Probolinggo (WartaBromo.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali memunculkan titik api.
Pada Selasa (11/8/2026) pagi, kobaran api terpantau di kawasan Dingklik, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Serta di kawasan P30 Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.
Api yang berada di kawasan perbukitan tersebut sempat menimbulkan asap tebal hingga mengganggu warga yang melintas di jalur Desa Wonokitri. Kondisi itu membuat tim gabungan kembali dikerahkan untuk melakukan pemadaman.
Titik api di Dingklik menjadi perhatian karena lokasi tersebut sebelumnya dilaporkan telah berhasil dipadamkan pada Senin malam. Namun, bara diduga kembali menyala dan membesar pada Selasa pagi.
Danunit PMK Kabupaten Probolinggo, Danang Purwanto, mengatakan tim langsung bergerak setelah menerima laporan munculnya kembali api di kawasan Penanjakan.
“Hari ini kami kembali ke Penanjakan, Wonokitri. Ada titik api baru di sana. Padahal tadi malam sudah dinyatakan padam, tetapi pagi ini muncul lagi,” ujar Danang.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla Bromo belum dapat dianggap selesai. Bara yang masih tersisa di kawasan vegetasi kering berpotensi kembali menyala ketika terkena angin.
Selain Dingklik, titik api juga kembali terpantau di kawasan P-30, Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.
Dansektor Penanggulangan Karhutla Kawasan Bromo, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, sebelumnya menyebut dua lokasi tersebut menjadi fokus penanganan karena kembali menunjukkan aktivitas kebakaran.
Tim gabungan kemudian membagi personel untuk menangani kedua lokasi. Sekitar 200 personel TNI dikerahkan menuju titik-titik kebakaran dengan menggunakan sepeda motor trail. Mereka bergerak bersama unsur Manggala Agni Balai Besar TNBTS, pemadam kebakaran, BPBD, serta relawan.
Untuk mendukung pemadaman dari darat, PMK Kabupaten Probolinggo menyiapkan satu unit mobil pemadam dan satu truk tangki air. Total personel dari unsur pemadam dan Manggala Agni yang terlibat mencapai sekitar 100 orang.
“Medan di lokasi cukup sulit sehingga personel harus menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Kami membagi tim agar titik api yang kembali muncul bisa segera dikendalikan,” kata Danang.
Penanganan karhutla tidak hanya dilakukan dari darat. Dua unit helikopter kembali disiapkan untuk melakukan water bombing di lokasi yang sulit dijangkau petugas.
Operasi udara diperlukan terutama untuk menjangkau titik api yang berada di lereng dan kawasan dengan medan terjal.
Selain helikopter, drone juga digunakan untuk memantau perkembangan api dari udara. Pemantauan tersebut membantu petugas menentukan titik yang membutuhkan penanganan lebih cepat.
Kondisi kebakaran di kawasan Bromo masih dinamis. Api yang sebelumnya berhasil dipadamkan dapat kembali muncul karena bara tersimpan di bawah vegetasi dan lapisan abu.
Angin juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena dapat membawa bara ke kawasan lain yang dipenuhi rumput dan semak kering.
Tim gabungan kini terus melakukan pemadaman sekaligus penyisiran untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali berkembang.
Masyarakat yang melintas di sekitar kawasan terdampak juga diminta berhati-hati karena asap dari kebakaran dapat mengurangi jarak pandang, terutama pada jalur yang berada dekat titik api.
Upaya penanganan akan terus dilakukan hingga seluruh titik panas di kawasan Bromo benar-benar terkendali dan tidak lagi berpotensi memunculkan kebakaran susulan. (lai/saw)





















