Di Balik Simpang Patung Sapi yang Kerap Memakan Korban, Hidup Legenda Mbah Putri Nawangsari dan Tradisi Wayang Kulit

60

Pandaan (WartaBromo.com) – Di tengah padatnya arus kendaraan yang melintas di jalur nasional Surabaya–Malang, persimpangan empat Patung Sapi Pandaan tak pernah benar-benar sepi. Deru truk, bus antarkota, hingga kendaraan pribadi silih berganti melintasi titik yang berada di Dusun Gelang, Desa Tawangrejo, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan itu.

Bagi banyak pengendara, persimpangan tersebut dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan. Berbagai insiden, termasuk kecelakaan yang merenggut korban jiwa, berulang kali terjadi di lokasi tersebut.

Namun, sekitar 500 meter dari simpang empat itu, suasana berubah drastis. Di samping Balai Dusun Gelang, terdapat sebuah makam sederhana yang diyakini warga sebagai tempat peristirahatan Mbah Putri Nawangsari, sosok leluhur yang dipercaya sebagai pembabat alas atau pendiri wilayah tersebut.

Kedekatan letak makam dengan persimpangan itu membuat cerita-cerita yang berkembang di tengah warga kerap menghubungkan berbagai peristiwa kecelakaan dengan kisah yang menyelimuti Mbah Putri Nawangsari.

Di kalangan masyarakat, cerita tersebut diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari tradisi lisan. Salah satu yang masih mengingat kisah itu adalah Sugiono, sesepuh Dusun Gelang.

Menurut Sugiono, masyarakat sejak dahulu meyakini bahwa setiap beberapa tahun sekali perlu digelar selamatan desa yang diisi pertunjukan wayang kulit. Kepercayaan itu berkembang karena diyakini berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur desa.

“Mbah Putri Nawangsari ini sudah lama ceritanya. Kalau tidak digelar wayang kulit atau tayuban, menurut cerita sejarah yang berkembang, beliau itu ‘ngamuk’. Katanya banyak kecelakaan yang terjadi di perempatan Patung Sapi Gelang,” ujar Sugiono saat ditemui di Balai Dusun Gelang.

Menurut Sugiono, wayang kulit diyakini menjadi bagian penting dalam setiap pelaksanaan selamatan desa karena berdasarkan cerita yang berkembang, Mbah Putri Nawangsari sangat menyukai kesenian tersebut.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kisah tersebut merupakan sejarah lisan yang hidup di tengah masyarakat dan tidak dapat dipastikan kebenarannya secara ilmiah.

Tradisi selamatan desa sendiri masih terus dipertahankan, meski pelaksanaannya kini mengalami penyesuaian. Jika dahulu pertunjukan wayang kulit digelar setiap tahun, kini jadwalnya bergiliran dengan kegiatan kepemudaan dan remaja masjid.

“Karena ada permintaan dari pemuda dan remaja masjid, akhirnya satu tahun digunakan untuk kegiatan pemuda, satu tahun untuk kegiatan remaja masjid, sehingga sekarang wayang kulit digelar setiap tiga tahun sekali,” katanya.

Selain mengenai tradisi, Sugiono juga menceritakan asal-usul Mbah Putri Nawangsari sebagaimana yang ia dengar dari para pendahulunya.

Konon, Mbah Putri Nawangsari merupakan seorang putri dari Kerajaan Jawi yang melarikan diri karena diburu sosok bernama Kebo Suwayuwo. Dalam pelariannya, ia melewati sejumlah wilayah yang kini dikenal sebagai Jogonalan, Pandaan, hingga Wonut sebelum akhirnya tiba di kawasan yang sekarang menjadi Dusun Gelang.

Di tempat itulah, menurut cerita yang diwariskan masyarakat, gelang yang dikenakan sang putri terjatuh sehingga kawasan tersebut kemudian dikenal dengan nama Dusun Gelang.

“Akhirnya lari sampai daerah Pandaan sampai ke Dusun Gelang sini. Nah, ceritanya, perhiasan gelang beliau itu jatuh di sini. Makanya tempat ini dinamakan Dusun Gelang,” tutur Sugiono.

Ia menambahkan, tradisi wayang kulit dalam rangka selamatan desa telah berlangsung sejak masa kepala desa terdahulu. Berdasarkan cerita yang diterimanya dari keluarga dan para sesepuh, hanya ada tiga wilayah yang secara turun-temurun rutin melaksanakan tradisi serupa, yakni Dusun Gelang, Desa Jawi, dan Pecalukan.

Hingga kini, makam Mbah Putri Nawangsari masih menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Dusun Gelang. Tempat itu bukan hanya menjadi penanda sejarah desa, tetapi juga ruang yang menyimpan nilai-nilai penghormatan terhadap leluhur dan tradisi lokal yang terus dipelihara.

Di sisi lain, cerita yang mengaitkan sosok Mbah Putri Nawangsari dengan berbagai peristiwa di simpang empat Patung Sapi merupakan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat sebagai bagian dari tradisi lisan. Keterkaitan tersebut belum memiliki dasar atau pembuktian ilmiah.

Sementara itu, penyebab kecelakaan lalu lintas tetap menjadi ranah penyelidikan aparat kepolisian yang didasarkan pada faktor manusia, kondisi kendaraan, kondisi jalan, cuaca, maupun lingkungan. Dengan demikian, kisah Mbah Putri Nawangsari lebih tepat dipahami sebagai warisan budaya dan folklor lokal yang hidup di tengah masyarakat, bukan sebagai penjelasan faktual atas setiap peristiwa kecelakaan yang terjadi di kawasan tersebut. (fir)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.