Menyimak Cerita Penjaga Kamar Jenazah RSUD Bangil

924
“Bertugas menjaga kamar jenazah seakan selalu menjadi pengingat bahwa kematian mengintai setiap waktu,”

Laporan: Ardiana Putri

MENCEKAM. Mungkin satu kata tersebut bakal dibayangkan orang-orang saat tahu ada orang berprofesi sebagai penjaga kamar jenazah.

Selama 30 tahun menjaga Kamar Jenazah RSUD Bangil, memang menyisakan kisah tersendiri bagi Saiful Arifin. Mulai kisah-kisah penuh misteri hingga sang anak yang tak rela ayahnya bekerja menjadi penjaga kamar jenazah.

Saiful Arifin mungkin bisa dikatakan orang yang bernyali cukup besar. Dari sekian banyak petugas, bapak 2 anak ini betah menjalani profesinya selama berpuluh tahun.

“Memang banyak cerita mistis yang terjadi di Kamar Jenazah ini,” terang Saiful.

Namun pria asal Bangil, Kabupaten Pasuruan inipun abai, tak pernah menghiraukan cerita-cerita yang selalu mendengung di telinganya itu.

Ia hanya seringkali didatangi jenazah yang ia rawat sebelumnya lewat mimpi, dan hal itu dianggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

“Saya anggap biasa, karena saya belum pernah menyaksikan sendiri apa yang diceritakan orang-orang,” imbuhnya.

Berbagai suka duka pasti dialaminya sepanjang menjalani profesi sebagai perawat jenazah. Tak jarang, ia larut dalam kesedihan, meski sadar ia harus tunaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

“Yang jelas ini Ruang Jenazah. Selalu duka, selalu duka. Karena yang kita hadapi orang susah,” ungkap Saiful dengan raut sendu.

Selain harus selalu siap 24 jam bekerja sepanjang waktu, Saiful juga harus bekerja lebih ekstra saat merawat jenazah dengan kondisi yang sudah tak utuh lagi, seperti jenazah korban kecelakaan bahkan telah membusuk berhari-hari.

“Tersentuh hati itu, melihat kalau jenazah yang mengalami korban (kecelakaan/meninggal di luar kewajaran) itu, ya seperti, seusia usia anak kita. Itu otomatis tersentuh,” tuturnya.

Selain tantangannya berkutat dengan berbagai bentuk jenazah, Saiful pun harus menghadapi persoalan lain. Ia harus sabar lantaran anak-anaknya merasa minder bahkan sempat menginginkan Saiful berhenti dan mengambil pekerjaan lain.

Saiful pun tak bisa berkata banyak. Ia hanya berusaha menyakinkan anak-anaknya jika yang dikerjakannya itu pekerjaan baik.

“Saya bilang ke anak saya, ayah ini paling berani daripada orang lain untuk menjaga Kamar Jenazah,” tuturnya.

Alhasil, anak-anak Saiful pun perlahan mulai menerima pekerjaan ayahnya. Bahkan kedua anak Saiful pun dapat mengenyam pendidikan tinggi berkat pekerjaan ayahnya itu.

Sisi positif juga didapat Saiful dari profesinya sebagai penjaga kamar jenazah di RSUD Bangil ini. Ia bersyukur lantaran setiap kali merawat jenazah, ia seakan terus diingatkan, jika kematian seseorang selalu mengintai sepanjang waktu. (*)