BNPB Targetkan Karhutla Bromo Padam Jumat, Luas Terdampak Hampir 900 Hektare

25

Probolinggo (WartaBromo.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memasuki hari kesembilan. Luas area terdampak kini mendekati 900 hektare dan api telah menyebar ke empat kabupaten.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan seluruh titik api yang masih aktif di kawasan Bromo dapat dikendalikan dan dipadamkan paling lambat Jumat pekan ini.

Target tersebut penting karena tiga helikopter water bombing yang saat ini dikerahkan ke Bromo juga dibutuhkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di wilayah lain.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan operasi pemadaman di Bromo akan terus dimaksimalkan selama beberapa hari ke depan. Petugas diminta memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia agar penanganan dapat segera dituntaskan.

“Targetnya sudah jelas. Kami upayakan dua titik ini selesai Jumat. Setelah itu, tiga helikopter water bombing akan kami geser ke tempat lain yang juga membutuhkan penanganan kebakaran,” kata Suharyanto.

Karhutla Bromo pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8/2026). Dalam perkembangannya, api merambat ke sejumlah wilayah di sekitar kawasan TNBTS.

Area terdampak tersebar mulai dari Blok Bantengan di Kabupaten Lumajang, Pundak Lembu dan P-30 di Kabupaten Probolinggo, kawasan Poncokusumo-Jemplang di Kabupaten Malang, hingga Wonokitri di Kabupaten Pasuruan.

Penanganan dilakukan melalui dua strategi, yakni pemadaman dari darat dan udara. Dari jalur darat, petugas melakukan penyisiran menggunakan alat pemukul api atau gebyok untuk memutus rambatan dan mendinginkan area yang telah terbakar.

Sekitar 800 personel gabungan dikerahkan secara bergantian. Mereka berasal dari TNI, Polri, Balai Besar TNBTS, sejumlah unit taman nasional lainnya, serta relawan dan masyarakat sekitar.

Namun, operasi darat menghadapi medan yang tidak mudah. Sejumlah titik api berada di lereng dan perbukitan dengan kemiringan sangat terjal sehingga tidak dapat dijangkau secara langsung oleh petugas.

Keterbatasan peralatan juga menjadi persoalan. Jumlah gebyok yang tersedia belum sebanding dengan kebutuhan di lapangan, sementara personel harus bekerja bergantian untuk menjaga kondisi fisik selama operasi.

Pemadaman udara menggunakan tiga helikopter water bombing juga belum sepenuhnya optimal. Salah satu kendala utama adalah lokasi sumber air yang cukup jauh dari titik kebakaran.

Helikopter harus mengambil air dari kawasan Ranu Pani dan Ranu Kumbolo sebelum kembali menuju lokasi kebakaran. Jarak tersebut membuat waktu tempuh setiap sorti menjadi lebih panjang dan mengurangi frekuensi penyiraman ke titik api.

Di sisi lain, kondisi vegetasi yang mengering akibat musim kemarau membuat api lebih mudah menjalar ketika diterpa angin.

BNPB menyebut kondisi cuaca dan karakter medan menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas operasi pemadaman. Karena itu, pemadaman darat dan udara terus dilakukan secara bersamaan.

Suharyanto menegaskan, penyelesaian kebakaran Bromo menjadi prioritas selama beberapa hari ke depan. Namun, setelah kondisi dinyatakan aman, armada udara harus segera dialihkan ke daerah lain yang juga menghadapi ancaman karhutla.

“Helikopter ini juga dibutuhkan di wilayah lain. Karena itu, kami harus memastikan penanganan di Bromo selesai terlebih dahulu agar dukungan udara bisa digeser ke lokasi lain,” ujarnya.

Dengan target tersebut, petugas gabungan kini berpacu dengan waktu. Dua titik yang masih menjadi fokus penanganan diharapkan dapat segera dikendalikan sehingga ancaman munculnya kembali api di kawasan Bromo dapat ditekan.

Selain memadamkan api, petugas juga melakukan pendinginan dan penyisiran untuk memastikan bara yang tersisa tidak kembali menyala. Langkah ini menjadi penting karena material vegetasi kering masih berpotensi menjadi bahan bakar apabila terkena embusan angin. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.