Sebuah Catatan: Sepanjang Jalan Pahlawan

707
Aktivitas sejumlah warga di Jalan Pahlawan Kota Pasuruan, Minggu (31/3/2019).
Jalan Pahlawan tak luput dari operasi wajah kota. Di siang terik, nyatanya kini anak-anak sepulang sekolah bisa meluangkan waktu untuk bermain. Hijaunya dedaunan seakan jadi pemandangan baru wajah Pasuruan.

Oleh : Anang Prasetya, S.Pd

PASURUAN adalah kota dengan nilai sejarah yang cukup tinggi. Gedung-gedung tua peninggalan penjajah Belanda adalah saksi nyata bekas kejayaan Pasuruan di masa lampau. Menyusuri Jalan Pahlawan seperti melihat dan mendengar kembali alam zaman Belanda. Tak salah jika Pasuruan menjadikan Jalan Pahlawan sebagai ikon kota yang diharapkan bisa mengangkat kembali pamor Pasuruan sebagai salah satu kota penting di Indonesia.

Pembangunan taman sepanjang Jalan Pahlawan seolah ingin memberitahukan pada dunia, bahwa Pasuruan masih ada dan akan kembali berjaya. Melintas sepanjang Jalan Pahlawan di malam hari membuat kita semakin terpesona. Gemerlap lampu taman sepanjang jalan sungguh membuat hati bahagia. Masyarakat Pasuruan tentu sangat terhibur dan merasa nyaman tanpa harus pergi ke luar kota. Sepoi angin khas kota pesisir membuat suasana semakin nyaman.

Pembenahan infrastruktur telah membuat wajah kota Pasuruan mengalami perubahan. Banyak sarana umum seperti GOR (Gelanggang Olah Raga Untung Suropati) yang berubah menjadi lebih cantik. Monumen Jam serta taman yang indah membuat masyarakat Pasuruan menemukan tempat yang nyaman untuk refreshing. Alun-alun kota Pasuruan juga selalu diperindah mengikuti gaya modern. Banyak masyarakat Pasuruan yang menghabiskan waktu malam Minggu dan Minggu paginya dengan duduk-duduk, bercanda, jalan-jalan di tengah alun-alun kota. Saat ini juga terus dilakukan perombakan-perombakan fasilitas di alun-alun. Mudah-mudahan akan menjadi lebih indah.

Jalan Pahlawan juga tak luput dari operasi wajah kota. Trotoar telah berfungsi ganda. Dibuat lebar sehingga memungkinkan orang untuk jalan kaki dan bisa beristirahat dengan duduk-duduk di kursi dengan ornament lawas. Banyak muda mudi berfoto dan bergaya di sepanjang Jalan Pahlawan.

Ini adalah perkembangan pesat yang tak pernah terbayangkan selama ini. Banyak taman yang dibangun dengan memanfaatkan lahan-lahan kecil menjadi menarik. Pojok Jalan Balai Kota disulap menjadi Taman Sarinah. Monumen perahu serta dihiasi bunga-bunga dan sarana bermain anak membuat Pasuruan semakin indah. Tak puas mata memandang, terkadang saya sempatkan diri untuk menikmati sore sejenak sambil menikmati buaian angin pantai yang kering.

Di siang hari yang cukup terik nyatanya kini sepulang sekolah anak-anak bisa meluangkan waktu untuk bermain. Hijaunya dedaunan serta trotoar yang berfungsi ganda benar-benar merupakan pemandangan baru di wajah Pasuruan.

Pasuruan bukanlah kota yang awam tentang kebersihan, meraih piala Adipura sebagai lambang supremasi tertinggi di bidang kebersihan juga sudah menjadi langganan. Hal ini membuktikan bahwa selama ini sudah terjadi sinergi yang baik antara Pemerintah Kota Pasuruan dengan masyarakatnya.

Pertanyaannya adalah apakah Adipura sudah cukup sebagai bukti tentang keprofesionalan kerja Pemerintah Kota Pasuruan di bidang kebersihan? Apakah Adipura juga sudah sangat mencerminkan karakter masyarakat kota Pasuruan yang sudah memiliki kesadaran yang cukup tinggi terhadap kebersihan?

Sampah dan masyarakat memang tak pernah terpisahkan. Semua aktivitas yang kita lakukan selalu menghasilkan sampah. Sampah berupa bungkus makanan atau daun-daun kering berserakan adalah fakta yang tak dapat dipungkiri sebagai pemandangan sehari-hari. Mulai dari anak-anak kecil sampai orang dewasa juga sangat sering melakukan pelanggaran yang dilakukan secara sadar atau tak sadar. Banyak plakat berupa himbauan untuk tidak membuang sampah terpasang dan terlihat jelas oleh semua orang. Sangat ironis jika di sebelah imbauan untuk tidak membuang sampah justru terlihat seribu sampah.

Lalu apa ini yang terjadi?

Hanya ada dua kalimat yang meluncur dari bibir saya di suatu siang saat melintas di sepanjang jalan Pahlawan “Ini salah siapa dan ini dosa siapa”.

Pedagang tentu sangat senang melihat dan membaca peluang. Saat taman disediakan untuk tempat refreshing dan beristirahat tentu membutuhkan makanan. Maka pedagang kaki lima menganggap ini adalah peluang emas. Mereka hanya mencari keuntungan dan belum berfikir tentang efeknya. Jika mereka kita vonis bersalah maka jawabannya adalah hanya ini jalan satu-satunya untuk mencari nafkah. ke halaman 2