Buku Ultah yang Jadi Bisnis Zaki

0
222
Zaki sering terima pesanan seperti itu. Buku tulis yang sampulnya foto si siswa. Terutama siswi. Yang halaman dalamnya juga foto. Di tiap pojoknya. Narsistis sudah sampai ke buku tulis. Menimbulkan peluang bisnis  baru. Seperti yang dikerjakan Zaki.

Oleh: Dahlan Iskan

Seorang santri berkata pada saya. Dengan penuh sopannya. Dengan suara yang lirih: minta nasehat. Tentang apa yang harus ia lakukan. Setelah tamat dari pondok pesantren nanti.

Hari itu, Rabu lalu, ia ditugaskan menjemput saya. Di bandara Banyuwangi. Untuk ke Sukorejo. Ke pondok bintang sembilan Salafiyah. Yang santrinya 17.000. Yang telaknya di timur Situbondo. Yang didirikan kyai terkemuka almaghfiroh KH As’ad Syamsul Arifin.

Pondok itu memiliki juga sekolah formal. Sampai tingkat universitas. Namanya: Universitas Ibrahimy. Ke universitas itulah saya datang. Diundang oleh mahasiswanya. Yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Ibrahimy.

Yang minta nasehat tadi bernama Ahmad Zaki. Kuliah di jurusan informatika. Semester tujuh.

Sebagai orang yang pernah nyantri saya masih ingat: gaya permintaan nasehat seperti itu adalah ‘kata lain’ dari keinginannya untuk berekspresi. Santri yang bicara seperti itu pada dasarnya tidak benar-benar minta nasehat. Hanya ingin mendapat kesempatan berbicara. Tapi santri selalu merasa tidak sopan kalau langsung bicara. Santri tidak dibiasakan ini: mengekspresikan apa yang ingin ia katakan sesungguhnya. Itu tidak tawaduk.

Maka saya pun tidak langsung memberi nasehat. Saya justru bertanya pada Zaki. Banyak sekali pertanyaan. Mulai dari latar belakang keluarganya. Sampai kuliahnya.

Kemudian, saya mengajukan pertanyaan ini: Anda sendiri kelak ingin melakukan apa?
“Saya sedang belajar menjalankan bisnis pak,” katanya.

Nah, ya kan? Zaki kelihatannya ingin mengekspresikan ini: bahwa ia sudah berani berbisnis. Sambil kuliah. Ia tahu saya baru saja mendapat penghargaan: Santri of the Year. Di kategori inspirasi bisnis. Di Hari Santri yang lalu. Ia juga ingin jadi santri yang berbisnis.

“Boleh tahu bisnis apa,” tanya saya.

“Percetakan,” jawabnya.

“Sudah berapa lama.”

“Dua tahun.”

Saya kaget. Tidak saya tunjukkan kekagetan saya itu. Dalam hati saya ragu: kok Zaki ini kuno banget? Bukankah bisnis percetakan itu suram? Kalah dengan digital?

Saya pun bertanya: punya mesin cetak apa saja?

Yang hidup di benak saya adalah percetakan yang pernah saya kenal. Yang pernah saya masuki. Dengan mesin-mesin cetak seperti itu. Yang belepotan tinta.

Zaki kelihatan bingung menjawab pertanyaan saya. Ia seperti tidak paham: mengapa saya bertanya seperti itu.

Jawaban Zaki sulit saya pahami. Akhirnya saya sadar: inilah gap generation. Zaki adalah generasi melenial. Saya adalah generasi besi tua.

Kata “percetakan” yang hidup di pikiran Zaki tidak sama dengan kata “percetakan” yang ada di benak saya. Saya segera menyadari ketuaan saya.

Baiklah. Ternyata Zaki sedang berbisnis digital printing. Tidak ada mesin cetak dalam pemahaman digital. Memang. Yang ada adalah ‘printer’ dan komputer.

Zaki berbisnis digital printing. Itu karena ia salah satu aktivis LPM Ibrahimy. Lembaga pers mahasiswa itu menerbitkan buletin. Dan majalah dinding. Di situlah Zaki mulai mengenal seluk beluk komputer, desain, printing dan penjilidan.

Ia bisa mengerjakan grafis, bisa membuat desain. Dengan menggunakan software photoshop dan coreldraw.

Suatu saat Zaki jatuh cinta. Pada mahasiswi universitas yang sama. Di semester yang sama. Dari daerah asal yang sama: Banyuwangi Utara.

Di pondok seperti itu hampir tidak ada kesempatan ini: cowok ketemu cewek. Asramanya beda. Meski berdekatan. Ruang kuliahnya terpisah. Aturannya ketat: apalagi urusan cowok-cewek.

Satu kamar tidur isinya bisa 30 orang. Tidak akan pernah tidak ada orang di kamar. Mojok ke mana pun tidak ada yang sepi.Dan… Tidak ada handphone. Santri tidak boleh membawa handphone. Disita. Sembunyi-sembunyi pun pasti ketahuan. Disita.

Pernah ada teknik penyiasatan seperti ini: menitipkan HP di rumah penduduk. Yang berdekatan dengan komplek pondok. Manakala perlu, santri pamit ke rumah tetangga itu.
Ketahuan juga.

Disita.

Lebih baik taat saja.

Itulah sikap semua santri saat ini.

Semua santri tingkat dewasa sebenarnya punya HP. Juga punya account Facebook. Tapi ditinggal di rumah asal mereka. Kelak, kalau liburan, baru dipakai lagi.