Lekok (WartaBromo.com) – Masyarakat Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan kembali dibuat panik dan ketakutan dengan adanya peluru nyasar yang kembali terjadi di kawasan tersebut.
Kasus peluru nyasar di kawasan sekitar Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) tersebut memang sudah sering terjadi. Kamis (2/7/2026) kemarin peluru nyasar mengenai asbes dan masuk kedalam dapur warga Alastlogo.
Belum genap satu bulan, Rabu (22/7/2026) sekitar pukul 14:00 WIB peluru nyasar kembali mengenai genteng, kandang ternak hingga menancap di tembok rumah warga.
“Tembus genteng rumah, sama tembok mas dan kadang ternak juga,” ujar Solihin warga Alastlogo saat dikonfirmasi.
Yang membuat warga Alastlogo semakin dihantui ketakutan selain karena seringnya terjadi peluru nyasar. Jika sebelumnya penemuan peluru nyasar hanya satu peluru yang ditemukan, kali ini warga langsung menemukan tiga peluru sekaligus.
“Tiga mas yang ditemukan, masih banyak lagi yang tidak di temuakan,” kata Solihin.
Kejadian berulang, membahayakan warga, serta tidak adanya tindakan dan evaluasi dari pihak terkait, membuat Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Eko Suryono memberikan kecaman keras.
“Saya sebagai wakil rakyat mengutuk keras atas kejadian ini, kejadian yang terus berulang tanpa ada evaluasi berarti,” kecamnya.
Ia menegaskan, bahwa dirinya beserta warga setempat tidak ingin adanya evaluasi hingga penghentian latihan militer di kawasan tersebut dilakukan setelah adannya korban jiwa.
Menurutnya beberapa kejadian yang selama ini membuat masyarakat takut hingga mengancam keselamatan masyarakat sudah cukup untuk dijadikan bahan evaluasi dari tempat latihan tersebut.
“Saya tak mau, ada permohonan maaf dan penghentian latihan militer dilakukakan setelah ada korban yang jatuh. Nauzubillah mindzalik!,” tegas Eko.
Eko saat ini masih mensyukuri karena beberapa kejadian peluru nyasar itu tidak sampai memakan korban jiwa. Namun ia berharap negara bisa segera bertindak atas beberapa kejadian yang mengancam keselamatan rakyat.
“Lama-lama menjadi keresahan hingga ketakutan akut bila negara tidak mau melihat fenomena ini sebagai ancaman keselamatan bagi rakyat!,” pungkas Eko. (Fir)




















