Batik in Motion Probolinggo dan Ambisi Menggaet Generasi Muda

6

Probolinggo (WartaBromo.com)— Batik tak lagi sekadar kain bermotif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Kota Probolinggo, batik kini dicoba didekatkan dengan anak muda melalui fashion, seni pertunjukan, dan ekonomi kreatif.

Gagasan itu tampak dalam penyelenggaraan Batik in Motion 2026 di depan Kantor Pemerintah Kota Probolinggo, Jalan Panglima Sudirman, Jumat sore (4/9/2026). Memasuki tahun kedua, acara ini melibatkan pelajar dan pelaku industri kreatif untuk mengolah batik dalam bentuk yang lebih kontemporer.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah atau Dekranasda Kota Probolinggo, dr Evariani Aminuddin, mengatakan regenerasi menjadi alasan utama anak muda dilibatkan. Menurut dia, dunia batik masih menghadapi jarak antara pembatik senior dan generasi penerus.

“Pembatik senior sudah banyak, tetapi regenerasi belum berjalan seperti yang diharapkan. Karena itu, anak-anak muda perlu diberi ruang untuk mengenal batik melalui cara yang lebih dekat dengan dunia mereka,” kata Evariani.

Pelajar tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah dilibatkan melalui kompetisi dan kreasi busana berbahan batik. Bagi Evariani, desain dan fashion dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan batik tanpa membuatnya terkesan sebagai produk masa lalu.

“Kami ingin batik dikenal sejak usia sekolah. Anak-anak tidak hanya menjadi pemakai, tetapi mulai memahami desain dan kreativitas yang bisa dibangun dari batik,” ujarnya.

Batik in Motion tidak berhenti pada peragaan busana. Dekranasda Kota Probolinggo mencoba menempatkannya sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
Sektor yang dilibatkan cukup beragam, dari UMKM, perhotelan, restoran, digitalisasi, komunitas hingga sanggar seni. Kolaborasi itu diharapkan menciptakan rantai ekonomi baru di sekitar produk batik.

“Kalau penggunaan batik meningkat, kebutuhan pendukungnya juga ikut tumbuh. Ada UMKM, bazar, desainer, sanggar seni, hotel, restoran, sampai sektor digital,” kata Evariani.

Dekranasda Kota Probolinggo juga menggandeng sejumlah Dekranasda dari daerah lain di Jawa Timur. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperluas jaringan, tetapi juga menjadi ruang pertukaran gagasan dan inovasi.

Evariani menyebut Batik in Motion sebagai semacam laboratorium ekonomi kreatif. Kota Probolinggo ingin menunjukkan bahwa produk budaya dapat menjadi penggerak ekonomi jika dikelola melalui kolaborasi lintas sektor.

Ambisi memperluas gaung batik Probolinggo kemudian bersinggungan dengan seni pertunjukan. Dalam rangkaian Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo, sebanyak 2.705 penari tampil secara bersamaan.

Pertunjukan itu dicatat Museum Rekor Dunia Indonesia atau MURI sebagai rekor dunia. Piagam penghargaan diserahkan kepada Evariani dalam rangkaian acara tersebut.

Bagi Evariani, rekor bukan sekadar angka yang dicatat dalam piagam. Pengakuan nasional dianggap penting untuk membuka jalan promosi yang lebih luas.

“Kalau ingin naik kelas, kita harus dikenal secara nasional. Dari sana barulah peluang untuk membawa batik Probolinggo ke tingkat dunia semakin terbuka,” kata dia.

Ia berharap Batik in Motion kelak tidak hanya menjadi agenda tahunan Kota Probolinggo. Acara tersebut ditargetkan berkembang menjadi ruang temu bagi pembatik, desainer, pelajar, seniman, komunitas, UMKM, dan sektor pariwisata.

“Kalau kegiatan ini bisa direplikasi di berbagai daerah, Batik Probolinggo yang mewakili Jawa Timur punya peluang untuk dikenal lebih luas,” ujar Evariani.

Wali Kota Probolinggo, dr Aminuddin, berharap penyelenggaraan Batik in Motion terus berkembang. Pemerintah kota ingin menjadikan acara tersebut sebagai salah satu instrumen promosi budaya sekaligus ekonomi kreatif.

Target berikutnya adalah masuknya Batik in Motion ke Kharisma Event Nusantara, kalender pariwisata nasional yang dikelola Kementerian Pariwisata.

“Semoga penyelenggaraan yang ketiga nanti bisa masuk Kharisma Event Nusantara,” kata Aminuddin.

Harapan itu membuat penyelenggaraan tahun kedua menjadi lebih dari sekadar pertunjukan.

Di balik panggung fashion dan ribuan penari, Kota Probolinggo sedang menguji satu gagasan: apakah batik bisa diwariskan kepada generasi muda bukan hanya sebagai tradisi, melainkan sebagai ruang kreativitas dan sumber penghidupan.

Batik in Motion menjadi salah satu cara untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.