Rumah Hantu

1652

Pesan itu masuk ke Ponsel saya ketika saya sedang mengepel kencing Afifah. Saya balas, bahwa Afifah mustahil datang ke kantor besok, karena rumahnya sangat jauh. Si pengirim pesan membalas lagi dengan mengirim sebuah video. Saya putar video itu. Isinya seorang laki-laki sedang berorasi, memimpin demo di depan rumah sakit.

Karena penasaran, saya pun mencari berita di internet dengan kata kunci nama rumah sakit Afifah. Ternyata sudah banyak berita-berita pendek mengenai kejadian itu. Media menyebutkan rumah sakit telah melakukan banyak sekali malpraktik dan lelaki di video yang saya tonton tadi rupanya menuntut tanggung jawab pihak rumah sakit atas hal itu, khususnya para dokter.
Ada foto-foto orang cacat di dalam aksi tersebut, yang menurut media, mereka itu semua korban malpraktik.

Baca Juga :   Perempuan di Pasuruan Ramai-ramai Gugat Cerai Suaminya

Ponsel saya matikan lalu saya naik ke lantai dua. Saya berdiri mematung di pinggir tangga sambil memandangi perempuan yang saya kerangkeng. Celananya basah. Bau pesing menyeruak. Saya dekati dia, dan makin dekat, terdengar ia bergumam lirih: “Tuhan memanggil saya.. Tuhan memanggil saya.. Tuhan masih cinta kepada pendosa…” ke halaman 3

Foto diolah dari PicsArt.

Saya lepaskan rantai besi pada kakinya kemudian berbisik, “Silahkan penuhi panggilan Tuhanmu.” Ia lalu berdiri dan berjalan menuju balkon. Sampai di pagar besi ia tertegun, menoleh ke belakang, menatap saya dengan mata sedih.

Kemudian ia naik ke atas pagar dan berjalan di udara dengan gerak langkah seperti sedang menaiki tangga. Makin lama tubuhnya makin dekat dengan awan dan terlihat seperti titik kecil di langit, sebelum akhirnya hilang sama sekali.

Baca Juga :   Arimbi

Esoknya saya bangun tidur dengan penuh semangat. Saya sarapan dengan nafsu makan seperti binatang, sebab nanti siang ada kegiatan yang akan memakan banyak energi. Saya akan bergabung dengan para demonstran di rumah sakit. (*) ke halaman awal