Bangil (WartaBromo.com) – Praktik dugaan pengemasan ulang beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, diduga telah berlangsung kurang dari 10 hari. Dalam kurun waktu tersebut, sebanyak 70 ton beras SPHP disebut telah dikemas ulang sebelum kembali dijual ke sejumlah wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Kasat Reskrim Polres Pasuruan, AKP Rizky Akbar Kurniadi, mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan, aktivitas tersebut diduga melibatkan sejumlah orang dengan peran berbeda. Salah satunya berinisial IH yang diduga menjadi pihak pembeli sekaligus pelaksana pengemasan ulang beras SPHP.
IH diduga membeli sebanyak 20 ton beras SPHP dari F dan Y. Beras tersebut diambil langsung dari Gudang Bulog Kebon Agung, Kabupaten Malang, menggunakan dua unit truk bernomor polisi N 8415 UG dan N 8605 ES.
Selanjutnya, beras dibawa ke rumah IH di lingkungan Bakalan, Desa Beji, Kecamatan Beji. Di lokasi tersebut, kemasan asli beras SPHP diduga dibongkar, kemudian isinya dipindahkan ke dalam karung polos berwarna hijau berkapasitas 50 kilogram.
“Pengemasan ulang tersebut melibatkan saudara W, SD, dan AW,” ungkap Rizky saat memberikan keterangan resminya pada Jumat (30/10/2026).
Dalam menjalankan aktivitasnya, IH juga diduga meminta bantuan Y untuk mendatangkan W, SD, dan AW dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menuju Kabupaten Pasuruan. Ketiganya diduga diperbantukan untuk melakukan proses pengemasan ulang beras SPHP tersebut.
Setelah dikemas ulang, beras kemudian diduga dipasarkan kembali oleh IH ke sejumlah wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Rizky menyebut, aktivitas pengemasan ulang tersebut telah dilakukan sejak 20 Oktober 2026. Hingga pengungkapan kasus, total beras SPHP yang diduga telah dikemas ulang mencapai 70 ton.
Aktivitas tersebut terungkap pada Kamis (29/10/2026) atas laporan masyarakat.
Sementara itu, Kapolres Pasuruan, AKBP Irawan Setyono mentakan, pihaknya saat ini tengah melakukan penyelidikan mendalam mengenai dugaan keterlibatan sejumlah pihak, termasuk oknum Bulog dalam kelancaran rantai pasok terhadap pelaku.
“Keterlibatan pihak lain masih kami dalami, mulai dari hulu di gudang Bulog, sampai pada penjual eceran di toko kelontongan maupun dipasar,” jelasnya. (Fir)





















