Surabaya (WartaBromo.com) – Jagat media sosial dihebohkan dengan kabar dugaan kebocoran jutaan data nasabah Bank Jatim yang disebut-sebut beredar di forum dark web. Informasi tersebut memicu kekhawatiran publik setelah muncul klaim adanya lebih dari 5 juta data pelanggan yang diduga berhasil diakses oleh pelaku kejahatan siber.
Isu itu pertama kali mencuat melalui unggahan akun pemantau aktivitas dark web, @DailyDarkWeb, di platform X. Dalam unggahan yang beredar luas, disebutkan seorang pelaku ancaman siber menawarkan database yang diklaim berasal dari platform mobile banking Bank Jatim.
Akun tersebut menyebut jumlah data yang diduga bocor mencapai sekitar 5,7 juta rekaman dan diklaim berisi berbagai informasi pribadi pelanggan.
“Seorang pelaku ancaman siber mengiklankan database yang diduga terkait dengan platform mobile banking Bank Jatim dengan klaim akses ke sekitar 5,7 juta data rekaman,” tulis akun tersebut.
Dalam unggahan yang beredar, data yang diklaim bocor disebut mencakup berbagai identitas pelanggan, mulai dari nama lengkap, Nomor Induk Kependudukan (NIK), tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, nomor telepon, hingga sejumlah informasi lain yang dikaitkan dengan aktivitas perbankan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada verifikasi independen yang memastikan keaslian maupun sumber data yang diklaim diperjualbelikan tersebut.
Kabar itu pun segera menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial dan memunculkan pertanyaan mengenai keamanan data nasabah di era meningkatnya serangan siber terhadap sektor keuangan.
Bank Jatim Buka Suara
Menanggapi isu yang berkembang, Bank Jatim memastikan telah melakukan langkah cepat dengan melakukan investigasi internal terhadap sampel data yang beredar.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui akun media sosial perusahaan pada Senin (15/6/2026), manajemen menyebut hasil pemeriksaan awal belum menemukan adanya indikasi gangguan terhadap sistem internal Bank Jatim.
“Bank Jatim telah melakukan investigasi terhadap sampel data yang dipublikasikan pada forum dark web. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan hingga saat ini, Bank Jatim tidak menemukan adanya indikasi gangguan terhadap sistem internal Bank Jatim,” tulis manajemen.
Bank Jatim juga menegaskan karakteristik data yang beredar tidak menunjukkan keterkaitan dengan data transaksi nasabah maupun kredensial layanan perbankan yang dimiliki perusahaan.
“Karakteristik data yang beredar juga tidak menunjukkan keterkaitan dengan data transaksi nasabah maupun kredensial layanan perbankan perseroan,” lanjut pernyataan tersebut.
Gandeng BSSN Telusuri Kebenaran Data
Sebagai bagian dari upaya verifikasi dan mitigasi risiko, Bank Jatim mengaku telah berkoordinasi dengan sejumlah lembaga terkait, termasuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Koordinasi dilakukan melalui Cyber Threat Intelligence Sharing (CTIS), platform berbagi informasi ancaman siber yang dikelola BSSN, guna mendukung proses investigasi lebih lanjut.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan validitas informasi yang beredar sekaligus memperkuat sistem pengamanan terhadap potensi ancaman siber yang dapat mengganggu layanan perbankan.
Di tengah ramainya isu yang berkembang, Bank Jatim mengimbau nasabah agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kerahasiaan data pribadi, tidak memberikan kode OTP kepada pihak mana pun, serta hanya mengakses layanan perbankan melalui kanal resmi.
Hingga kini, proses penelusuran terhadap dugaan kebocoran data tersebut masih berlangsung. Bank Jatim menyatakan akan terus menyampaikan perkembangan terbaru kepada publik apabila terdapat hasil investigasi lanjutan yang telah terverifikasi. (saw)





















