Pasuruan (WartaBromo.com) – Persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi pekerjaan rumah serius di Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan data terbaru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tahun 2026, tercatat sebanyak 19.857 anak di Kabupaten Pasuruan masuk dalam kategori ATS.
Jumlah tersebut menunjukkan masih banyak anak usia sekolah yang belum mendapatkan akses pendidikan secara optimal. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai persoalan ekonomi hingga lingkungan sosial di sekitar anak.
Berikut beberapa penyebab utama anak tidak sekolah yang banyak ditemukan di berbagai wilayah:
1. Faktor Ekonomi Keluarga
Masalah ekonomi masih menjadi alasan paling dominan anak putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan. Banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan seperti membeli seragam, buku, hingga biaya transportasi menuju sekolah.
Tak sedikit pula anak yang akhirnya memilih bekerja untuk membantu perekonomian keluarga dibanding melanjutkan pendidikan. Kondisi ini kerap terjadi pada keluarga dengan penghasilan rendah atau pekerjaan tidak tetap.
Dalam beberapa kasus, anak terpaksa menjadi buruh harian, pekerja informal, hingga membantu usaha orang tua demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.
2. Rendahnya Motivasi dan Kesadaran Orang Tua
Selain faktor ekonomi, rendahnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan juga menjadi penyebab tingginya angka ATS. Masih ada anggapan bahwa sekolah bukan prioritas utama, terutama jika anak dinilai sudah bisa membantu pekerjaan keluarga.
Latar belakang pendidikan orang tua yang rendah turut memengaruhi pola pikir tersebut. Sebagian orang tua juga menganggap pendidikan tinggi tidak menjamin masa depan yang lebih baik, sehingga anak lebih diarahkan untuk segera bekerja dibanding melanjutkan sekolah.
3. Faktor Lingkungan dan Sosial
Lingkungan sosial juga berpengaruh besar terhadap keputusan anak untuk tetap sekolah atau berhenti di tengah jalan. Pengaruh teman sebaya sering kali membuat anak kehilangan minat belajar.
Selain itu, kasus pernikahan dini juga masih menjadi penyebab anak putus sekolah di sejumlah daerah. Budaya masyarakat tertentu yang belum menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan utama turut memperbesar risiko anak tidak menyelesaikan pendidikan dasar maupun menengah.
4. Akses dan Fasilitas Pendidikan Belum Merata
Kendala akses pendidikan masih menjadi persoalan, terutama di wilayah dengan kondisi geografis sulit. Jarak sekolah yang jauh, minimnya transportasi, hingga kondisi jalan yang kurang memadai membuat sebagian anak kesulitan menjangkau sekolah setiap hari.
Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan juga memengaruhi semangat belajar anak. Kondisi ruang kelas yang rusak atau fasilitas belajar yang minim dapat membuat anak enggan melanjutkan pendidikan.
5. Faktor Internal Anak
Penyebab lainnya berasal dari faktor internal anak itu sendiri. Kurangnya minat belajar, rasa malas, hingga pengalaman buruk di lingkungan sekolah menjadi faktor yang cukup sering ditemukan.
Kasus perundungan atau bullying juga menjadi alasan anak memilih berhenti sekolah. Anak yang mengalami tekanan mental di sekolah cenderung kehilangan rasa nyaman untuk belajar.
Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berdampak panjang terhadap masa depan anak dan meningkatkan angka ATS di daerah. (jun)





















