bisa memilik skill di alam nyata. Entah kenapa, para pakar pendidikan di negara Cak Manap ini belum juga menemukan formula yang bisa membuat murid memiliki skill selain hafalan, teori dan gagasan semata.
Apakah karena para guru terlalu sibuk membuat perangkat pembelajaran daripada membuat bahan praktik siswa? Apakah akibat para guru kurang fokus karena harus nyambi pekerjaan lain demi hidup layak? Apakah karena para pemilik yayasan pendidikan terlalu fokus pada bisnis pendidikan daripada memperhatikan kesehatan mental guru? Ya Wallahu a’lam. Ini kan hanya analisis ngawur tukang cukur?
Lalu, kenapa Mahmud Wicaksono lebih ingin anaknya nakal daripada menjadi juara kelas? Itu karena hukum alam di negara Cak Manap ini berbeda dengan negara manapun. Di sini, kerja intelektual itu belum dihargai. Guru, dosen, penulis, miris nasibnya. Untuk menjadi cepat kaya, seseorang sama sekali tak harus jenius. Cukup beli ijazah, masuk partai politik, nyaleg, beres! Kalau ingin lebih instant lagi, cukup bikin heboh media sosial dengan ulah absurd, tak lama lagi akan dipanggil ke istana dijadikan duta anu, atau diberi donasi dan diundang ke podcast-podcast. Atau sekalian menjadi penyakit masyarakat dan membentuk ormas, agar dipelihara penguasa atau pengusaha.
Konon kalau tidak salah, pendidikan itu hak dasar warga negara. Tapi entah kenapa belum gratis sepenuhnya. Andai pun pemerintah memberi sedikit subsidi, masih banyak lembaga bisnis pendidikan yang mematok harga tak masuk akal. Sementara para guru dan tenaga kependidikan, masih didoktrin sebagai pahlawan tanpa tanda terima, padahal jelas-jelas bekerja di korporasi pendidikan.





















