Tak Hanya Yadnya Karo dan Kasada, Ini 5 Upacara Adat Suku Tengger

40

Pasuruan (WartaBromo.com) – Masyarakat Suku Tengger tidak hanya dikenal melalui Hari Raya Karo atau Yadnya Kasada. Di balik kehidupan yang masih lekat dengan adat istiadat, terdapat sejumlah upacara tradisional yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Berbagai ritual tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Tengger. Selain memiliki nilai religius, setiap upacara juga mengandung filosofi tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Berikut lima upacara adat Suku Tengger yang masih dijalankan hingga saat ini:

1. Yadnya Kasada

Yadnya Kasada atau Kasodo merupakan upacara adat paling terkenal di kalangan masyarakat Tengger. Ritual ini digelar setiap malam ke-14 bulan Kasada menurut kalender Tengger dan dipusatkan di Pura Luhur Poten, kawasan Lautan Pasir Gunung Bromo.

Setelah berdoa di pura, masyarakat membawa berbagai sesaji berupa hasil bumi, ternak, hingga makanan tradisional untuk kemudian dihaturkan ke kawah Gunung Bromo.

Persembahan tersebut menjadi simbol rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi sekaligus permohonan keselamatan, keberkahan, dan perlindungan bagi masyarakat Tengger. Hingga kini, Yadnya Kasada juga menjadi salah satu agenda budaya yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara.

2. Hari Raya Karo

Hari Raya Karo menjadi salah satu upacara adat paling sakral bagi masyarakat Tengger. Perayaan ini merupakan momentum untuk menghormati leluhur, mengucapkan syukur, serta mempererat hubungan antarkeluarga dan masyarakat.

Selama perayaan berlangsung, warga membersihkan rumah, menyiapkan hidangan tradisional, hingga berkumpul bersama keluarga di pawon atau dapur yang dianggap sebagai pusat kehidupan spiritual dalam rumah adat Tengger.

Rangkaian Hari Raya Karo juga diisi berbagai ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan berkah untuk kehidupan yang lebih baik.

3. Entas-Entas

Entas-Entas merupakan upacara adat yang berkaitan dengan kematian. Ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Dalam tradisi masyarakat Tengger, upacara tersebut bertujuan mengantarkan roh menuju alam keabadian agar memperoleh ketenangan dan tidak lagi memiliki keterikatan dengan kehidupan dunia.

Prosesi biasanya dilakukan beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah pemakaman, bergantung pada kesiapan keluarga. Berbagai doa, sesaji, hingga ritual simbolis menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Entas-Entas.

4. Wiwit

Sebagai masyarakat agraris, warga Tengger juga memiliki tradisi Wiwit yang dilaksanakan menjelang masa panen. Dalam upacara ini, masyarakat membawa hasil pertanian seperti kentang, jagung, dan sayuran untuk didoakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang diberikan Tuhan.

Selain bernilai spiritual, Wiwit menjadi ajang mempererat kebersamaan antarwarga sekaligus memperkuat budaya gotong royong yang masih terjaga di kawasan Tengger.

5. Unan-Unan

Upacara Unan-Unan merupakan ritual adat berskala besar yang umumnya diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Tujuan utama upacara ini adalah membersihkan desa dari berbagai gangguan serta memohon keselamatan bagi seluruh masyarakat.

Seluruh warga terlibat dalam berbagai prosesi, mulai dari pembersihan tempat ibadah, penyajian sesaji, hingga ritual tolak bala. Perayaan Unan-Unan juga dimeriahkan dengan berbagai kesenian tradisional, seperti tari, gamelan, dan pertunjukan budaya khas Tengger.

Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Tengger terus menjaga warisan budaya leluhur di tengah perkembangan zaman. (Jun)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.