Karnaval Sound Horeg, Tradisi yang Mulai Meresahkan

5848
Pada beberapa komunitas, secara khusus ada seperti misi untuk menggetarkan rumah, memecahkan kaca hingga merobohkan bangunan. Bisa dibilang misi ini sebagai ajang pembuktian. “Ini lho sound systemku uapik tenan iso sampek menghancurkan rumah tanggamu.”

Oleh: Maya Rahma

AGUSTUSAN ini banyak sekali karnaval di daerah-daerah. Kalau dulu karnaval cuman berpusat di satu tempat, sekarang di tiap desa ada.

Tapi kali ini saya nggak mau bahas tempat karnavalnya, melainkan isian eventnya.

Karnaval di Indonesia identik dengan perayaan kemerdekaan. Makanya kebanyakan karnaval ya mengandung unsur budaya kemerdekaan. Seperti peristiwa bersejarah, pertunjukan sendratari hingga pesta kostum berbagai adat Indonesia.

Itu semua terjadi dulu.

Sekarang, sepertinya sudah terjadi pergeseran budaya. Sebenarnya hal ini oke-oke saja ya kalau memang bagus dan tidak mengganggu. Tapi kalau sudah mengganggu dan merugikan banyak orang, jadinya ya kesal juga.

Dalam hal ini yang saya maksud adalah karnaval sound horeg atau parade sound system. Jujur saja saya baru tahu parade ini ketika harus KKN di sebuah desa. Karena waktu itu di kota kecil saya nggak ada karnaval sound horeg itu.

Baca Juga :   Ini Kata Warga Soal Pemuda Pasuruan Bergaya Papua saat Gerak Jalan

Saya penasaran pengen lihat dan ketika saya tanya, ini adalah parade sound system. Jadi sound systemnya yang jadi fokus. Gimana kualitas suaranya, bassnya, kejernihan suaranya dan lain-lain yang saya kurang menguasai juga penilaiannya.

Jujur saja, karnaval sound system ini bukan selera saya. Apalagi suaranya bikin rasanya jantung duar duar.

Tapi saya masih menaruh respect dengan karnaval sound yang emang judulnya sound system. Khusus buat pertunjukan ini. Bukannya karnaval budaya kemerdekaan yang disisipin sound horeg. Ini yang bikin agak kesal juga.

Ketika kita tahu ada karnaval budaya yang fokusnya adalah kemerdekaan RI, harusnya penampilnya hanya mereka yang konsen di bidang itu. Bukan pemilik sound system horeg yang juga memaksa masuk di sana. Jadinya penonton malah kesal juga. Karena tentu saja, tidak semua “tawar” dengan suara keras dari sound system tersebut.

Baca Juga :   Jangan Lewatkan! Ini Jadwal Karnaval Budaya di Kabupaten Pasuruan

Alhasil kita ikutan ngamuk lah! Kok ya ada sound system bikin dag dig dug der di tengah-tengah jathilan atau ngremo. Jantung ini rasanya mau copot.

Parahnya lagi, karnaval ini juga “sengaja” mempertontonkan sound system over volume ke masyarakat luas. Bahkan di beberapa vlog grup mereka, secara khusus ada seperti misi untuk menggetarkan rumah, memecahkan kaca hingga merobohkan bangunan.

Bisa dibilang misi ini sebagai ajang pembuktian. “Ini lho sound systemku uapik tenan iso sampek menghancurkan rumah tanggamu.”

Ini yang bikin saya tidak habis pikir. Sebab tidak semua orang mau rumahnya hancur gara-gara sound system-mu. Apalagi ini pemilik rumah subsidi pemerintah yang tanpa mbok geber ngunu, rumah-e wis sering bergetar.

Tidak semua orang menyukai volume keras dari sound. Apalagi orang tua yang punya bayi procot merah. Crankynya nggak main-main kalau tiba-tiba ada karnaval budaya yang biasanya suaranya cuman gamelan, ini jadi bass jedag-jedug.

Baca Juga :   Nonton Cek Sound, Dua Pemuda Lekok Dibacok dan Dikeroyok di Kraton

Saran saya untuk para pecinta sound horeg, monggo berevent privat. Saya tahu kalau ini juga jadi salah satu cara Anda untuk promosi sound system terbaik yang Anda miliki. Biar harga sewa jadi lebih tinggi, bisa sering dipakai hajatan dan lain-lain.

Tapi sebaiknya buatlah event pribadi yang memang untuk menyalurkan hal tersebut. Event pribadi ini sebaiknya jauh dari bangunan dan rumah penduduk. Hanya dihadiri oleh orang-orang yang berminat terhadap sound system. Tidak juga di karnaval umum yang melewati rumah banyak orang.

Menurut saya ini bakal bisa tepat guna kalau Anda mau. Karena sampai saya menuliskan ini, masih jarang saya menemukan event sound horeg privasi yang memang khusus buat penikmatnya. Kebanyakan ya berbentuk karnaval baik umum maupun khusus sound. Dan tentu saja melewati permukiman padat penduduk.