Sisi Muktamar NU yang Luput dari FYP

54

Aku tidak tahu apakah cerita itu seluruhnya benar. Tetapi aku kira, dari cerita tersebut ada sesuatu yang patut kita renungkan bersama-sama.

Oleh: Vaurak Tsabat*

Barangkali aku termasuk salah satu dari sekian anak muda NU yang tidak terlalu tahu-menahu tentang “tukaran” para elite menjelang Muktamar ke-35 NU.

Bukan karena tidak peduli NU. Justru karena terlalu peduli, aku merasa tidak semua urusan NU harus kita masuki.

Biarlah urusan “tukaran” itu diselesaikan oleh orang-orang yang memang berkepentingan dengan urusan itu. Anak-anak muda NU, kalau boleh, cukup mengetahui faktor-faktornya. Bukan untuk ikut bertengkar, tetapi untuk belajar: mengapa orang-orang tua bisa bertengkar, dan bagaimana supaya kelak ketika kita menjadi orang tua, kita tidak mengulangi pertengkaran yang sama.

Aku malah lebih tertarik pada sesuatu yang agak sepi dari perhatian publik: Bahtsul Masail.

Ini agak ironi memang. Muktamar NU adalah forum tertinggi organisasi. Tetapi menjelang Muktamar, perhatian orang justru lebih banyak tertuju kepada pertanyaan: “Siapa yang akan jadi ketua?”

Sementara pertanyaan yang dibahas para kiai dan intelektual NU: “Bagaimana seharusnya umat menghadapi zaman yang terus berubah?”, menurut pandanganku, jauh lebih menentukan umur panjang NU.

Dalam Bahtsul Masail Muktamar ke-35 mulai besok ini, NU akan membicarakan isu-isu yang cukup menarik dan mungkin terdengar asing bagi sebagian orang pesantren.

Misalnya, di Komisi Waqi’iyyah, ada pembahasan tentang hukum cryptocurrency, komersialisasi data genetika (DNA), hingga keberadaan chip Neuralink di otak manusia. Di komisi ini, fiqh diajak berdialog, atau bahkan berbenturan, dengan kegilaan teknologi modern.

Di Komisi Qanuniyyah, ada pembahasan tentang RUU sistem Pendidikan nasional, RUU Ketenagakerjaan, dan Qanun Aceh tentang hukum jinayah.

Di Komisi Maudlu’iyyah, ada pembahasan tentang konsep I’adatan-Nadzhar (peninjauan ulang) atas keputusan keagamaan NU, integrasi zakat-pajak (tax credit), hingga mempertanyakan kembali: apa sesungguhnya nilai dan hakikat keulamaan NU hari ini?

Artinya, NU sedang mengerjakan sesuatu yang sangat serius: mencari bahasa keagamaan untuk menjawab persoalan dunia yang bahkan belum tentu dikenal oleh para ulama terdahulu. Dan di situlah menariknya Bahtsul Masail.

Ia bukan sekadar forum untuk mencari halal-haram. Ia adalah tempat di mana teks agama, tradisi keilmuan, kenyataan sosial, ilmu pengetahuan, dan kepentingan masyarakat dipertemukan. Karena itu, perdebatan di dalamnya kadang lebih rumit daripada perdebatan tentang siapa yang akan duduk di kursi kekuasaan.

Sayangnya, kerumitan semacam ini memang kurang menarik untuk diberitakan. Orang lebih mudah tertarik konten berjudul: “Siapa calon Ketum NU?” Daripada: “Bagaimana hukum komersialisasi data DNA manusia?”

Padahal yang pertama mungkin hanya menentukan siapa yang duduk di kursi selama lima tahun. Yang kedua bisa menentukan bagaimana NU memandang masa depan manusia.

Guruku, KH. Muhib Aman Ali pernah bercerita:

“Dulu di zamannya para mu’assis, ketika akan muktamar, yang kan jadi topik pembahasan warga NU adalah seputar masalah-masalah yang bakal dibahas di muktamar nanti. Tema seputar siapa yang bakal terpilih tidak begitu diminati.”

Aku tidak tahu apakah cerita itu seluruhnya benar. Tetapi aku kira, dari cerita tersebut ada sesuatu yang patut kita renungkan bersama-sama.

Mungkin ada yang isykal: setelah keputusan Bahtsul Masail ditetapkan, lalu apa?
Pertanyaan ini wajar. Sebab keputusan yang hanya berhenti menjadi kertas memang tidak banyak gunanya.

Tetapi Bahtsul Masail tidak seharusnya dipahami sebagai forum yang selesai ketika palu sidang diketukkan. Hasilnya dapat menjadi bahan rekomendasi, masukan kebijakan, dan pijakan bagi NU dalam merespons persoalan publik. Dalam isu regulasi, misalnya, pembahasannya memang diarahkan untuk memberikan catatan dan pandangan terhadap kebijakan negara.

Hanya saja, sesuatu itu tidak selalu langsung kelihatan besok pagi. Sebab keputusan keagamaan kadang bekerja seperti benih. Ia tidak gaduh ketika ditanam. Tidak masuk fyp tiktok ketika tumbuh. Tetapi bertahun-tahun kemudian, orang baru sadar bahwa ada perubahan yang pernah dimulai dari sebuah meja musyawarah.

Walhasil, menjelang Muktamar ke-35 NU ini, aku kira tidak ada salahnya kita sedikit menggeser perhatian. Tidak harus meninggalkan urusan suksesi. Itu juga penting. Tetapi jangan sampai NU hanya menjadi menarik ketika orang sedang berebut siapa yang akan memimpinnya.

NU juga harus “seksi” dan menarik ketika para ulama dan warganya sedang memikirkan ke mana manusia harus dibawa oleh perubahan zaman.

Begitu.

Menariknya lagi, konon kabar yang berembus, pintu komisi Bahtsul Masail besok tidak sedingin dan sekaku komisi-komisi lain. Tak perlu syarat ID Card yang membatasi, tak perlu verifikasi berbelit yang memisah-misahkan. Yang penting Anda merasa menjadi bagian dari warga NU dan membawa ketulusan untuk thalab al-‘ilmi, Anda boleh masuk.

Kalau kabar itu benar, ya sudah. Buat apa kita melototi panggung politik yang bikin gerah? Mari kita melangkah ke majelis Bahtsul Masail di Muktamar NU besok. Kita nyruput kopi bareng, duduk lesehan di dekat kiai-kiai alim, lalu kita nikmati indahnya bertukar nalar dan kesadaran di sana.

*) Vaurak Tsabat
(Muhadlir Ma’had Aly Besuk, Wakil Sekretaris LBM PWNU JATIM)
13 Rabiul Awal 1448 H
Perjalanan Pasuruan-Jombang

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.