BPJS Ketenagakerjaan dan UB Buka Jalan Kuliah bagi Anak Pekerja, Perlindungan Tak Berhenti Saat Risiko Terjadi

13

Pasuruan (WartaBromo.com) – Risiko yang dialami seorang pekerja tidak seharusnya ikut memutus masa depan keluarganya. Ketika pencari nafkah meninggal dunia atau mengalami kecelakaan kerja, keberlangsungan pendidikan anak menjadi salah satu hal yang harus tetap dijaga.

Semangat inilah yang menjadi salah satu fokus kolaborasi BPJS Ketenagakerjaan bersama Universitas Brawijaya (UB). Melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS), kedua institusi memperluas manfaat jaminan sosial hingga bidang pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi.

Salah satu bentuk konkretnya adalah membuka kesempatan bagi anak atau ahli waris penerima manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti jalur afirmasi penerimaan mahasiswa baru Universitas Brawijaya.

Kesempatan tersebut tetap mengikuti persyaratan dan proses seleksi akademik yang berlaku di UB.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memastikan risiko yang dialami pekerja tidak berubah menjadi penghalang bagi anak atau ahli waris untuk melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik.

“Bagi kami, manfaat jaminan sosial tidak boleh berhenti ketika diterima oleh ahli waris. Kami ingin manfaat tersebut menjadi jalan bagi keluarga pekerja untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan potensi, dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat.

Manfaat kerja sama BPJS Ketenagakerjaan dan UB tidak hanya menyentuh akses pendidikan. Sinergi tersebut juga diperluas melalui pengabdian kepada masyarakat dan pemberdayaan ekonomi.

BPJS Ketenagakerjaan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai program pembinaan dan inkubasi bisnis yang dimiliki UB, termasuk Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian Berkelanjutan (PEKA).

Program tersebut mengusung konsep 3P, yakni pelatihan, produktif, dan profit.

Melalui pendekatan tersebut, penerima manfaat tidak hanya diberikan pelatihan, tetapi juga didampingi agar mampu mengembangkan usaha dan memperoleh penghasilan yang berkelanjutan.

Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Pandaan, Ravika Imania Rasyid, menilai kolaborasi semacam ini menjadi bagian penting dalam menghadirkan manfaat jaminan sosial yang lebih luas bagi keluarga pekerja.

“Perlindungan jaminan sosial tidak berhenti pada saat manfaat diberikan. Yang lebih penting adalah bagaimana manfaat tersebut bisa menjadi pijakan bagi keluarga pekerja untuk bangkit, melanjutkan pendidikan, mengembangkan usaha, dan membangun kehidupan yang lebih mandiri,” ujar Ravika.

Menurutnya, sinergi dengan perguruan tinggi seperti UB membuka ruang yang lebih luas untuk menghadirkan manfaat tersebut, tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengembangan kapasitas dan pemberdayaan ekonomi. (Jun)

Kolaborasi BPJS Ketenagakerjaan dengan UB juga mendapat apresiasi dari Rektor Universitas Brawijaya Widodo.

Ia menilai kerja sama tersebut sejalan dengan komitmen UB dalam memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima manfaat.

“BPJS Ketenagakerjaan tidak sekadar memberikan proteksi, tetapi juga memberikan manfaat untuk peningkatan kesejahteraan keluarga. Kalau kita bersinergi dengan program-program pembinaan yang ada di UB, tentu akan bagus sekali,” ujar Widodo.

Bekal Mahasiswa Sebelum Masuk Dunia Kerja

Kolaborasi tersebut kemudian hadir langsung di tengah kehidupan akademik. Dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru Universitas Brawijaya di Malang, Senin (10/8), Saiful hadir sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman dan wawasan kepada mahasiswa baru.

Di hadapan mahasiswa, Saiful tidak hanya berbicara mengenai peran generasi muda, tetapi juga pentingnya memahami perlindungan sebelum memasuki dunia kerja.

Ia mengingatkan sedikitnya ada tiga hal yang perlu diperhatikan calon pekerja, yakni legalitas dan kredibilitas perusahaan, kejelasan perjanjian kerja, serta status kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

“Ketika nanti masuk ke dunia kerja, jangan hanya bertanya berapa gajinya. Tanyakan juga apa fasilitas atau benefit yang diterima dan apakah ada perlindungan BPJS Kesehatan serta BPJS Ketenagakerjaan. Karena bekerja bukan hanya soal mendapatkan penghasilan, tetapi juga memastikan diri kita terlindungi ketika menghadapi risiko,” ujar Saiful.

Pesan tersebut diharapkan tidak berhenti di lingkungan kampus. Mahasiswa UB nantinya juga akan berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Mereka akan bersentuhan dengan petani, pedagang, pelaku usaha, pekerja informal, hingga berbagai kelompok masyarakat lainnya. Interaksi tersebut menjadi ruang strategis untuk ikut memperluas literasi mengenai pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan.

“Mahasiswa memiliki posisi yang strategis karena mereka akan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Kami berharap pengetahuan mengenai jaminan sosial yang mereka peroleh dapat dibawa lebih jauh, sehingga semakin banyak pekerja memahami pentingnya perlindungan sebelum risiko terjadi,” kata Saiful.

Pada akhirnya, kerja sama BPJS Ketenagakerjaan dan Universitas Brawijaya tidak berhenti pada satu bentuk manfaat.

Perlindungan hadir di lingkungan akademik, pendidikan tetap terbuka bagi anak pekerja, mahasiswa ikut menjadi bagian dari literasi jaminan sosial, sementara penerima manfaat memiliki ruang untuk tumbuh dan membangun kemandirian ekonomi.

Bagi BPJS Ketenagakerjaan, hal tersebut menjadi wujud Value Beyond Protection—bahwa manfaat jaminan sosial tidak berhenti ketika risiko terjadi atau manfaat dibayarkan, tetapi terus memberikan dampak bagi pekerja dan keluarganya.

Sebab, perlindungan yang baik bukan hanya membantu seseorang melewati risiko. Lebih dari itu, perlindungan harus memastikan setelahnya masih ada pendidikan yang bisa diteruskan, kehidupan yang bisa dibangun, dan masa depan yang bisa diperjuangkan. (Fir)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.