Probolinggo (WartaBromo.com) – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo mengeluarkan tausiyah yang meminta seluruh rangkaian perayaan digelar secara kreatif tanpa mengabaikan norma agama dan kesusilaan.
Salah satu poin yang mendapat perhatian adalah larangan menampilkan hiburan yang mengandung unsur pornografi, erotisme, maupun kemaksiatan dalam karnaval dan pawai.
Tausiyah Nomor 005/MUI/KTPRB/VIII/2026 itu telah disampaikan kepada Pemerintah Kota Probolinggo sebagai bahan pertimbangan dalam penyelenggaraan berbagai agenda peringatan HUT RI dan Hari Jadi Kota.
MUI berharap seluruh kegiatan tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga mencerminkan nilai religius, etika, dan budaya bangsa.
Dalam dokumen tersebut, MUI mengimbau pemerintah, panitia, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga peserta karnaval untuk menghindari penampilan berupa tarian, joget, maupun bentuk hiburan lain yang mengarah pada pornografi dan erotisme.
Peserta juga diminta mengenakan pakaian yang sopan serta tidak menampilkan busana atau gaya yang bertentangan dengan norma moral masyarakat.
Tak hanya itu, MUI juga meminta jadwal karnaval dan pawai disusun dengan mempertimbangkan waktu salat. Panitia diharapkan memberi kesempatan kepada peserta untuk menunaikan ibadah tepat waktu sehingga kemeriahan perayaan tidak mengesampingkan kewajiban keagamaan.
Ketua Umum MUI Kota Probolinggo, Prof. Dr. KH. Muhammad Sulthon, MA, mengatakan tausiyah tersebut bukan dimaksudkan membatasi kreativitas masyarakat dalam merayakan kemerdekaan, melainkan menjadi pedoman agar perayaan tetap berada dalam koridor nilai-nilai agama dan budaya.
“Kami ingin karnaval tetap kreatif dan menghibur, tetapi jangan sampai menghadirkan pertunjukan yang mengandung pornografi, erotisme, atau bertentangan dengan norma masyarakat. Kemerdekaan harus dirayakan dengan cara yang bermartabat,” kata Muhammad Sulthon.
Menurutnya, HUT Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kota Probolinggo merupakan momentum untuk memperkuat rasa syukur, nasionalisme, serta persaudaraan di tengah masyarakat. Karena itu, seluruh pihak diajak menjadikan setiap kegiatan sebagai sarana edukasi yang mempererat persatuan, bukan sekadar hiburan.
“Perayaan ini harus menjadi ruang untuk menumbuhkan akhlak, kebersamaan, dan kecintaan kepada bangsa, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat,” ujarnya.
Selain memberikan panduan kepada panitia, MUI juga mengajak masyarakat menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, serta menghormati hak pengguna jalan selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Harapannya, peringatan HUT RI dan Hari Jadi Kota Probolinggo tahun ini mampu menghadirkan suasana yang meriah, aman, religius, dan bermartabat.
Hari Jadi Kota Probolinggo diperingati setiap tanggal 4 September, di mana pada tahun 2026 ini akan menandai hari jadi yang ke-667. (saw)





















