Demi Keamanan, Wisata Bromo dari Pasuruan Tetap Dibuka Lewat Wonokitri, Akses Jemplang Ditutup

11

Pasuruan (WartaBromo.com) – Kabar baik bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke kawasan Bromo melalui Kabupaten Pasuruan. Di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) masih membuka kunjungan wisata melalui pintu masuk Wonokitri, Kabupaten Pasuruan.

Namun, kunjungan wisatawan dibatasi hanya sampai kawasan Lautan Pasir. Pembatasan ini dilakukan demi menjaga keamanan dan keselamatan pengunjung sekaligus mendukung proses pemadaman kebakaran yang masih berlangsung di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, untuk sementara wisatawan hanya diperbolehkan memasuki kawasan Bromo melalui dua pintu masuk, yakni Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri di Kabupaten Pasuruan.

“Sementara itu, kunjungan wisata masih dapat dilakukan melalui pintu masuk Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri, Kabupaten Pasuruan dengan batas area kunjungan hanya sampai Lautan Pasir,” ujar Rudijanta dalam keterangan resminya, Jumat (7/8/2026).

BB TNBTS juga melarang wisatawan memasuki kawasan padang rumput atau Savana Bromo. Larangan tersebut diberlakukan sebagai langkah mitigasi untuk menghindari risiko keselamatan akibat kebakaran yang masih ditangani petugas.

“Pengunjung tidak diperkenankan memasuki kawasan Savana sampai kondisi dinyatakan aman. Masyarakat dan wisatawan juga diimbau untuk mematuhi seluruh ketentuan yang berlaku serta mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh BB TNBTS,” tegasnya.

Sementara itu, akses menuju kawasan TNBTS melalui pintu Jemplang, Kabupaten Malang, resmi ditutup sementara untuk umum. Penutupan dilakukan untuk mempermudah mobilitas kendaraan taktis dan personel gabungan yang tengah melakukan pemadaman di titik-titik kebakaran.

Akses Jemplang ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Kebakaran kawasan Bromo sendiri pertama kali terpantau di Blok Bantengan pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Hingga Jumat (7/8/2026) pukul 16.00 WIB, luas area yang terdampak kebakaran diperkirakan telah mencapai sekitar 176 hektare.

Berdasarkan pengamatan awal di lapangan, titik awal kemunculan api diduga berada di area punggungan perbukitan pada jalur Bantengan menuju Argosari.

Kondisi cuaca ekstrem pada musim kemarau turut menjadi faktor yang mempercepat penyebaran api. Vegetasi padang rumput yang mengering, rendahnya kelembapan udara, serta tiupan angin yang cukup kencang membuat api dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas.

“Kondisi musim kemarau dengan vegetasi padang rumput yang mengering, rendahnya kelembapan udara, serta tiupan angin yang cukup kencang menjadi faktor yang menyebabkan api dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas,” jelas Rudijanta.

Upaya pemadaman hingga kini terus dilakukan melalui operasi terpadu. Personel BB TNBTS bersama Manggala Agni, Korps Marinir, PPGST, Saver, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta warga Desa Ranupani dan Ngadas dikerahkan untuk menangani kebakaran.

Operasi tersebut juga mendapat dukungan dari TNI, Polri, BPBD, BNPB, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pemadaman dilakukan melalui jalur darat dengan mengerahkan mobil pemadam, jet shooter, alat pemukul api (gebyok), hingga pembuatan sekat bakar.

Selain itu, operasi udara menggunakan helikopter water bombing juga dilakukan dengan dukungan BNPB, TNI AL, dan Pemprov Jatim.

Operasi udara dinilai penting karena sejumlah titik kebakaran berada di lereng dan punggungan bukit yang terjal dan sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.

“Dukungan operasi udara akan terus dilakukan sesuai perkembangan kondisi di lapangan, bersinergi dengan upaya pemadaman melalui jalur darat agar api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke kawasan lainnya,” pungkas Rudijanta. (don)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.