Kebakaran Bromo Kian Meluas, BNPB Turunkan Helikopter Water Bombing

16
Helikopter water bombing milik BNPB dikerahkan untuk mengatasi karhutla do kawasan TNBTS. Foto : istimewa

Probolinggo (WartaBromo.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas. Kondisi tersebut mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat operasi pemadaman melalui jalur udara.

Hingga Kamis (6/8/2026) sore, sekitar 127 hektare kawasan konservasi dilaporkan terdampak kebakaran. Kobaran api kini bergerak ke arah Puncak B29 di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang dan Jemplang, Kabupaten Malang.

Dua unit helikopter water bombing disiapkan untuk membantu tim gabungan yang selama beberapa hari terakhir menghadapi medan ekstrem di lereng Gunung Bromo. Dukungan udara dinilai penting karena sebagian besar titik api berada di kawasan berbukit, tertutup vegetasi kering, dan sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan pengerahan helikopter merupakan langkah percepatan agar pengendalian api lebih efektif.

“Sebagai dukungan operasi pemadaman, kami menyiapkan dua helikopter tipe Mi atau Sikorsky. Penempatannya menyesuaikan kesiapan armada dan kebutuhan di lapangan,” kata Suharyanto.

Menurut dia, penggunaan helikopter bukan hal baru dalam penanganan kebakaran di Bromo. Saat kebakaran besar melanda kawasan yang sama pada 2023, operasi water bombing terbukti mampu menekan penyebaran api di lokasi yang sulit dijangkau personel darat.

Dua helikopter tersebut telah diberangkatkan dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada Kamis pagi. Sebelum menuju kawasan Bromo, armada dijadwalkan transit di Surabaya dan diperkirakan mulai beroperasi pada Jumat (7/8/2026), apabila kondisi cuaca memungkinkan.

Di lapangan, tim gabungan masih berjibaku menghambat laju api yang terus bergerak mengikuti arah angin. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, R. Oemar Sjarief, mengatakan perkembangan terakhir menunjukkan kebakaran tidak lagi terpusat di Blok Bantengan.

“Luas area yang terdampak kini diperkirakan mencapai sekitar 127 hektare. Api bergerak menuju kawasan Jemplang dan terus mengarah ke Puncak B29, sehingga seluruh personel difokuskan untuk menahan rambatannya,” ujar Oemar.

Menurutnya, angin pegunungan dan vegetasi yang mengering akibat musim kemarau menjadi faktor utama yang membuat api cepat meluas. Karena itu, selain melakukan pemadaman, petugas juga membuat sekat bakar dan melakukan pendinginan di titik-titik yang berpotensi menjadi jalur rambatan api.

Operasi penanganan melibatkan BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Jawa Timur, Balai Besar TNBTS, Manggala Agni, Perhutani, TNI, Polri, Damkar, relawan, hingga masyarakat sekitar. Di lokasi yang sulit dijangkau, petugas masih mengandalkan fire beater, backpack sprayer, serta dukungan drone penyemprot untuk mengendalikan kobaran.

Sementara itu, Kementerian Kehutanan memastikan pengamanan kawasan konservasi tetap menjadi prioritas selama proses pemadaman berlangsung.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan kebakaran di Bromo tidak hanya berdampak terhadap bentang alam, tetapi juga mengancam habitat flora dan fauna yang hidup di kawasan konservasi.

“Bromo memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Karena itu, upaya pemadaman, penyelidikan penyebab kebakaran, hingga pemulihan kawasan harus berjalan beriringan. Kami juga mengajak masyarakat ikut berperan mencegah munculnya titik api baru,” katanya.

Hingga Jumat pagi, operasi pemadaman masih berlangsung di sejumlah titik aktif. Pemerintah berharap tambahan armada water bombing dapat mempercepat pengendalian kebakaran sekaligus mencegah kobaran api meluas ke kawasan Puncak B29 dan area konservasi lainnya. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.