Peluncuran skuad mewah Persekabpas Pasuruan untuk mengarungi Liga 3 Nusantara musim 2026/2027 di Taman Candra Wilwatikta, Pandaan, Senin 26 Oktober 2026 berhasil menyihir ribuan Sakeramania.
Dipilihnya pemain dan kehadiran sponsor dari investor baru dengan rencana nilai investasi triliunan di Pasuruan seperti PT Mulia Anugrah Bhumi (MAB) Dairy Farm dan PT Surabaya Aluminium Industry (SAI) membawa angin segar yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Namun, di balik riuh rendah komitmen politik “naik kasta”, sebuah catatan kritis mengenai tata kelola dan masa depan industrialisasi sepak bola daerah tetap menarik untuk dibedah.
Langkah strategis CEO Persekabpas, Rusdi Sutejo, memindahkan “otak” di balik layar kesuksesan Pasuruan United patut diacungi jempol. Duet Suryono Pane (kini Presiden Klub) dan Bayu Aji Handayanto (kini Managing Director) diboyong langsung beserta gerbong teknisnya, termasuk jajaran dan sang pelatih, Bio Paulin.
Keberhasilan mereka mengantarkan Laskar Santri Mbeling menembus ketatnya kompetisi kasta keempat musim lalu bukan sekadar kebetulan, melainkan bukti cetak biru manajerial yang matang. Ketika gerbong sukses menjuarai liga 4 ini dialihkan untuk menakhodai Persekabpas, publik menangkap sinyal jelas: Laskar Sakera sedang melakukan replikasi kesuksesan demi membangkitkan sang raksasa tidur.
Lompatan profesionalisme Persekabpas sejatinya bukan hal yang instan. Sejarah mencatat, klub kebanggaan warga Kabupaten Pasuruan ini telah menanggalkan baju amatirisme perserikatan sejak akhir 2024 dengan mendirikan PT Persekabpas Laskar Sakera di bawah kendali Gaung Andaka dan Udik Djanuantoro.
Namun, transformasi paling radikal terjadi melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) awal 2026, yang melahirkan PT Pasuruan Bangkit Bersama. Sebuah langkah akuisisi dan peralihan saham yang membuktikan bahwa korporatisasi Persekabpas kali ini bukan sekadar urusan formalitas administrasi demi memenuhi regulasi. Ini adalah deklarasi agresif untuk menyuntikkan modal segar dan memperluas ambisi industri di bawah kendali manajemen yang baru. Termasuk, rencana integrasi korporasi menuju pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus olahraga menjadi visi jangka panjang yang sangat dinanti. Struktur BUMD itu kelak penting diwujudkan agar kepemilikan klub benar-benar menjadi aset daerah yang akuntabel secara hukum, bukan sekadar ‘kendaraan investasi musiman’ yang rentan berpindah tangan.

Keberadaan figur Bupati di kursi CEO tak dimungkiri membawa daya tawar makro yang luar biasa. Komitmen politik yang kuat telah bertindak sebagai katalisator, membuka pintu gerbang bagi korporasi kakap berskala triliunan untuk mendukung Persekabpas di lapangan hijau. Tanpa adanya pengaruh politik kepala daerah, akan sangat sulit menarik perhatian investor raksasa luar daerah untuk melirik klub Liga 3.
Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana memanfaatkan momentum emas ini sebagai ‘jembatan’. Kuasa politik hari ini harus digunakan untuk membangun ekosistem bisnis mandiri—seperti tata kelola merchandising, kemitraan strategis, pembinaan usia muda, dan komersialisasi aset. Tujuannya jelas: agar saat konstelasi politik kelak berubah dan masa jabatan habis, Persekabpas telah memiliki kaki-kaki finansial yang cukup kokoh untuk berdiri sendiri secara industri.
Ujian terdekat dari model tata kelola ini justru akan tersaji di lapangan hijau. Keberadaan Persekabpas dan Pasuruan United dalam satu grup kompetisi—dengan kepemimpinan daerah yang saling silang (Bupati di Persekabpas dan Wakil Bupati di Pasuruan United)—secara otomatis meletakkan beban psikologis dan sorotan tajam publik sepak bola nasional terhadap integritas kompetisi.
Di sinilah marwah fair play dipertaruhkan. Derby Pasuruan mendatang harus menjadi panggung pembuktian bahwa persaingan di atas lapangan tetap berjalan secara profesional, sengit, dan terhormat.
Industrialisasi sepak bola daerah bukan sekadar tentang membeli pemain bintang atau memajang logo sponsor di dada jersey. Ia adalah tentang membangun kultur olahraga yang sehat dari hulu ke hilir. Euforia perkenalan skuad baru ini adalah bahan bakar, dan nalar kritis publik adalah kemudinya.
Sakeramania tentu tidak hanya mendambakan Persekabpas yang sekadar naik kasta secara instan, namun sebuah klub kebanggaan yang sehat secara finansial, profesional secara tata kelola, dan abadi melintasi berbagai era kepemimpinan. (red)



















