Pendaki Asal Sumenep Meninggal di Gunung Argopuro, Diduga Hipotermia

31
Pos perkemahan Rawa Embik Gunung Argopuro di kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang. Foto : tangkapan layar tiktok@wilialdi

Probolinggo (WartaBromo.com) – Pendakian Gunung Argopuro, Jawa Timur, berakhir duka bagi Jailani (26), pendaki asal Kabupaten Sumenep, Madura. Ia meninggal dunia setelah kondisi kesehatannya menurun saat berada di kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Nur Patria mengatakan, Jailani diduga mengalami hipotermia. Kondisinya memburuk sejak berada di kawasan Rawa Embik hingga akhirnya meninggal pada Selasa (5/8/2026).

“Korban mengalami hipotermia. Kondisinya terus menurun sejak 4 Agustus hingga akhirnya meninggal pada 5 Agustus 2026,” kata Nur Patria.

Jailani diketahui mendaki bersama rombongan yang memasuki kawasan konservasi melalui pintu Baderan, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo pada 1 Agustus 2026. Rombongan itu dijadwalkan keluar melalui jalur Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.

Masalah muncul ketika mereka mencapai Rawa Embik yang berada di ketinggian sekitar 2.750 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi fisik Jailani mulai menurun dan gejala hipotermia terus berlanjut ketika rombongan bergerak menuju kawasan Puncak Argopuro dengan ketinggian sekitar 3.088 mdpl.

Melihat kondisi Jailani yang semakin lemah, rekan-rekannya kemudian meminta pertolongan. Laporan diterima petugas Pos Bermi pada 4 Agustus 2026.

Petugas bersama relawan kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Upaya tersebut tidak mudah karena tim harus menghadapi medan pegunungan yang berat serta cuaca yang berubah-ubah.

Proses evakuasi berlangsung hingga 6 Agustus 2026. Setelah berhasil dibawa keluar dari kawasan konservasi, jenazah Jailani kemudian dibawa ke RSUD Waluyo Jati, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, sebelum diserahkan kepada keluarga.

Nur Patria menyebut Jailani telah memenuhi persyaratan administrasi sebelum melakukan pendakian. Ia juga disebut telah mengantongi surat keterangan kesehatan.

“Informasi yang kami terima, korban merupakan pendaki yang sudah melengkapi persyaratan kesehatan. Namun, ketika berada di Rawa Embik, kondisi tubuhnya terus mengalami penurunan,” ujarnya.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena kawasan Gunung Argopuro tengah menghadapi suhu malam yang cukup rendah. Fenomena bediding atau penurunan suhu ekstrem dapat meningkatkan risiko hipotermia bagi pendaki yang tidak memiliki perlengkapan dan kondisi fisik memadai.

Nur Patria mengatakan suhu di sejumlah kawasan pendakian, termasuk Cikasur hingga Taman Hidup, dapat berada pada kisaran 5-7 derajat Celsius.

Karena itu, pendaki diminta tidak hanya memperhitungkan jarak dan ketinggian, tetapi juga kemampuan tubuh menghadapi perubahan suhu serta kondisi medan.

“Pendaki harus mengenali kemampuan fisiknya dan memahami kondisi jalur. Jangan memaksakan perjalanan apabila tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda tidak mampu atau kondisi alam tidak memungkinkan,” katanya.

BBKSDA Jawa Timur juga mengingatkan calon pendaki untuk mempersiapkan perjalanan secara menyeluruh. Persiapan tersebut meliputi kondisi fisik, perlengkapan untuk menghadapi suhu dingin, bekal, hingga pemahaman terhadap karakteristik jalur dan potensi perubahan cuaca. (aly/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.