Guru TPQ dan Serabi Lempit

8

“Seperti kata Mbah Yai, kadang pelakunya bukan kiai, tapi oleh media diberitakan sebagai kiai. Pelakunya ada yang dukun, pemimpin padepokan, guru silat, penganut aliran hitam. Tapi karena pakai kopyah atau udeng, oleh media—entah sengaja entah bodoh—ditulis sebagai kiai atau ustadz.

Oleh: AbdurRozaq

Mahmud Wicaksono misuh-misuh setelah membaca berita di koran online. Seperti anak-anak Free Fire, hampir saja ia membanting HP-nya andai tak ingat HP lemot itu satu-satunya. Jika sampai dibanting, bukan hanya HP yang hancur, tapi juga berbagai akun dan sumber uang recehan dari profesinya di dunia online.

“Jamput, ngisin-ngisini wong Islam ae,” umpatnya.
“Berita apa, mas?” Usut Gus Karimun.
“Ini gus, ada oknum guru TPQ mencabuli santrinya.”
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kenemenen,” ujar Gus Karimun dengan wajah memerah.

“Mbok ya kalau ngacengan, sebaiknya tidak menerima santri. Kalah dipercaya masyarakat dititipi santri, mbok yo ngacengnya di-management yang benar. Mbuh wayuh, mbuh puasa Senin-Kamis, mbuh rajin olah raga,” gumam Gus Karimun geleng-geleng.

“Sudah berapa kali kita dipermalukan oknum kiai-kiaian dan ustadz-ustadzan seperti itu. Bukannya munafik, selagi kita waras, godaan syahwat memang mematikan. Tapi sama-sama dosa besar, mending sekalian ke Gang Sono atau Watu Adem biar fitnahnya tidak kemana-mana,” baru kali ini Gus Karimun berkata sevulgar itu.

“Selama Juni, Juli dan bulan ini, berita oknum kiai-kiaian atau ustadz-ustadzan melakukan pencabulan terhadap para santri memang sedang gencar, gus. Seakan setiap minggu ada berita kiai atau ustad KW melakukan tindakan asusila. Kita malu Islam menjadi bahan hujatan di dunia maya,” sesal Mahmud Wicaksono.

“Iya memang, mas. Saya sampai uninstall Facebook dan Tiktok karena netizen di kedua aplikasi itu menghujat kaum pesantren, kiai bahkan Islam secara membabi buta, tanpa memandang berbagai aspek dan fakta. Bahkan mereka yang selalu rajin langganan open BO pun, berkomantar begitu tajam. Tapi bagaimana lagi, wong memang sebagian memang fakta,” ujar Gus Karimun dengan wajah bersemu merah.

“Yang saya heran, kenapa pelakunya kok seringkali pemuka Islam, gus?” celetuk Cak Paijo LSM.

“Sebenarnya, secara manusiawi, siapa pun ada potensi tergoda oleh syahwat. Selagi ia manusia normal, jika ia laki-laki pasti terobsesi dengan serabi lempit. Sedangkan jika ia perempuan, asal masih waras, juga terobsesi dengan sosis berotot. Bahkan rajapati pertama dalam sejarah manusia, pemicunya juga masalah serabi lempit alias kerang Mesir ini. Mbah Qabil-Habil kan “jotosan” akibat salah satu dari mereka terobsesi serabi lempit? Jadi ya, kalau kita sportif, dalam agama dan budaya apapun, sindikat perserabi lempitan ini sama-sama terjadi,” ujar Gus Karimun mencoba objektif.

“Tapi faktanya, yang selalu muncul di berita selalu pemuka Islam, gus,” protes Cak Paijo LSM.

“Ya, memang seperti itu. Dan itu —salah satunya—karena muslim mayoritas. Di Mexico, karena mayoritas beragama lain, malingnya, kartelnya, PSK-nya, ya dari agama itu. Dan apakah agama tersebut mengajarkan hal-hal demikian? Tidak, kan?”

“Saya mengutuk keras oknum kiai-kiaian dan ustadz-ustadzan yang melakukan kejahatan asusila. Sebab mereka yang seharusnya menegakkan moral, malah menjadi predator. Andai negara Cak Manap ini negara Islam, orang seperti itu memang harus dirajam. Bukannya Islam keji, tapi sebagai efek jera karena zina, apalagi pencabulan dan pemerkosaan, efeknya sangat merusak.”

“Gara-gara kejadian seperti ini, seakan Islam adalah agama yang mentolelir aksi tidak senonoh atas nama taat pada guru, atas nama mendapat berkah, atas nama mendapat sorga. Orang di luar sana menghujat kita, kaum atheis dan agnostik semakin gencar kampanye anti agama. Padahal tak ada agama yang mengajarkan kejahatan.”

“Kita tak boleh membenarkan kejahatan ini, meski pelakunya beragam seperti kita. Justru karena mereka seiman, kita harus mengawal sampai ke penjara agar tak kembali terulang. Namun di lain sisi, kita juga harus jernih melihat kasus ini.”

“Maksudnya?” ujar Mahmud Wicaksono penasaran.
“Seperti kata Mbah, kadang pelakunya bukan kiai, tapi oleh media diberitakan sebagai kiai. Pelakunya ada yang dukun, pemimpin padepokan, guru silat, penganut aliran hitam. Tapi karena pakai kopyah atau udeng, oleh media—entah sengaja entah bodoh—ditulis sebagai kiai atau ustadz. Seakan ada kesepakatan rahasia agar mayoritas pelaku kejahatan asusila adalah pemimpin agama, terutama Islam. Ada juga kejanggalan, ketika pelakunya berasal dari pemimpin agama lain atau budaya lain, media tak memberitakannya.”

“Ada benarnya, gus. Saya juga sempat berpikir begitu,” ujar Mahmud Wicaksono.
“Bahkan kenapa pada bulan Juni, Juli dan Agustus seakan berita pencabulan viral setiap hari, jangan-jangan agar para wali murid tidak memasukkan anak mereka ke pesantren. Agenda besarnya sekularisasi dan atheisasi negara Cak Manap, agar lebih cepat dikuasai.”

“Kita harus sportif, gus, wong faktanya mayoritas pelakunya para pemimpin agama, dan terjadi di pesantren,” protes Cak Paijo LSM.

“Kita akui memang iya. Tapi pencabulan yang dilakukan oleh pemuka agama dan budaya lain, juga kita sorot dan kita kawal. Toh banyak juga dukun cabul, pemimpin sekte cabul, komunitas sekular cabul, anak punk cabul, kaum LGBT bukan santri, sekte satanisme melakukan ritual seks berjamaah dalam satu ruangan, sekte kuno peninggalan leluhur ada yang melakukan ritual seks bahkan kanibalisme atas nama ritual. Hanya saja entah karena apes atau diincar, hanya pemuka agama Islam yang diviralkan media.”
“Jadi Gus Karimun membenarkan pencabulan di pesantren?”

“Justru kalau terbukti, pesantrennya harus dibubarkan dan kiai abal-abalnya kita hakimi ramai-ramai. Karena selain kejahatan seksual, mereka telah mengotori pendidikan Islam demi syahwat. Dan… semua harus fair. Dari komunitas, agama dan budaya apapun, kalau melakukan pencabulan ya harus kita jotosi juga biar adil.”

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.