Deretan Fakta Menarik Tentang Sumpah Pemuda

415

Pasuruan (Wartabromo.com) – Bulan Oktober menjadi bulan kebangkitan para pemuda Indonesia. Utamanya pada 28 Oktober, dimana lahirlah ikrar pemersatu bangsa Indonesia yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Naskah Sumpah Pemuda tercetus dalam Kongres Pemuda II, kongres pergerakan pemuda Indonesia yang digelar di Batavia (Jakarta) pada 27-28 Oktober 1928.

Nah, untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-91, Wartabromo merangkum dari beberapa sumber fakta-fakta menarik tentang Sumpah Pemuda.

Berikut ulasannya!

1. Awalnya tak disebut sebagai Sumpah Pemuda

Rumusan naskah sumpah pemuda yang dikenal sampai hari ini adalah gagasan Mohammad Yamin. Ada hal yang terkesan unik dalam pembuatan naskah Sumpah Pemuda.

Konon katanya, ketika sesi terakhir Kongres, Mr Sunarjo dari utusan Kepanduan sedang berpidato. Di saat bersamaan, Mohammad Yamin menuliskan rumusan Sumpah Pemuda pada secarik kertas. Kemudian diberikan ke pimpinan sidang, Soegondo Djojopoespito, sambil berbisik “Saya punya rumusan resolusi yang luwes”.

Soegondo kemudian membacakan surat berisi rumusan resolusi dan memandang ke arah Yamin. Mohammad Yamin pun membalas pandangan Soegondo dengan senyuman.

Ternyata, secara spontan, Soegondo membubuhkan paraf “Setuju”. Soegondo meneruskan usul rumusan itu kepada Amir Sjarifuddin yang memandang Soegondo dengan mata bertanya-tanya. Soegondo memberi kode dengan mengangguk. Amir juga memberikan paraf “Setuju”. Begitu seterusnya, sampai seluruh utusan organisasi pemuda menyatakan setuju.

Nah, kejadian spontan itu membuat peristiwa maupun rumusan ikrar Sumpah Pemuda tak memiliki sebutan atau judul tertentu seperti yang kita kenal sekarang.

2. Diikuti sekitar 700 peserta dari berbagai suku di Indonesia

Kongres Pemuda II merupakan cikal bakal Sumpah Pemuda yang diikuti oleh 700 orang dari berbagai suku di Indonesia. Berbagai organisasi pemuda pada waktu itu juga turut berpartisipasi. Antara lain Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), dan Pemuda Kaum Betawi.

Sayangnya, jika merujuk pada daftar hadir, tercatat hanya 82 orang. Itu lantaran Kongres yang dijaga ketat oleh Belanda. Bahkan ketika Kongres ditutup, seluruh dokumen disita polisi Belanda. Nah, sangat mungkin terjadi, bila daftar hadir ratusan peserta lainnya juga turut tersita.

3. Dijaga ketat polisi Belanda dan peserta dilarang mengucap kata merdeka

Penyelenggaraan Kongres Pemuda II tak luput dari halangan penjajah Belanda. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, polisi Belanda melakukan penjagaan ketat. Para pemuda juga dilarang mengucapkan kata “merdeka” dalam forum.

Tapi, para pemuda tak kehabisan akal. Mereka mampu menyiasati keterbatasan tersebut. Hal itu terbukti dari keberhasilan disusunnya ikrar Sumpah Pemuda untuk menyatukan bangsa Indonesia.

4. Para peserta Kongres Pemuda II justru masih menggunakan bahasa Belanda

Meski dalam salah satu rumusan Sumpah Pemuda berbunyi “menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”, nyatanya penggunaan bahasa Belanda masih mendominasi. Misalnya, pada naskah pembicara dan catatan para notulen.

5. Lagu Indonesia Raya diperdengarkan tanpa syair

Nah, fakta yang terakhir ini tak kalah menarik yakni, pertama kalinya dikumandangkannya Lagu Indonesia Raya. Menariknya lagi, lagu ciptaan Wage Rudolf Supratman itu hanya dimainkan dengan instrumen biola, tanpa syair. Mengingat, adanya pengawasan ketat dari polisi Belanda. (bel/may)