Pasuruan (WartaBromo.com) – Aksi mogok pedagang dan jagal sapi di Kota Pasuruan mendapat respons dari DPRD setempat. Ketua Komisi II DPRD Kota Pasuruan, Baharudien Akbar, memastikan pihaknya akan segera memanggil dinas terkait sebagai tindak lanjut atas keluhan yang selama ini disuarakan para pelaku usaha daging.
Baharudien mengatakan, persoalan utama yang dikeluhkan pedagang adalah maraknya peredaran sapi diduga gelonggongan serta minimnya respons pemerintah dalam penanganannya.
“Memang selama ini selalu ada keluhan ke kami, bahwa pemerintah dinilai kurang cepat merespons maraknya distribusi sapi gelonggongan,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Ia mengungkapkan, sebelumnya aparat penegak hukum (APH) bersama Satreskrim Polres Pasuruan Kota telah melakukan penindakan. Bahkan, pedagang yang terindikasi menjual sapi gelonggongan sempat membuat pernyataan untuk tidak lagi berjualan di wilayah Kota Pasuruan.
Namun demikian, praktik tersebut disebut masih terus ditemukan di lapangan.
“Ini tentu kami sayangkan karena tidak sesuai dengan komitmen sebelumnya,” tegasnya.
Selain itu, Baharudien juga menyoroti kelangkaan sapi di pasaran yang turut memicu kenaikan harga. Menurutnya, kondisi ini diperparah oleh persaingan dengan jagal dari luar daerah yang berani membeli sapi dengan harga lebih tinggi.
“Akibatnya, harga jualnya bisa ditekan lebih rendah dari pedagang lokal,” jelasnya.
Ia menyebut, aksi mogok yang berlangsung pada 3 hingga 4 April 2026 ini merupakan bentuk protes pedagang agar pemerintah segera mengambil langkah konkret.
Menindaklanjuti hal tersebut, DPRD Kota Pasuruan berencana memanggil sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), di antaranya Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).
“Kami akan lakukan pemanggilan dinas terkait dan berkomunikasi dengan pimpinan DPRD agar mogok dua hari ini tidak sia-sia, serta ada solusi konkret dalam waktu dekat,” katanya.
Selain itu, DPRD juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur guna mengamankan stok sapi yang saat ini dinilai langka di Kota Pasuruan.
“Langkah awalnya, kita dorong pemberantasan atau pembatasan sapi gelonggongan. Kemudian kita upayakan pengamanan stok sapi agar pasokan kembali stabil,” tambahnya.
Baharudien menilai, persoalan ini sudah berlangsung cukup lama dan menjadi beban tersendiri bagi pedagang lokal. Bahkan, ia menyebut para jagal selama ini tetap berjualan meski dalam kondisi merugi demi menjaga pasokan kebutuhan masyarakat. (don)





















