Balada Tumbal Proyek Jembatan

12

“Ya memang, wak. Tapi pengambil kebijakan saat ini kan jauh lebih wingit dari demit?”

Oleh : Abdur rozaq

Cak Manap terlonjak ketika terdengar benturan sangat keras. Karena reflek pencak silatnya, meja warung Cak Sueb ia tendang. Akibatnya, beberapa gelas kopi gulung kuming. Termasuk gelas kopi Mahmud Wicaksono yang bon-bonannya belum dicatat.

“Kecelakaan, cak,” ujar Mahmud Wicaksono seraya berlari menuju jalan raya di depan warung.

“Ya Allah, kecelakaan lagi,” ujar Cak Manap seraya ikut berlari.

Jalan raya yang sangat sempit dan dipenuhi kendaraan besar itu semakin macet. Di tengah jalan, terkapar seorang pengendara, yang sepertinya baru pulang kerja. Lelaki berusia empat puluhan terkapar di atas aspal yang penuh gelombang, akibat tekanan tonase kendaraan berat. Kepalanya remuk, terlindas roda mobil trailer yang berhenti tak jauh dari tubuh lelaki itu.

“Inna lillahi, makan tumbal lagi,” seloroh Cak Sueb lemas. Beberapa orang mundur, tak tega melihat genangan darah dan isi kepala yang pecah. Mahmud Wicaksono, sudah terduduk lemas di trotoar. Ia memang tak tahan kalau melihat darah. Jangankan darah manusia, darah saat menyembelih ayam pun ia tak tahan melihatnya. Satu-satunya darah yang tak membuatnya trauma, adalah darah di malam pertama. Bahkan ia tak kapok kalau melihat darah itu.

Beberapa warga kemudian berswadaya mengamankan lalu lintas. Ada yang mengambil kain sarung untuk menutupi jasad, ada yang mengurai kemacetan. Kemacetan memang sedang parah beberapa hari terakhir. Kemacetan karena pengalihan arus lalu lintas, juga karena antrean solar yang langka.

“Kita harus demo lagi, rupanya,” seloroh Cak Paijo LSM. “Kemarin sudah digelar aksi damai tahlilan dan tabur bunga di tengah jalan, belum juga ada solusi yang nyata. Mbok ya arus kendaraan dibagi. Ada yang dialihkan melalui tol, ada yang dialihkan ke jalur utara dan sebagian lewat sini.”

“Benar, cak. Jalur lingkar selatan ini sangat sempit. Kiri kanan banyak toko muebel dan banyak mobil bongkar muat. Apalagi jalannya bergelombang, tak pernah diperbaiki sampai tuntas,” timpal Cak Soleh Las.

“Ini sudah korban yang ke berapa, cak?”

“Korban ke sembilan. Belum lagi yang kecelakaan di depan polsek kemarin.”

“Bulan Suro, memang banyak demit gentayangan,” timpal Wak Takrip.

Polisi nampak menggotong jasad korban. Sepertinya seorang tukang bangunan. Ada helm proyek di dekat tubuh korban. Ia juga mengenakan sepatu safety. Masih cukup muda, sekitar empat puluh tahunan. Entah bagaimana anak-istrinya di rumah mendapat kabar duka ini. Tadi pagi berangkat segar-bugar, kini pulang dalam kain kafan. Kepalanya hampir remuk. Siapa yang bertanggung jawab?

“Kalau di luar negeri, keluarga korban bisa menggugat pemerintah yang tak becus mengelola akses jalan. Di luar negeri, pejabat yang mengalihkan arus lalu lintas pun bisa digugat karena kurang detail memetakan jalur alternatif,” gumam Cak Soleh Las yang beberapa kali menjadi TKI. Tapi ini di negara Cak Manap. Rakyat jelata masih diperlakukan seperti era kerajaan dulu. Macam-macam, bisa kena masalah.

Setelah polisi rampung membawa korban dan mengamankan sopir mobil trailer, Mahmud Wicaksono dan kawan-kawannya kembali ke warung Cak Sueb. Rasan-rasan pemerintah di sana.

“Wes dikandani, arus lalu lintas sebaiknya dibagi,” ujar Cak Paijo LSM lagi.

“Lha sing dikandani pancen angel tuturane, cak,” timpal Cak Manap.

“Inginnya mengurangi dampak banjir dengan meninggikan jembatan, eh malah banyak meminta tumbal,” seloroh Cak Sueb.

“Tapi ini bukan tumbal proyek seperti jaman Deandles, cak,” ujar Gus Karimun. “Ini akumulasi dari sempitnya jalan, bergelombangnya aspal dan kemacetan akibat kurang jeli mengalihkan arus lalu lintas.”

“Tapi bulan Suro kan memang wingit, gus?” timpal Wak Takrip.

“Ya memang, wak. Tapi pengambil kebijakan saat ini kan jauh lebih wingit dari demit?” Wak Takrip manggut-manggut mendengar ucapan Gus Karimun.

“Jalan lingkar selatan ini kan memang sempit dan bergelombang. Apalagi banyak tikungan dan padat penduduk. Anak-anak dan ibu-ibu juga sering lalu lalang. Sebenarnya jalur lingkar utara di tengah kota, lebih aman untuk dilalui kendaraan-kendaraan besar. Lha ini kok tumplek blek di sini?”

“Bayangkan, sudah merenggut sembilan nyawa dalam beberapa waktu terakhir ini. Namun kok belum ada solusi yang lebih cerdas,” gerutu Cak Paijo LSM.

“Saat kerja di Jepang dulu,” ujar Cak Soleh Las. “Jangankan manusia, binatang saja diperhatikan keselamatannya. Jalur-jalur yang sering ada binatang liar melintas, diberi pagar dan ada petugas khusus yang berpatroli. Ada kucing mau menyeberang jalan saja, polantas sampai menyetop para pengendara. Para pengguna jalan pun begitu. Rela berhenti bahkan hanya karena ada kawanan bebek liar melintas di jalan raya.”

“Kapan ya kita bisa tertib dan dijamin keselamatan kita saat mengendara?” ujar Cak Manap berandai-andai.

“Yo mbuh ya?”

“Kalau dipikir-pikir, kita ini sudah terlalu sabar, cak. Kita ini manut, tak pernah neko-neko. Pajak terus naik diam-diam, para koruptor ugal-ugalan, para penguasa selalu mencitrakan diri mereka sangat bertanggung jawab, kita diam saja meski fasilitas dan hak kita sebagai jeragan, sebagai bos, selalu dilayani ala kadarnya. Saking cintanya kepada negara, dikemplang, dibohongi, dikuyo-kuyo, kita tak pernah memberontak kepada negara,” ujar Mahmud Wicaksono seraya memesan kembali segelas kopi. Dan, kembali mencatat bon-bonan utangan.

*Hanya fiksi semata, jika ada peristiwa dan lokasi yang mirip, hanya kebetulan

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.