Bukan dari Jalur Wisata, Api Kebakaran Bromo Diduga Berawal dari Jalur Tikus Warga

15

Probolinggo (WartaBromo.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diduga bermula dari jalur terabasan yang biasa digunakan warga. Titik awal api disebut berada di Blok Bantengan, kawasan di luar jalur wisata resmi Gunung Bromo.

Informasi tersebut sekaligus mempersempit lokasi awal munculnya api yang kemudian merambat dan membakar kawasan konservasi hingga sekitar 176 hektare.

Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, mengatakan Blok Bantengan bukan merupakan kawasan yang menjadi jalur kunjungan wisatawan. Lokasi tersebut justru memiliki jalur pintas yang biasa digunakan sebagian warga untuk melintas menuju wilayah Argosari, Kabupaten Lumajang.

“Sumber api berada di bagian atas, di Blok Bantengan. Itu bukan lokasi wisata dan bukan jalur umum pengunjung. Di sana ada jalur terabasan yang biasa digunakan warga,” kata Endrip, Sabtu (8/8/2026).

Jalur tersebut menghubungkan kawasan Jemplang dengan Desa Argosari. Karena berada di kawasan perbukitan, akses menuju lokasi kebakaran juga tidak mudah dijangkau kendaraan maupun petugas pemadam.

Dari titik awal tersebut, kobaran api kemudian menjalar mengikuti kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau. Angin kencang turut membuat api bergerak cepat dan memunculkan titik-titik kebakaran baru di kawasan Bromo.

Hingga Jumat (7/8/2026) pagi, luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 176 hektare. Tim gabungan masih melakukan pemadaman dan penyisiran, terutama pada titik api yang berada di lereng serta tebing dengan medan ekstrem.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Namun, berdasarkan kondisi di sekitar lokasi awal, salah satu dugaan sementara mengarah pada aktivitas manusia.

Rudijanta menyebut adanya kemungkinan aktivitas membuat api untuk menghangatkan tubuh di kawasan yang memiliki suhu dingin.

“Dugaan sementara ada aktivitas warga yang membuat perapian untuk menghangatkan tubuh. Tetapi ini masih dugaan dan kami masih melakukan pendalaman untuk memastikan sumber api,” ujar Rudijanta.

Menurut dia, keberadaan jalur tradisional di sekitar lokasi menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam penelusuran sumber kebakaran.

Meski demikian, TNBTS belum menyimpulkan bahwa aktivitas tersebut merupakan penyebab kebakaran. Petugas masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui bagaimana api pertama kali muncul dan kemudian merambat ke kawasan hutan.

Sementara penyebab kebakaran ditelusuri, penanganan api terus diperkuat. Beberapa titik masih belum sepenuhnya padam sehingga petugas gabungan harus melakukan pemadaman secara berulang.

TNBTS juga mendapat dukungan 3 helikopter water bombing yang disiagakan di Lapangan Udara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang. Armada tersebut dipersiapkan untuk menjangkau titik api yang sulit didatangi melalui jalur darat.

Pemadaman melibatkan unsur TNBTS bersama Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, Perhutani, relawan, dan masyarakat. Strategi penanganan disesuaikan dengan kondisi medan dan arah pergerakan api.

Di tengah proses pemadaman, Balai Besar TNBTS juga melakukan evaluasi terhadap kawasan yang terdampak. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui tingkat kerusakan sekaligus memastikan api tidak kembali muncul dari titik yang sebelumnya telah dinyatakan padam.

TNBTS mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menyalakan api di dalam maupun sekitar kawasan konservasi, terutama saat musim kemarau ketika vegetasi mengering dan risiko kebakaran meningkat.

Sebab, jalur terabasan yang semula hanya menjadi akses pintas warga kini menjadi bagian penting dalam penelusuran asal mula kebakaran yang telah melahap ratusan hektare kawasan Bromo. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.