Benar! Batin Mahmud Wicaksono. Ini semua gara-gara Donald Trump dan Netanyahu yang cari perkara menyerang Iran, lalu Iran menutup selat Hormuz. Akibatnya, pasokan minyak tersendat, BBM terancam langka, masyarakat panik dan menimbun BBM. Akhirnya, BBM bisa-bisa harganya naik, lalu harga semua barang ikut-ikutan naik dengan alasan suplai barang langka.
Oleh : Abdurrozaq
Jelang hari raya yang seharusnya lapak cukur rambut diserbu pelanggan, Mahmud Wicaksono malah sedih. Lapak cukurnya tetap saja sepi, bahkan lebih sepi dari hari biasa. Sebagai manusia waras, tentu saja ia merasa sangat sedih. Toples kuenya masih banyak yang kosong. Anak dan istrinya belum beli baju lebaran. Ia juga belum punya beras untuk zakat fitrah. Apalagi, angpau lebaran yang sudah menjadi tradisi, ia belum punya uang untuk mempersiapkannya.
Mahmud Wicaksono menatap kosong pada gelas kopinya yang tinggal separuh. Sesekali ia menoleh ke lapak cukur rambutnya yang merana. Kenapa para pelanggan tak ada yang datang? Apakah karena sudah terlalu banyak lapak cukur rambut? Kenapa orang begitu latah membuka usaha serupa dan sama sekali tidak kreatif, misalnya membuka usaha lain? Atau jangan-jangan, para pesaingnya menaburkan lemah kuburan, sehingga lapak Mahmud Wicaksono terlihat selalu tutup, seperti pengakuan beberapa pelanggannya yang tersisa? Bukankah di negara Cak Manap, manajemen bisnis kalah dengan campur tangan demit pelarisan? Atau, itu semua karena Mahmud Wicaksono tidak meng-upgrade skill potong rambutnya, sehingga meski sudah tiga belas tahun menjadi tukang cukur, hasil cukurnya kalah dengan para pendatang baru? Atau, itu karena klipper, mesin cukur rambutnya sudah kurang tajam sehingga para pelanggan kurang puas dengan hasil cukurnya. Mahmud Wicaksono menengadah ke langit, seakan meminta Gusti Allah sudi “menengok” lapak cukur rambutnya yang tetap sepi saat panen tahunan.
Mahmud Wicaksono menghela nafas panjang. Diseruputnya kopi yang hampir tinggal ampas, ia nyalakan batang rokok terakhir. Ini semua gara-gara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, batinnya. Lho kok bisa?
Sebagai analis, eh tukang cukur rambut, Mahmud Wicaksono yakin jika penutupan selat Hormuz juga jadi sebab makin sepinya pelanggan. Mungkin benar seseorang telah nyawuri lemah kuburan di sekitar lapak cukurnya. Benar juga skill nya perlu di-upgrade dan sudah waktunya ia membeli alat cukur baru. Namun jika dianalisa dari sambat para kawannya di warung kopi, ekonomi memang sedang sangat lesu. Laep ini sebenarnya global. Buktinya, Cak Sueb sambat, Wak Takrip lebih jarang tersenyum, Cak Soleh Las mengeluhkan sepinya pelanggan, dan Cak Paijo LSM makin gencar mengawasi berbagai proyek. Hampir setiap dua hari sekali, Cak Paijo LSM menggelar demo –diduga—demi menambah pemasukan. Hanya Gus Karimun yang terlihat tenang meski lebih banyak wiridan.
Benar! Batin Mahmud Wicaksono. Ini semua gara-gara Donald Trump dan Netanyahu yang cari perkara menyerang Iran, lalu Iran menutup selat Hormuz. Akibatnya, pasokan minyak tersendat, BBM terancam langka, masyarakat panik dan menimbun BBM. Akhirnya, BBM bisa-bisa harganya naik, lalu harga semua barang ikut-ikutan naik dengan alasan suplai barang langka. Tapi benarkah? Bukankah kemarin pasukan IRGC mengizinkan kapal tanker Pertamina melewati selat Hormuz? Kalau pasokan BBM aman bahkan masih bisa impor, lalu apa penyebab sebenarnya krisis ekonomi alias laep ini? Apa memang di-setting, apa karena para influencer dan buzzer yang menebar kepanikan di media sosial?
Tak main-main, seorang tukang cukur yang lapaknya selalu sepi, mampu menganalisa pengaruh geopolitik terhadap toples lebaran yang belum terisi. Ini semua, adalah bukti jiki wi-fi colongan, eh gratisan, telah mencerdaskan anak bangsa.
“Kok ngelamun, mas?” tegur Gus Karimun tiba-tiba.
“Sepi, gus. Akhirnya ya ngelamun,” timpal Mahmud Wicaksono lesu.
“Tak doakan dapat rejeki dari jalan lain,” lanjut Gus Karimun mencoba membesarkan hati Mahmud Wicaksono.
“Amin, tapi logiknya dari mana, gus? Wong akhir-akhir ini saya hanya nyukur. Buat konten selalu sepi, jadi malas posting akhirnya,”
“Sampeyan pikir Gusti Allah cuek gitu? Masa sampeyan belum yakin kalau Gusti Allah selalu memperhatikan hamba-Nya?”
“Iya sih, tapi sunnatullahnya, hukum sebab akibatnya kan tidak ada,” bantah Mahmud Wicaksono skeptis.
“Lha anak-anak atau famili para pejabat, apa ada sunnatullahnya menang tender proyek?” ujar Gus Karimun mencoba bergurau.
“Wkkkk, sunnatullahnya ya jadi keluarga pejabat itu, gus,” balas Mahmud Wicaksono.
“Lha, maksud saya, sampeyan itu kan hambanya Gusti Allah, jadi ada sunnatullahnya dong jika diberi rejeki dari jalan lain,”
“Iya juga ya?” jawab Mahmud Wicaksono sedikit terkekeh.
“Ini gara-gara perang di Timur Tengah itu, gus,” ujar Mahmud Wicaksono mencari kambing hitam.
“Ya bukan,” sergah Gus Karimun. “Lha wong cadangan BBM kita masih aman.
“Apa gara-gara MBG?” ujar Mahmud Wicaksono.
“Wis talah, mas. Puasa-puasa jangan ngerasani. Toh semua orang sudah tahu, kok,” lerai Gus Karimun.
“Laep kali ini, itu karena berbagai sebab. Bisa jadi karena kepanikan yang disebar oleh media-media antek asing, narasi sesat buzzer bayaran entah siapa, bisa juga teguran Allah karena kita membiarkan kemaksiatan. Para penguasa korupsi, kita diamkan, para penghianat bangsa adu domba, kita biarkan, kita tak sejalan dengan aturan Tuhan, tenang-tenang saja.”
“Yang penting kita tetap bekerja lah, mas. Soal pesta lebaran, kita rayakan semampunya lah. Lagi pula, musibah kok dirayakan?”
“Hari raya kok dibilang musibah, gus?” ujar Mahmud Wicaksono heran.
“Lha Ramadan berakhir, apa bukan musibah namanya?”





















