Pasuruan (WartaBromo.com) – Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dan belum sepenuhnya menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Meski sempat menunjukkan perbaikan tipis, posisi mata uang Garuda masih menjadi perhatian pelaku pasar dan dunia usaha.
Berdasarkan data terkini pada Kamis (25/6/2026) pukul 04.06 UTC, 1 dolar AS setara Rp17.936,80. Angka ini menunjukkan penguatan tipis dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.987 per dolar AS pada Rabu (24/6/2026).
Meski demikian, rupiah masih tercatat melemah dibandingkan beberapa pekan lalu. Mengutip data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (24/6/2026), rupiah bergerak di kisaran Rp17.960 per dolar AS, atau melemah 0,57 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya.
Secara tahun kalender (year to date), depresiasi rupiah telah mencapai 7,66 persen. Tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh menguatnya dolar AS di pasar global. Kondisi ini membuat banyak mata uang negara berkembang ikut tertekan, termasuk rupiah.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, BI tercatat telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali dengan total kenaikan mencapai 100 basis poin (bps) hingga berada di level 5,75 persen.
Namun, langkah tersebut belum mampu mengangkat rupiah secara signifikan. Selama periode kenaikan suku bunga tersebut, nilai tukar rupiah justru masih mengalami pelemahan sekitar 2,92 persen. Rata-rata kurs yang sebelumnya berada di level Rp17.368,53 per dolar AS berubah menjadi Rp17.877,42 per dolar AS.
Level Rp18.000 per dolar AS kini masih menjadi ambang psikologis yang terus dipantau pasar. Rupiah bahkan sempat menembus level tersebut pada 4 Juni 2026 sebelum kembali menguat.
Dengan posisi terbaru di kisaran Rp17.936,80 per dolar AS, rupiah memang bergerak lebih baik dibanding sehari sebelumnya. Namun, jaraknya yang masih sangat dekat dengan level Rp18.000 menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Indonesia belum sepenuhnya mereda. (jun)





















