Api Bromo Padam, Petugas Masih Kejar Bara yang Tersembunyi Untuk Buka Wisata

9

Sukapura (WartaBromo.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, mulai menunjukkan kondisi yang lebih kondusif. Namun, petugas masih melakukan penyisiran dan pendinginan karena bara di sejumlah titik masih berpotensi memunculkan api kembali.

Hingga Minggu (16/8/2026), luas kawasan yang terdampak karhutla tercatat sekitar 1.120,3 hektare. Luasan tersebut belum bertambah karena tidak ditemukan lagi perambatan api.

Komandan Korem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf. Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, fokus tim gabungan kini beralih pada penanganan titik panas dan asap yang muncul dari sisa bara di bawah permukaan tanah.

“Situasi lebih aman, lebih kondusif dalam penanganan karhutla ini. Luas lahan yang terdampak saat ini 1.120,3 hektare dan sampai sekarang tidak bertambah,” katanya di Lembah Watangan, Minggu siang.

Menurut Wahyu, kondisi tanah dan kontur kawasan Bromo yang beragam membuat proses pendinginan tidak dapat dilakukan secara cepat. Bara yang berada di bawah permukaan juga dapat kembali menyala apabila tidak ditangani secara menyeluruh.

Dari pemantauan udara pada Minggu pagi, petugas masih menemukan satu titik asap di kawasan dengan kontur tinggi, sekitar Pusung Duwur dan Bukit Kingkong.

“Kalau tidak ditangani secepatnya, nanti bisa menjadi titik api yang besar. Ini yang kita sisir, termasuk sisa-sisa bara yang berada di dalam tanah,” jelas Wahyu.

Di wilayah Kabupaten Probolinggo, kondisi kawasan Bromo disebut masih aman dan terkendali. Petugas belum menemukan titik api maupun asap di wilayah tersebut.

Meski demikian, pembukaan kembali destinasi wisata belum serta-merta dilakukan. Satgas masih melakukan evaluasi sebelum memberikan rekomendasi pembukaan kepada pengelola kawasan.

Wahyu mengatakan pemetaan kondisi lapangan dilakukan secara berkala. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan apakah kawasan wisata sudah cukup aman dibuka.

“Setiap sore kita akan memetakan data wilayah yang terdampak. Apabila tidak ada dan hasil evaluasi menunjukkan aman, melalui pertimbangan bersama nanti kita akan buka,” katanya.

Sementara untuk pembukaan kawasan Kaldera Bromo secara keseluruhan, keputusan tetap membutuhkan pertimbangan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Proses pendinginan juga masih dilakukan, terutama di lokasi yang sulit dijangkau. Petugas bahkan harus memperpanjang jaringan pipa lebih dari 100 meter dari kendaraan pemadam untuk menjangkau titik tertentu.

“Jadi kami minta waktu karena wilayah jalannya ini wilayah Kabupaten Pasuruan. Kami membutuhkan tempat atau jalan untuk kendaraan pemadam kebakaran dan tangki-tangki air melakukan pendinginan,” ujarnya.

Jika kembali ditemukan titik api atau asap yang membutuhkan penanganan cepat, operasi pemadaman dari udara menggunakan water bombing juga disiapkan. Namun, apabila kondisi tidak memungkinkan, petugas akan mengandalkan penyisiran dan pendinginan dari darat.

TNBTS Tunggu Rekomendasi Satgas
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan pihaknya masih menunggu rekomendasi dari Satgas Penanganan Karhutla sebelum membuka kembali kawasan wisata Bromo.

Setelah rekomendasi diterima, TNBTS akan melakukan pemeriksaan terhadap sarana dan prasarana wisata untuk memastikan seluruh fasilitas siap digunakan.

“Kalau dari Satgas sudah (merekomendasikan), kita pastinya juga akan memastikan lagi sarana prasarananya apakah memang ada yang tidak siap. Kita siapkan dulu, dan nanti akan langsung diumumkan oleh Pak Menteri Kehutanan kapan wilayah ini dibuka,” kata Rudijanta.

Selain aspek keselamatan, TNBTS masih melakukan penghitungan dampak kebakaran. Perhitungan mencakup kerugian lingkungan hingga dampak ekonomi akibat penutupan kawasan wisata.

“Komponennya banyak. Ada kerugian lingkungan, ada kerugian ekonomi. Tidak mudah juga untuk menghitungnya. Nanti pasti akan disampaikan setelah didapatkan angkanya,” jelasnya.

Penutupan kawasan Bromo juga berdampak langsung terhadap wisatawan yang telah memesan tiket. Rudijanta menyebut sekitar 3.000 wisatawan dengan jadwal kunjungan pada 9-15 Agustus terdampak penutupan.

Wisatawan yang terdampak diberikan pilihan untuk melakukan penjadwalan ulang kunjungan (reschedule) atau pengembalian dana (refund) sesuai ketentuan yang berlaku. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.