Rakyat Rindu Penjajahan

8

Konon, pengusasa saat ini jahat, antek asing, menghambur-hamburkan anggaran, tak mau dikritik, arogan, asal bicara dan entah apa lagi.

Oleh : AbdurRozaq

Di lapak cukur rambutnya yang keropos dan miring ke sungai, Mahmud Wicaksono melamun seorang diri. Lamunan itu takkan terganggu, karena seperti biasa, takkan ada pelanggan. Mengapa Mahmud Wicaksono tetap membuka lapak cukur sialan itu, alasannya hanya satu: agak tak terlihat menganggur. Mahmud Wicaksono tetap mempertahankan statusnya sebagai pengangguran terselubung, karena hanya itu yang ia bisa. Ijazah sarjananya tak berguna, karena ia tak punya koneksi, tak punya uang untuk menyogok dan ia sudah pensiun dari dunia persilatan NGO.

Ia resah. Membuka media sosial apapun, orang kompak menjelek-jelekkan pemerintah. Para netizen suka rela menjadi buzzer gratisan, demi tumbangnya suatu rezim. Meski tak tahu rezim penggantinya akan lebih baik atau sebaliknya. Menurut berita yang ia baca, negara Cak Manap memang sedang sakit. Mata uangnya terus anjlok, beberapa wilayah ingin memisahkan diri, dan orang ingin penguasa segera diganti. Namun, jika di masa krisis seperti sekarang orang ngotot ingin mengadakan revolusi, katakanlah pemberontakan, apakah negara Cak Manap takkan lebih cepat hancur?

Konon, pengusasa saat ini jahat, antek asing, menghambur-hamburkan anggaran, tak mau dikritik, arogan, asal bicara dan entah apa lagi. Tapi, bukankah sejak dulu, siapapun penguasanya, rakyat dan kaum oposisi selalu bilang begitu? Mahmud Wicaksono yang sudah rajin membaca berita pun, pada akhirnya bimbang, sebenarnya penguasa saat ini baik atau jahat? Berbagai unggahan dan komentar di media sosial yang selalu diulang-ulang, pada akhirnya membuat akal waras Mahmud Wicaksono goyah. Mana yang benar? Batas antara fakta dan fitnah sangat tipis, bahkan di kepala seorang tukang cukur yang sarjana.

Konon di berita-berita, penguasa sudah menyita uang hasil korupsi hingga biliyunan rupiah. Konon, penguasa saat ini sudah membeli senjata untuk mempertahankan negara. Konon, penguasa saat ini sudah memberi makan kepada para siswa, meningkatkan hasil pertanian dan memburu para oligarki alias pengusaha nakal yang mencuri kekayaan negara? Konon, penguasa saat ini lumayan berani menolak utang renten luar negeri bernama IMF? Konon, penguasa saat ini ingin mengolah kekayaan alam di dalam negara, hingga harga jual ke luar negeri lebih mahal? Bukankah itu lumayan baik? Tapi kenapa berita-berita semacam itu selalu tenggelam di tengah gaduhnya komentar pengguna sosial yang –maaf—kurang suka membaca berita?

Semakin hari, postingan orang di media sosial selalu berisi amarah, sumpah serapah, keluhan, kekecewaan dan kebencian. Antar agama saling membully, antar suku merasa paling unggul, pertengkaran antar pendukung capres tetap panas, berita bohong dibagikan tanpa diteliti kebenarannya, bahkan di group-group media sosial paling santun pun, ada saja yang memposting kebencian dan caci maki.

Mahmud Wicaksono, selama ini mencoba membaca berita yang “berimbang” di berbagai media sosial. Meski berita selalu berisi kabar buruk, kadang masih terselip kabar baik. Namun entah kenapa, orang lebih menyukai kabar buruk, karena bisa dijadikan bahan untuk menyerang lawan kepentingan mereka. Hingga pada akhirnya, kegaduhan di dunia ghaib alias dunia maya, hanyalah berita buruk, berita tragis dan kebencian yang menyala-nyala.

Di media sosial kasta paling bawah –karena dihuni pecinta kebencian dan kabar buruk—adu domba merebak tanpa terkendali. Entah kenapa penguasa tak memblokir sarang kebencian itu. Apa karena takut dibilang tak mau dikritik, atau memang tidak mau bekerja?

Di media sosial kasta paling bawah, orang mendapat bayaran dengan membuat konten video dan foto. Dan celakanya, konten-konten kebencian, berita tak jelas dan sumpah serapah, lebih banyak ditonton, disukai dan dikomentari. Dengan demikian, mengalirlah uang receh ke rekening si pembuat konten.

Menurut berita yang dibaca Mahmud Wicaksono, ada seorang kakek tua asal Amerika yang menggelontorkan dana cukup besar untuk mendukung kebebasan menghujat, mengobarkan api kerusuhan dan mengkritik segala tindakan penguasa yang sebenarnya lumayan. Para ketua LSM mendapat bayaran cukup besar hanya dengan membuat narasi, berita atau konten pembuat gaduh di negara Cak Manap. Sayangnya, para konten kreator amatir seperti Yu Markonah, sama sekali tak mendapat dana itu meski selalu rajin memantik kegaduhan di media sosial biru.

Emak-emak seperti Yu Markonah, begitu semangat membuat konten-konten pas-pasan berisi keluhan, hujatan, sindirian atau pemantik perdebatan demi dolar recehan. Padahal, jika Mahmud Wicaksono renungkan dengan jernih, tindakan Yu Markonah itu sangat membahayakan negara Cak Manap.

Rakyat negara Cak Manap, sepertinya sudah rindu dengan serunya kerusuhan, ontran-ontran bahkan perang saudara. Di tengah anjloknya mata uang, krisis ekonomi sedunia, negara adidaya semakin buas, rakyat negara Cak Manap memimpikan kehancuran negaranya. Mungkin, mereka rindu dengan tawuran, kerusuhan, demonstrasi sambil membakar apa saja, menurunkan penguasa, dan militer main petasan sembarangan. Di tengah lesunya ekonomi, mereka memimpikan hal yang lebih greget, misalnya berlarian di tengah asap gas air mata, mendengar ledakan di ujung moncong laras panjang, atau terkena batu balang jumrah salah sasaran. Dengan begitu, dunia akan tahu dan semakin ganas memboikot negara mereka.

Mahmud Wicaksono heran, kenapa rakyat negara Cak Manap begitu mencintai kerusuhan dan nyawa terasa murah. Apakah mereka tak pernah menonton video atau membaca berita tentang kerusuhan di Nepal dan Iran yang ternyata ada dalangnya? Bukankah, meski krisis ekonomi, kita masih bisa ngopi dengan nikmat di warung Cak Sueb? Lantas jika negara Cak Manap ini pecah menjadi negara-negara kecil, pangkalan militer asing bercokol di setiap pulau dan tentara asing wira-wira di warung kopi, apakah itu yang mereka mimpikan?

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.