Pasuruan (WartaBromo.com) – Menjelang Haul Akbar ke-45 yang akan digelar pada, Sabtu (22/8/2026), sosok KH Abdul Hamid atau Mbah Hamid kembali menjadi perhatian masyarakat. Ulama yang dikenal kharismatik ini memiliki perjalanan hidup panjang hingga menjadi salah satu tokoh penuh sejarah keislaman di Pasuruan.
KH Abdul Hamid lahir pada tahun 1333 H di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Ia merupakan putra Abdullah bin Umar, seorang tokoh Islam yang rajin dan taat beragama, dan Raihannah, putri Kiai Shiddiq.
Nama kecilnya adalah Abdul Mu’thi atau biasa dipanggil Dul. Dalam perjalanan hidupnya, nama tersebut kemudian berubah menjadi Abdul Hamid. Terdapat dua versi mengenai perubahan nama tersebut, salah satunya menyebut terjadi ketika ia mondok di Kasingan Rembang sekitar usia 12-13 tahun.
Perjalanan Menjadi Ulama
Perjalanan keilmuan KH Abdul Hamid ditempuh melalui sejumlah pesantren. Setelah belajar di Pesantren Kasingan Rembang, ia kemudian melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Tremas.
Di Tremas, Kiai Hamid tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga dipercaya menjadi lurah pondok setelah lima tahun belajar. Ia kemudian mengajar Ilmu Fiqih, Hadits, Tafsir dan sejumlah ilmu lainnya.
Setelah menikah, perjalanan hidup Kiai Hamid semakin lekat dengan Pasuruan. Ia menikah dengan Nyai H Nafisah bin KH Ahmad Qusyairi bin KH Muhammad Shiddiq pada Kamis, 12 September 1940.
Beberapa bulan setelah menikah, Kiai Hamid diperintah KH Ahmad Qusyairi untuk menggantikan kedudukannya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah. Sejak saat itu, kiprahnya sebagai ulama semakin dikenal masyarakat.
Kiai Hamid juga dikenal sebagai sosok yang tetap tekun menuntut ilmu. Setelah berkeluarga di Pasuruan, ia masih mengikuti pengajian yang diselenggarakan Habib Ja’far bin Syichan Asegaf. Dalam pengajian tersebut, para ulama membahas ilmu diniyah dengan menggunakan kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali.
Mbah Hamid dan Pasuruan
Kehadiran Kiai Hamid di Pasuruan membuat namanya semakin dikenal sebagai ulama yang dihormati. Berbagai kisah tentang keteladanan dan karamahnya kemudian berkembang di tengah masyarakat.
Dalam buku Ziarah Wali Kiai Hamid Pasuruan dan Tradisi Islam Nusantara karya Dr. Badruddin, M.HI, disebutkan sejumlah kisah karamah Mbah Hamid, salah satunya weruh sakdurunge winarah atau mengetahui sebelum kejadian.
Sosok Mbah Hamid kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan masyarakat Pasuruan. Setelah wafat, makamnya di kompleks makam sebelah barat Masjid Jami Al-Anwar Pasuruan juga terus menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah.
Wafat pada 1982
Mbah Hamid wafat pada Sabtu, 25 Desember 1982 pukul 03.00 WIB atau dini hari. Ia wafat pada usia 70 tahun dalam hitungan Hijriah.
Kabar wafatnya segera menyebar dan membuat umat berdatangan dari berbagai penjuru. Jumlah pelayat begitu banyak hingga proses membawa keranda dari rumah menuju masjid membutuhkan waktu sekitar dua jam.
Setelah shalat Ashar yang diimami KH Ali Ma’shum, Kiai Hamid dimakamkan di kompleks makam sebelah barat Masjid Jami Al-Anwar Pasuruan.
Hingga kini, makam Mbah Hamid tetap ramai dikunjungi peziarah lokal maupun luar kota. Kawasan sekitar makam juga menjadi ramai terutama setiap malam Jumat Legi.
Nama Mbah Hamid kembali menjadi perhatian menjelang Haul Akbar ke-45 Mbah Hamid atau KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar yang akan digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, bertepatan dengan 9 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Haul tersebut menjadi momentum bagi masyarakat dan para peziarah untuk kembali mengenang sosok KH Abdul Hamid serta perjalanan hidupnya sebagai salah satu ulama yang memiliki tempat khusus di hati masyarakat Pasuruan. (Jun)





















