Rutan Kraksaan Ajari Warga Binaan Membatik, Bekal Hidup Setelah Bebas

13

Kraksaan (WartaBromo.com) — Pelatihan membatik bagi warga binaan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, berakhir pada Rabu (26/8/2026). Kegiatan ini tak sekadar mengajarkan cara menorehkan malam di atas kain. Rutan berharap keterampilan itu menjadi modal ekonomi ketika warga binaan kembali ke masyarakat.

Pelatihan tersebut digelar bersama Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Probolinggo dan Batik Ronggo Mukti. Peserta mendapat kesempatan mempelajari keterampilan membatik yang bisa dikembangkan menjadi pekerjaan atau usaha mandiri.

Kepala Rutan Kraksaan, Galih Setiyo Nugroho, mengatakan pembinaan warga binaan semestinya tidak berhenti pada pemenuhan kegiatan selama berada di dalam rutan. Mereka perlu dibekali kemampuan yang dapat digunakan setelah kembali ke lingkungan sosialnya.

“Kami ingin keterampilan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti sebagai pengalaman. Ini harus bisa menjadi bekal untuk berkarya dan membangun kemandirian ketika mereka kembali ke masyarakat,” kata Galih.

Menurut dia, keterampilan produktif menjadi salah satu bagian dari proses mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana. Membatik dipilih sebagai salah satu kegiatan karena memiliki nilai seni sekaligus peluang ekonomi.

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Probolinggo, Iin Kasiani, mengatakan kemampuan yang diperoleh peserta dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan.

“Keterampilan membatik bisa menjadi pintu masuk untuk bekerja atau membangun usaha sendiri. Yang penting, kemampuan ini terus dilatih dan tidak berhenti ketika pelatihan selesai,” ujar Iin.

Peluang tersebut terbuka apabila keterampilan teknis disertai kemauan untuk mengembangkan produk. Batik tidak hanya membutuhkan kemampuan membuat motif, tetapi juga ketekunan untuk menghasilkan produk yang memiliki daya tarik dan nilai jual.

Batik tulis hasil karya warga binaan Rutan kelas 2B Kraksaan

Pelatih sekaligus pemilik Batik Ronggo Mukti, Mahrus Ali, meminta peserta terus berlatih agar kemampuan yang diperoleh tidak hilang setelah pelatihan berakhir. Apalagi pelatihan tersebut berlangsung singkat.

“Kemampuan membatik akan berkembang melalui praktik. Semakin sering diasah, semakin baik pula hasil karya yang dihasilkan,” kata Mahrus.

Bagi Rutan Kraksaan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya mengubah masa pembinaan menjadi kesempatan untuk menyiapkan masa depan.

Warga binaan tidak hanya diarahkan untuk menjalani masa pidana, tetapi juga dipersiapkan agar memiliki kemampuan ketika kembali ke masyarakat.

Keterampilan membatik menjadi salah satu jalan menuju tujuan itu. Kain yang semula hanya menjadi media latihan diharapkan dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembinaan bukan sekadar berapa banyak kegiatan yang diselenggarakan. Yang lebih penting adalah apakah keterampilan tersebut dapat menjadi bekal bagi warga binaan untuk kembali bekerja, berusaha, dan menjalani kehidupan secara mandiri setelah bebas. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.