Pandaan (WartaBromo.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah berjalan di salah satu Taman Kanak-kanak (TK) di wilayah Pandaan, Kabupaten Pasuruan, mendapat sorotan dari sejumlah wali murid. Para orang tua menilai kualitas menu MBG selama bulan Ramadan jauh dari harapan perbaikan nutrisi bagi anak usia dini.
Salah satu wali murid, Chintya Titiahy, mengungkapkan bahwa pada awal pelaksanaan program, menu MBG masih tergolong layak meski terdapat beberapa catatan, seperti pemilihan buah serta penggunaan cabai besar yang dinilai kurang sesuai untuk anak-anak.
Namun, menurutnya, kondisi berubah ketika memasuki bulan puasa. Menu yang diberikan disebut didominasi makanan kering dan olahan (processed food).
Ia menyebut beberapa menu yang diterima anak-anak antara lain roti pizza dengan topping sosis, roti abon bertekstur keras, serta camilan kacang polong dan kapri kering yang dinilai terlalu asin.
“Kacang polong dan kapri kering ini di mana letak nutrisinya? Sudah kena oven, kena garam, malah over natrium. Roti juga sebenarnya tidak sehat-sehat amat untuk anak kecil,” ujarnya kepada WartaBromo, Jumat (27/2/2026).
Chintya menyayangkan apabila anggaran negara yang cukup besar justru digunakan untuk makanan yang dinilai hanya menarik secara rasa namun minim nilai gizi. Menurutnya, anak usia dini lebih membutuhkan protein berkualitas, sayur segar, serta makanan dengan tingkat pengolahan minimal.
Melihat kondisi tersebut, para orang tua mengusulkan agar skema pemberian menu selama Ramadan dievaluasi. Dengan asumsi anggaran sekitar Rp8.000 per porsi, wali murid menyarankan bantuan dialihkan dalam bentuk bahan pangan mentah yang dapat diolah sendiri oleh orang tua di rumah.
“Misalnya diberi telur empat butir sudah sekitar Rp8.000. Bisa diolah jadi berbagai menu di rumah. Tidak perlu muluk-muluk, fokus saja pada satu nutrisi penting,” tambahnya.
Selain itu, beberapa alternatif lain juga diusulkan, seperti penyaluran bantuan mingguan berupa susu satu liter, pemberian telur dan sayuran mentah, serta penekanan pada protein hewani yang kualitas gizinya lebih jelas.
Keluhan serupa disampaikan wali murid lainnya, Mauido Laila. Ia menyoroti kandungan susu dalam paket MBG yang disebut hanya mengandung sekitar 30 persen susu.
Menurutnya, kritik tersebut telah disampaikan kepada pihak pengelola dapur MBG setempat. Namun, pihak SPPG disebut menyampaikan bahwa dalam petunjuk teknis (juknis), kandungan susu pada program MBG minimal berada di angka 20 persen.
“Itu bukan susu, tapi air susu. Nilai gizinya tidak sama sekali,” katanya.
Meski menyampaikan kritik, para wali murid menegaskan bahwa mereka tidak menolak program MBG. Sebaliknya, mereka mendukung penuh program tersebut, namun berharap adanya evaluasi menyeluruh serta transparansi terkait kualitas asupan yang diterima anak-anak.
“Harapan kami sebagai orang tua tentu kualitasnya harus maksimal. Jangan sampai anggaran besar terserap, tapi manfaat gizinya tidak terasa, hanya terlihat ‘ada’ saja. Ini soal masa depan anak-anak,” tutupnya. (fir/red)




















