P3GI dan Kisah Tebu Ajaib Penyelamat Industri Gula 

22

Oleh : Raga Rahmat

Pernah terbayang bagaimana sebuah wabah nyaris melumpuhkan indsutri gula? Pada penghujung abad ke-19, sebuah wabah menyerang tanaman tebu dan mengancam keberlangsungan industri yang menjadi salah satu penopang ekonomi kolonial. Pertumbuhan tebu terganggu, produksi terancam, dan para pengusaha gula menghadapi kerugian besar. Namun, d tengah ancaman tersebut, Pasuruan memainkan peran penting dalam upaya menyelamatkan industri gula. Dari sebuah pusat penelitian gula di wilayah Pasuruan, berbagai upaya ilmiah dilakukan untuk mengatasi wabah, hingga melahirkan inovasi yang kelak menjadi bagian penting dalam sejarah gula di Jawa.

Pasuruan Sebagai Kota Gula

Menurut Solichan Arif, abad ke-19 menjadi masa kejayaan Pasuruan sebagai salah satu pusat industri gula di Pulau Jawa. Pemerintah kolonial memanfaatkan kesuburan tanah Pasuruan untuk memperluas perkebunan tebu hingga ke berbagai desa yang padat penduduk. Perkembangan industri ini turut mengubah pola pertanian masyarakat. Lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam padi beralih menjadi perkebunan tebu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri gula di Pasuruan.

Pesatnya perkembangan industri gula juga menarik banyak pengusaha dan saudagar untuk mendirikan pabrik di wilayah Pasuruan. Skala pabrik yang dibangun beragam, mulai dari usaha kecil hingga pabrik berkapasitas besar. Dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie terbitan 1849, tercatat sebanyak 18 pabrik gula berpoerasi di pasuruan. Sementara itu, buku Bandit-bandit Pedesaan di Jawa mencatat perkembangan yang jauh lebih pesat pada periode 1849-1860, dengan 91 pabtik gula berskala kecil dan besar yang mulai beroperasi. Catatan tersebut menunjukkan betapa pentingnya Pasuruan dalam perkembangan industri gula apda pertengahan abad ke-19. Bahkan, Pasuruan sempat dijuluki sebagai “Pasar Uang” karena perputaran ekonomi yang berkembang pesat untuk masyarakat Eropa di Pulau Jawa bagian timur.

Namun, di balik pesatnya pertumbuhan industri gula di Pasuruan, terdapat persoalan yang mengancam keberlangsungan usaha tersebut. Ketergantungan pada tanam tebu sebagai baku utama membuat perkebunan dan pabrik gula rentan terhadap ganguan yang menyerang tanaman. Ketika wabah tebu melanda pada tahun 1880-an, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pengusahan dan pemilik pabrik. Wabah yang menyerang tebu tersebut menjadikan industri gula di Pasuruan terancam, ditambah dengan munculnya gula buatan hasil laboratorium di Eropa.

Pabrik Gula Wonorejo

Wabah Sereh, P3GI, dan Lahirnya Tebu Ajaib

Di balik pesatnya pertumbuhan industri gula, terdapat persoalan yang mengancam keberlangsungan usaha tersebut. Ancaman yang bernama wabah Sereh (Serehziekte) melanda perkebunan tebu di Hindia-Belanda pada dekade 1880-an. Wabah tersebut menjadi pukulan berat bagi industri gula yang selama puluhan tahun sudah berkembang, termasuk di wilayah Pasuruan.

Wabah Sereh menyebabkan pertumbuhan tanaman tebu terganggu sehingga hasil panen merosot, bahkan sebagian tanaman tidak menghasilkan batang yang layak diolah menjadi gula. Kondisi ini membuat pengusaha gula mengalami kerugian besar karena tanaman yang telah ditanam tidak mampu menghasilkan produksi sesuai harapan. Dalam beberapa sumber yang berasal dari Belanda, harga gula yang semula mencapai 60 gulden per pikul merosot menjadi sekitar 30 gulden per pikul. Penurunan harga yang disertai kegagalan panen membuat industri gula menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus.

Pemerintah Hindia-Belanda dengan cepat merespon hal tersebut dengan mendirikan sebuah laboratorim yang berfokus kepada perkebunan gula di Jawa. Dalam website resmi P3GI, P3GI didikan pada 9 Juli 1887 di Pasuruan dengan nama Proefstation Oost-Java atau Pusat Penelitain di Jawa Timur. Dalam sumber lain, Surat Kabar Hindia-Belanda mengabarkan bahwa Pusat Penelitian Gula di Pasuruan dibuka dengan memanfaatkan lahan dan bangunan bekas pabrik gas untuk penerangan di wilayah Jawa Timur.

Laboratorium ini mulai mengintensifkan berbagai penelitian untuk menemukan solusi dalam mengatasi wabah sereh yang telah menyebar ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Penelitian ini berfokus pada upaya menemukan cara untuk menekan penyebaran penyakit sekaligus memulihkan produktivitas tanaman tebu yang terdampak. Berbagai upaya dilakukan untuk emahami penyebab munculnya wabah, mengamati gejala yang ditimbulkan pada tanaman, serta mencari varietas tebu yang lebih tahan terhadap serangan penyakit.

Dr. Philippus van Harreveld

Pada tahun 1921, di bawah kepemimpinan Direktur Dr. Philippus van Harreveld, Proefstation Oost-Java berhasil mengembangkan varietas tebu unggul yang mampu menghadapi ancaman wabah sereh. Penelitian tersebut dipimpin oleh ahli botani Dr. Jacob Jeswiet bersama timnya melalui serangkaian percobaan persilangan yang melibatkan tebu liar (gelagah). Upaya ini menghasilkan varietas tebu bernama POJ 2878, yang memiliki produktivitas tinggi serta ketahanan terhadap penyakit yang menyerang tanaman tebu. Dr. Philippus van Harreveld kemudian melakukan impor berbagai varietas tebu yang tmemiliki banyak keunggulan ke belahan dunia barat, salah satunya Amerika. Dalam dokumen resimu Departemen Pertanian Amerka Serikat, beberapa bibit tebu tersebut dikirim pada tanggal 24 Agustus 1921.

Keberhasilan pengembagan POJ 2878 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah industri gula di Hindia-Belanda. Varietas ini dinilai mampu menjawab persoalan yang selama bertahun-tahun mengancam produktivitas perkebunan tebu. Berkat keunggulannya, POJ 2878 kemudian dikenal dengan julukan Wonder Cane of Java atau “tebu ajaib dari Jawa”. Kisah industri gula Pasuruan beserta peran P3GI menjadi kisah legendaris bagi masyarakat pada saat itu. Dengan ini, P3GI bisa menjadi sebuah potensi yang dimiliki Kota Pasuruan untuk dikembangkan menjadi pusat pembelajaran serta wisata sejarah yang menarik bagi wisatawan yang datang ke Kota Pasuruan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arif, Solichan. Kisah Pasuruan, Raja Pabrik Gula di Jawa. 01 Februari 2023. news.okezone.com (diakses Juli 22, 2025)
  2. https://p3gi.co.id/sejarah/
  3. Boissevain, Charles. TROPISCH NEDERLAND INDRUKKEN EENER REIS DOOR NEDERLANDSCH-INDIES. 1909.
  4. Hoevell, D.W.R Van. “Tijdschrift Voor Nederlandsch Indie.” 1849.
  5. U.S Department of Agriculture. “Inventory of Seeds and Plants Imported.” 30 September 1921.
Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.