Banjir Mengintai, Pemkab Pasuruan Kebut Normalisasi Sungai di 4 Kecamatan

13

Pasuruan (WartaBromo.com) – Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang terendam banjir saat musim hujan. Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) kini mempercepat normalisasi sejumlah sungai untuk mengurangi risiko genangan yang mengakibatkan banjir ketika musim hujan.

Sejumlah pekerjaan normalisasi dilakukan secara serentak di wilayah Kecamatan Rejoso, Kraton, Winongan, hingga Grati. Langkah ini diklaim menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan saluran sungai sebelum curah hujan meningkat.

Di Kecamatan Rejoso, pekerjaan berlangsung di Desa Toyaning dan Arjosari. Sementara di Kecamatan Grati, normalisasi dilakukan di Desa Kedawungkulon dan Kedawung Wetan.

Perwakilan pelaksana proyek dari CV Gatra Ideal, Iqbal, mengatakan pekerjaan di sejumlah titik tersebut sejauh ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. Pihaknya menargetkan normalisasi dapat rampung pada pertengahan Oktober 2026.

“Kami upayakan agar penanganan dapat segera tuntas sebelum curah hujan meningkat,” kata Iqbal Rabu (7/10/2026).

Sementara itu, Kabid Sumber Daya Air Dinas SDABMBK Kabupaten Pasuruan, Bensu Roa Priyadi, mengatakan normalisasi diprioritaskan pada wilayah yang selama ini memiliki potensi dan tingkat kerawanan banjir.

Menurutnya, pengerjaan tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Bupati Pasuruan agar penanganan dilakukan di daerah yang membutuhkan perhatian lebih.

“Sesuai instruksi Bupati, daerah yang selama ini berpotensi dan rawan banjir harus menjadi prioritas penanganan normalisasi,” ujarnya.

Bensu menjelaskan, pendangkalan sungai serta material yang menghambat aliran air dapat memengaruhi kemampuan sungai dalam menampung dan mengalirkan debit air, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.

Karena itu, penanganan dilakukan lebih awal agar aliran air dapat berjalan lebih lancar saat debit meningkat. Normalisasi juga diharapkan mampu mengurangi potensi genangan di kawasan rawan banjir.

“Setelah normalisasi, kami berharap aliran air dapat berjalan lebih lancar sehingga sungai mampu mengalirkan debit air dengan lebih baik ketika hujan turun,” jelasnya.

Namun, normalisasi sungai bukan satu-satunya faktor penentu dalam penanganan banjir. Efektivitasnya juga bergantung pada kondisi saluran secara menyeluruh, pemeliharaan setelah pengerjaan, serta penanganan hambatan aliran air di kawasan hulu maupun hilir.

Di sisi lain, pekerjaan yang ditargetkan rampung pada pertengahan Oktober menyisakan pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk memastikan hasil normalisasi benar-benar berfungsi ketika hujan meningkat. Terlebih, wilayah yang selama ini berulang kali terdampak banjir membutuhkan penanganan yang tidak hanya bersifat sementara.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan kondisi sungai tetap terpantau setelah pengerjaan selesai, sehingga sedimentasi maupun material yang kembali menghambat aliran dapat segera ditangani.

Dengan demikian, normalisasi yang sedang dikebut di sejumlah kecamatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyelesaian proyek, tetapi menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengurangi risiko banjir di Kabupaten Pasuruan. (Fir)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.