Puspo (WartaBromo.com) – Tradisi jamasan atau pencucian pusaka masih terus terjaga dengan sakral di Desa Kemiri, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Ritual tahunan yang digelar setiap Bulan Suro ini selalu menarik perhatian warga dari berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri.
Sejak Kamis (19/6/2026) pagi, puluhan warga tampak memadati tempat pandai besi Penganti di Desa Kemiri. Mereka datang dari berbagai wilayah seperti Lumajang, Probolinggo, Madura, hingga Kalimantan untuk mengikuti prosesi jamasan pusaka yang telah diwariskan turun-temurun.
Tradisi tersebut dipimpin oleh Muhammad Jufri, Empu Penganti generasi kelima. Sejak dua hari sebelum ritual dimulai, para pemilik pusaka telah menyerahkan benda pusaka mereka untuk dibersihkan. Jumlahnya pun tidak sedikit, mulai dari satu hingga puluhan pusaka milik setiap peserta.
Beragam jenis pusaka dibawa ke lokasi, mulai dari pedang, celurit, pisau, hingga benda-benda kecil seperti cincin dan liontin. Seluruh pusaka terlebih dahulu dikumpulkan di area penempaan yang berjarak sekitar 10 meter dari rumah sang empu.
Di lokasi itu telah disiapkan berbagai sesaji berupa bunga, bubur putih, dan tumpeng sebagai bagian dari rangkaian ritual. Satu per satu pusaka kemudian dibuka, dimasukkan ke dalam gentong berisi air bunga, lalu dibasuh menggunakan minyak wangi.
Karena jumlah pusaka yang mencapai ratusan, proses jamasan diperkirakan berlangsung hingga 10 Suro mendatang.
Muhammad Jufri mengatakan, tradisi ini bertujuan untuk membersihkan sekaligus menyucikan kembali pusaka setelah setahun digunakan dan disimpan oleh pemiliknya.
“Setiap tahun antusiasme masyarakat selalu tinggi. Bahkan ada pusaka yang dikirim dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Kalimantan untuk dijamas di sini,” ujarnya.
Salah seorang peserta, M. Sofyan, mengaku rutin mengikuti ritual tersebut setiap tahun. Ia membawa sejumlah koleksi pusaka Penganti miliknya untuk dibersihkan.
“Jadi, selain sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur, jamasan juga menjadi momentum untuk merawat benda-benda pusaka agar tetap terjaga dengan baik,” jelasnya.
Pusaka Penganti sendiri sudah dikenal luas, terutama di Jawa Timur. Pusaka yang dibuat dari besi aji tersebut dipercaya memiliki nilai sejarah dan filosofi tersendiri. Proses pembuatannya pun dilakukan melalui ritual khusus oleh sang empu, sehingga menjadikannya memiliki daya tarik bagi para kolektor maupun pecinta budaya tradisional. (don)




















