Rekonstruksi Kelenteng Sumber Naga Butuh Rp3 Miliar

0
546

Probolinggo (wartabromo.com) – Perbaikan bangunan kelenteng atau Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga membutuhkan biaya sekitar Rp3 miliar. Namun, rekonstruksi klenteng yang ditetapkan sebagai cagar budaya itu, masih menunggu kajian Pemkot Probolinggo.

Ketua TITD Adi Sutanto Saputro mengakui, pihaknya tengah fokus untuk membangun kembali klenteng yang hangus dilalap si jago merah pada Jumat (17/5/2019) malam tersebut. Dari perhitungan, setidaknya Rp3 miliar dibutuhkan untuk merekonstruksi tempat peribadatannya.

“Sudah banyak dana mengalir ke kelenteng dari perorangan ataupun dari kelenteng seluruh Indonesia. Ada yang nyumbang berupa uang, ada pula berbentuk bahan bangunan. Termasuk sumbangan dari Pemkot,” ujarnya, Selasa (21/5/2019).

Untuk sementara, peribadatan akan dilaksanakan di timur bangunan tengah yang terbakar, sambil menunggu restrukturasi. Tempat tersebut bisa menampung limaratusan jemaat.

Diketahui, klenteng berusia 154 tahun berlokasi di Jalan WR Supratman tersebut, sebagai tempat peribadatan 3 agama, yakni Konghucu, Buddha, dan Tao.

“Klenteng kami dipakai untuk peribadatan umat Buddha, Khonghucu dan Tao. Kalau tahun baru imlek, acaranya dipusatkan di klenteng. Itu kan tahun barunya, orang China,” tambah pengusaha beras ini.

Terkait rekonstruksi, pihaknya akan memperhatikan saran dan permintaan Wali Kota Hadi Zainal Abidin. “Wali Kota dan Wakil Wali Kota Probolinggo sudah tidak kurang-kurang membantu kami. Beliau hadir saat klenteng terbakar sudah lebih dari cukup. Itu semangat bagi kami,” pungkas Adi.

Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin mengatakan, pihaknya akan membentuk tim kajian pembangunan klenteng. Sebab, rumah ibadah tersebut sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. Hasil kajian itulah yang nantinya dijadikan pedoman, saat merestrukturisasi atau membangun kembali klentang yang hangus terbakar.

“Rekonstruksi dan restrukturisasi, menunggu hasil kajian dari Pemkot. Tugas tim kajian ya mengkaji bangunan klenteng, agar restrukturisasinya sesuai bentuk aslinya. Kalau kayunya sulit. Paling tidak, tidak melenceng dari aslinya,” kata Wali Kota Probolinggo. (fng/saw)