Legenda Watu Kenong dan Pengantin yang Hilang

122
Legenda Watu Kenong dan Pengantin yang Hilang

Kotaanyar (wartabromo.com) – Kabupaten Probolinggo, merupakan salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit, pada masa silam. Salah satu legenda yang hingga kini dipercaya masyarakat, adalah kisah Watu Kenong dan pengantin yang hilang.

Lokasinya berada di Desa Pasembon, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo. Ada satu bukit, oleh masyarakat sekitar disebut bukit mantan (berasal dari kata ‘kemantan’ yang artinya pengantin).

“Jadi dulu itu, ada iring-iringan pengantin, saat lewat bukit itu (Bukit mantan), tiba-tiba pengantin beserta seluruh iring-iringannya itu hilang seketika,” tutur salah satu warga, Mahrus, Kamis (23/11/2023).

Tak sampai berhenti disitu. Setelah hilangnya pengantin dan iring-iringannya di wilayah itu, terjadi keanehan lain.

Sekitar 100 meter dari bukit mantan, ke arah selatan, muncul bebatuan besar. Tak sama layaknya batu gunung biasa, di satu sudut batu besar dengan lebar sekitar dua meter dan tinggi empat meter, bisa menghasilkan suara.

Baca Juga :   PT Karyamitra Tunggak Gaji Buruh 6 Bulan hingga Banjir Rob Pasuruan Meluas | Koran Online 16 Jun

Ketika dipukul menggunakan batu besi. “Bunyinya seperti kenong atau gong. Jadi oleh warga sekitar, disebut ‘watu kenong’ atau ‘betoh kenong’.

Anehnya, ketika sudut lain, atau bagian batu yang lain dipukul, tidak keluar bunyi seperti kenong itu. Hanya suara denting layaknya batu biasa.

“Kalau kata leluhur, yang ini laki-laki. Sebelah sana itu, adalah perempuannya. Letaknya di pinggir kali, dan batu yang berbunyi juga lebih banyak. Sama warga disebutnya sebagai yang perempuan (laki-laki atau perempuan yang dimaksud, menjurus pada pasangan pengantin yang hilang misterius),” jelas Mahrus.

Selain itu, pada malam tertentu, tepatnya ketika malam Jumat Legi, biasanya dari area perbukitan watu kenong dan bukit mantan, kerap terdengar suara ringkih kuda.

Baca Juga :   Lumajang dan Probolinggo Berpotensi Tak Menerima Dana Insentif

“Disebutnya sebagai kuda pengiring yang menarik kereta kuda pengantin yang hilang,” tandas Mahrus, yang sejak kecil tumbuh di Desa Pasembon ini.

Kendati menyimpan kisah misteri, namun warga setempat bisa hidup dalam harmoni. Intinya, tetap menjaga warisan leluhur. Termasuk tidak sembarangan atau sopan santun tetap dijaga. Kendati berada di alam bebas. Seperti perbukitan desa setempat atau di tengah hutan sekalipun. (lai/may)